logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Juli 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Larangan Beri Uang kepada Anak Jalanan

Membaca Tajuk Rencara Suara Merdeka beberapa waktu lalu tentang larangan memberi uang kepada anak jalanan, saya ingin urun rembuk. Memang anak jalanan, pengemis dan gelandangan merupakan salah satu masalah sosial yang dihadapi kota-kota besar termasuk Kota Semarang.

Di kota ini terdapat sekitar 600 anak jalanan yang mangkal di beberapa jalan utama dan lampu merah, sehingga Pemkot merasa perlu membuat perda. Hal ini dapat dimengerti, sebagai upaya memutus ketergantungan para anak jalanan terhadap bantuan orang lain.

Namun apakah peraturan tersebut akan menjamin keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum sehingga tujuannya tercapai. Yang menjadi pertanyaan, apakah Pemkot telah melakukan penelitian sehingga diputuskan membuat kebijakan seperti itu.

Kalau belum, apakah tidak lebih Pemkot bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi (akademisi), LSM (mewakili masyarakat ) dan para pengusaha (diharapkan sebagai penyandang dana) mengadakan penelitian akar masalah anak jalanan serta mencari jalan keluarnya.

Kebersamaan hendaknya menjadi dasar kebijakan karena merupakan aktualisasi nilai-nilai Pancasila yang seharusnya selalu kita terapkan. Elemen masyarakat diajak bicara dan ikut bertanggung jawab terhadap eksistensi kotanya. Bila Pemkot telah menyediakan lima rumah perlindungan sosial/rumah singgah, ini pun perlu dievaluasi mengapa tidak berfunggsi.

Mari seluruh warga saiyek saekoproyo, bersatu padu membangun Kota ATLAS tercinta ini. Semua itu dapat dilakukan secara profesional dan serius, semoga Kota Semarang betul-betul menjadi kota yang aman, tertib, lancar, asri dan sehat

Soeyono SH CN

Jl Kruing Brt Dlm I/93, Semarang

***

Polisi dan Pencuri

Kata orang, pencuri akan selalu mencari celah untuk mengelabui polisi sehingga ada yang menyatakan pencuri selangkah lebih maju dibanding polisi. Hal tersebut adalah tamsil untuk mempersonifikasikan antara tindak kejahatan dengan aparat penegak hukum.

Kita boleh punya UU Antikorupsi (1971, 1999, 2001) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tapi selama masih ada 2 unsur vital yaitu niat dan kesempatan maka kriminal akan tetap terus lestari. Dicetak UU seperti apa pun dan komisi macam apa pun tidak akan banyak membantu bila masih ada niat melawan hukum dan ada kesempatan melakukan.

Makin tinggi SDM pelaku, makin canggih modus operandinya. Bila dipersentase kuantitas white collar crime memang sedikit, tapi hasil jarahannya naudzubillah... Sebaliknya blue collar crime kuantitasnya banyak, namun nominalnya kecil. Masih digebuki lagi.

Yang perlu didalami lagi adalah firman Allah SWT dalam QS Al Aanfaal (8): 27 yang artinya, ''Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui''.

Sayang kita masih belum bisa memahami dan menafsirkan arti/makna sebuah amanah. Bukan hendak memperbandingkan bila Robert N Bellah, ahli sosiologi agama lewat bukunya Beyond Believe memuji Nabi Muhammad SAW sebagai peletak dasar konsep masyarakat madani.

Beliau benar-benar berhasil merepresentasikan pada masyarakat Kota Madinah yang oleh Bellah disebutnya sebagai masyarakat pada zamannya termasuk modern, bahkan terlalu modern. Padahal saat itu Nabi Muhammad SAW adalah kepala eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tapi diakui memang dunia ini sarat dengan kenikmatan walau cuma semu.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Beli Motor Tossa

Saya beberapa waktu lalu mengajukan pembelian motor Tossa Super Hercules di Tossa Anjasmoro Ambarawa secara kredit (bukti terlampir). motor datang serta dijanjikan 3 minggu STNK keluar. Saat saya tanyakan ke dealer setelah waktu yang dijanjikan ternyata belum jadi dengan alasan ada kesalahan faktur.

Pertanyaan, kenapa setelah 3 minggu baru ketahuan fakturnya salah. Itu pun setelah konsumen menanyakan. STNK baru saya terima 12 Juni 2006 (1 bulan 3 minggu). Dalam kurun waktu pendek tersebut motor sering macet, rusak mulai dari listrik sampai mesin.

Bahkan sampai surat ini saya kirim 16 Juni 2006, motor saya berada di dealer dalam kondisi rusak dan nunggu onderdil. Saya membeli motor untuk usaha sehingga saya dirugikan. Apalagi angsuran tidak bisa ditunda, sedang motornya rusak. Saya imbau masyarakat berhati hati memilih motor dan dealer.

Agus Irwanto

Duren Rt 3/Rw 3, Ambarawa

***

Film yang Mendidik

Pada saat berdiskusi tentang proses kreatif menulis naskah drama di kelas, seorang siswa bertanya: "Karya sastra baik itu yang bagaimana, Pak?" Terus terang saya gelagapan dan khawatir, jawaban saya terlalu subjektif.

"Karya sastra yang baik adalah yang jujur, yang akan kamu temukan jika banyak membaca karya sastra tulisan para pengarang besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Romo Mangoenwijaya, WS Rendra dan pengarang kelas dunia lainnya," jawab saya.

Saya bersyukur, jawaban saya kurang memuaskan, penasaran, terlihat dari sorot matanya. Karena itu, saya menyarankan agar dia lebih banyak bergelut, tidak hanya dengan teks-teks sastra, tetapi juga pementasan sastra, terlebih dengan kehidupan nyata.

Beruntung saya memiliki contoh film bagus Ujang Pantry, satu dari sekian sinema dalam acara sinema di TV. Menurut saya, sinema ini digarap dari naskah yang jujur dan dikerjakan dengan jujur pula. Alurnya tidak menawarkan mimpi. Bercerita tentang Ujang yang office boy yang berhasil memikat bosnya dengan kepolosan, ketulusan dan kearifannya.

Nah, film sebagai visualisasi karya sastra yang banyak digemari remaja, hendaknya dikemas bukan saja sebagai media hiburan, melainkan terutama sebagai media pendidikan. Dengan demikian, film yang mendidik adalah film yang dengan jujur mengajarkan arti empati, toleransi, pluralisme dan nasionalisme.

Suharyono SPd

Jl Manggar Rt 4/Rw 2, Juwana

***

Bangkitlah Dunia

Pendidikan Indonesia

Dunia pendidikan Indonesia menurut pandangan para ahli berada pada level yang memprihatinkan. Berbagai survei dari lembaga riset dunia menunjukkan, kita berada pada posisi buncit dari banyak negara. Hal ini membuat banyak pelajar kita pilih melanjutkan studi ke luar negeri.

Mereka yakin bisa mendapatkan pendidikan berkualitas dibandingkan di negeri sendiri. Tetapi, keyakinan mereka tidak sepenuhnya benar. Kenyataannya, banyak pelajar yang bersekolah ke luar negeri bukan berasal dari sekolah ternama atau menonjol dari segi akademis.

Banyak di antaranya karena faktor gengsi meski mereka dapat mengikuti pelajaran di universitasnya. Hal yang membanggakan, dari pengakuan mereka ternyata pelajaran SMA di luar negeri setara dengan SMP di Indonesia. Jadi tidak ada salahnya para pelajar lebih cermat.

Tidak semua universitas di luar negeri bermutu lebih unggul dibandingkan universitas di Indonesia. Semua tergantung universitas mana yang mereka pilih dan yang penting menyadari bakat dan kemampuannya. Jangan hanya gengsi bersekolah di luar negeri sebab tidak berarti siswa tersebut pandai.

Tetapi bukan berarti pula siswa berprestasi sebaiknya tidak bersekolah ke luar negeri. Bagi siswa yang berprestasi dan ingin mengembangkan kemampuan di luar negeri, tentu ini positif. Mari berbuat agar mutu pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

Ricko Septian W

Siswa SMA Kolese Loyola, Semarang

***

SLT Tak Adil

Saya dari keluarga yang kurang mampu, tinggal dengan seorang ibu yang sudah 20 tahun hidup menjanda. Ibu tidak bekerja, sedang saya sebagai buruh di Semarang yang upahnya kurang mencukupi. Mendengar ada SLT hati saya senang, tapi ternyata ibu saya tidak mendapat padahal kurang mampu.

Sedang tetangga yang punya motor dan hidupnya cukup malah mendapat SLT. Mereka mengadu ke RT dan kelurahan agar diberi dana SLT. Ini sungguh tak adil. Mengapa kami yang kurang mampu tidak mendapatkan. Apa karena baru tinggal 2 tahun di Desa Bumirejo. Nenek juga tak dapat padahal ia sudah tua yang tak mampu bekerja.

Kuwat

Bumirejo Rt 4/Rw 2, Wonosobo


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA