logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Juli 2006 RAGAM
Line

TASAWUF interaktif

Empati Kebutuhan Psikologis dan Biologis

TANYA : Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya telah berumah tangga sekitar 12 tahun, dikaruniai 4 anak yang sehat dan cerdas. Setelah lahir anak ke empat, istri saya pakai KB spiral. Sekarang setelah 4 tahun berlalu, saya ingin istri saya tidak ikut KB lagi. Tapi dia tidak mau dengan alasan takut hamil lagi. Saya jelaskan kepadanya bahwa hamil tidaknya seseorang adalah hak Allah. Berdosakah istri saya jika menolak ajakan saya?

Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Roben Semarang

JAWAB :

Pak Roben, mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia adalah harapan setiap orang. AlQuran (QS al-Rum/30: 21) sendiri menegaskan salah satu tanda kekuasaan dan kebesaran Allah adalah manusia diciptakan secara berpasangan. Semua ini dimaksudkan agar kita mendapatkan ketenangan dan ketenteraman hidup, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Di samping itu salah satu tujuan berkeluarga adalah menjaga kelangsungan generasi. Rasulullah pernah menegaskan tanakahuu tanasaluu (menikahlah agar kau mendapatkan kelangsungan generasimu).

Berkeluarga mula-mula adalah menyatukan dua pribadi. Dengan bersatunya ini diharapkan berbagai kelemahan dan kekurangan yang terdapat pada keduanya bisa saling ditutupi. Keduanya saling mengisi, saling memberi dan menerima. Kemudian dengan bertambahnya anggota keluarga, kondisi sakinah, mawaddah wa rahmah tentu saja tidak bisa tercipta begitu saja tanpa adanya usaha atau keterlibatan dari seluruh komponen keluarga.

Seorang bapak/suami yang bijak yang mampu mengayomi dan mendidik, seorang ibu/istri yang teduh memberikan curahan kasih saying, anak-anak yang menjadi permata hati yang selalu menghormati dan patuh kepada orang tua serta mencintai antara sesama saudara.

Jika ketenteraman keluarga erat kaitannya dengan aspek psikologis, maka proses regenerasi erat kaitannya dengan kebutuhan biologis manusia. Oleh karena itu, dua hal ini menjadi bagian sentral dalam perkawinan.

Perkawinan sering menjadi hancur di tengah jalan karena tidak terpenuhinya salah satu atau kedua kebutuhan ini. Itulah sebabnya maka maka Rasulullah mengajarkan tentang keharusan seorang istri taat secara proporsional kepada suami - khususnya dalam masalah keinginan biologis, dan suami harus bertanggung jawab dan melindungi istri. Akan tetapi, tentu saja kurang bijak jika hal ini dipahami sebagai alat untuk melegitimasi dan memaksakan kehendak kepada istri tanpa mempertimbangkan perasaan istri. Sesungguhnya suami dan istri mempunyai kedudukan yang sama. Alquran menegaskan bahwa Bagi laki-laki apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan apa yang mereka usahakan. Oleh karena itu, agar kehidupan rumah tangga menjadi kehidupan yang sakinah mutlak dibutuhkan komunikasi yang harmonis, saling mengerti, saling memahami dan saling menghormati antara kedua belah pihak (suami-istri).

Dalam kerangka ini alasan-alasan penolakan tertentu yang diutarakan oleh salah satu pihak atas permintaan dari pihak lain bisa dipahami dengan baik dan diterima dengan penuh keikhlasan.

Prinsipnya, segala apa yang terjadi dalam kehidupan ini sesungguhnya adalah kehendak Tuhan. (Innallaha ala kulli syaiin qadir). Akan tetapi perlu dipahami bahwa Allah juga menetapkan sarana yang seharusnya dilakukan manusia, sekalipun tidak setiap sarana itu pasti bisa membawa kepada tujuan yang ingin dicapai.

Seseorang akan menjadi kaya tentu saja melalui sarana kerja, seseorang menjadi pandai melalui sarana belajar. Nabi Muhammad SAW juga permah mengajarkan kepada kita tentang tawakal melalui dialog yang menggambarkan betapa bertawakal perlu berbuat sesuatu terlebih dahulu. Dialog itu ringkasnya demikian

"Kenapa untamu tidak kau ikat"

"Aku bertawakal kepada Allah"

"Ikat untamu, barulah bertawakal"

Dialog Rasulullah dengan seseorang di atas menggambarkan betapa sering tawakal dipahami dan dimanifestasikan secara berbeda. Bahkan sampai sekarang. Hal ini tentu saja berakar pada pemahaman bahwa tawakal sangat erat kaitannya dengan takdir. Memang keyakinan utama yang mendasari sikap tawakal adalah keyakinan sepenuhnya akan kekuasaan dan Kemahabesaran Allah. Di dalam batin seseorang yang bertwakal tertanam kuat bahwa segala sesuatu terletak di tangan Allah SWT dan berlaku atas ketentuannya. Tidak seorang pun dapat berbuat dan menghasilkan sesuatu tanpa izin dan kehendak Allah, baik hal-hal yang memberi manfaat atau madarat

Menurut al-Ghazali, pendapat yang mengatakan bahwa tawakal adalah meninggalkan usaha badaniah dan tadbir (memutuskan) dengan hati merupakan pendapat yang tak paham agama. Menurut dia, tawakal dalam pengertian berusaha dan pasrah adalah orang-orang yang terpuji.

Ringkasnya, menggunakan alat kontrasepsi KB bagi istri perlu dilihat dari berbagai aspek. Misalnya faktor usia, kerepotan dan sebagainya, toh Anda sudah dikaruniai 4 anak yang sehat dan cerdas. Demikian. Saya berdoa semoga keluarga Anda menjadi keluarga yang sakinah selamanya. Wallahu a 'lamu bish shawab (11).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA