logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Juli 2006 WACANA
Line

Kurikulum Berbasis Wirausaha

  • Oleh Abdul Muid Badrun

JIKA kita amati secara seksama penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004 belum membuahkan hasil sesuai harapan. Momentum KBK sebagai pedoman pendidikan untuk mengantisipasi persaingan dalam dunia global ternyata masih menimbulkan banyak kendala. Terutama sekali kendala geografis di mana KBK itu diterapkan.

Sudah banyak artikel yang mengupas tentang kendala-kendala penerapan KBK. Mulai dari belum meratanya implementasi sampai pada masalah kurangnya dukungan anggaran dari pemerintah.

Secara prinsip konsep KBK sangat baik. Karena di dalamnya memuat aspek pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat.

Namun dalam implementasi, ternyata konsep KBK belum mampu membuat peserta didik menemukan jati dirinya. Akibatnya KBK hanya menghasilkan manusia-manusia berkompetensi tinggi namun rendah tingkat kemandirian dan mentalitasnya.

Contoh sederhana orang dengan kompetensi tinggi ternyata juga masih cenderung mencari pekerjaan dan belum mampu mencipta lapangan pekerjaan. Hal ini membuktikan tingginya kompetensi peserta didik tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya mentalitas (karakter dan jati diri) seseorang. Akibatnya KBK yang selama ini diajarkan masih belum menyentuh kelemahan mendasar peserta didik dewasa ini berupa pembentukan karakter dan jati diri.

Karena itu melalui tulisan ini saya mengemukakan gasasan pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Wirausaha (KBW). Gagasan KBW dilatarbelakangi adanya bukti nyata bahwa saat ini tidak kurang dari 40 juta orang masih menganggur. Setiap tahun masih ada 2,5 juta angkatan kerja baru yang juga membutuhkan pekerjaan.

Dari gambaran itu saja jelas terlihat mayoritas penduduk Indonesia masih banyak yang belum punya pekerjaan. Bagaimana jalan keluarnya? Pendidikan yang selama ini dianggap telah gagal menjawab masalah pengangguran perlu melakukan transformasi ulang. Revitalisasi transformasi harus menyentuh isi atau kurikulum yang diberikan.

Bagi saya pengembangan KBW seperti juga pengembangan kurikulum pada umumnya. Yang terdiri atas beberapa tingkat, yaitu tingkat nasional, tingkat lembaga, tingkat bidang studi, dan tingkat satuan bahasan (modul). Pengembangan kurikulum tingkat nasional dilakukan dalam rangka mengembangkan standar kemampuan wirausaha untuk masing-masing jenjang dan jenis pendidikan.

Pengembangan kurikulum tingkat lembaga dimaksudkan untuk mengidentifikasi tenaga-tenaga pendidikan (guru dan dosen) yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Pengembangan kurikulum bidang studi ditujukan untuk mengembangkan (fokus) mentalitas wirausaha para peserta didik. Penyusunan komponen-komponen kurikulum pun dilakukan oleh Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas.

Seperti halnya penyusunan silabus dapat dilakukan dengan melibatkan para ahli dan praktisi wirausaha. Mengapa? Agar diperoleh pemahaman riil dan matang akan keterampilan, motivasi, dan mentalitas wirausaha para peserta didik.

Pengembangan kurikulum tingkat satuan bahasan (modul) dimaksudkan untuk merinci apa saja yang diperlukan dalam pembentukan mentalitas wirausaha para peserta didik. Pada prinsipnya KBW hampir sama dengan kurikulum lain. Yang membedakan hanya muatan (materi kurikulumnya) saja.

Lalu bagaimana struktur KBW? Ada tiga tingkatan pengembangan struktur Pertama KBW untuk SD dan yang sederajat. Meliputi pengembangan moral dan nilai-nilai agama, pengembangan sosial, emosional, dan spiritual dan pengembangan mentalitas wirausaha.

Kedua pengembangan kurikulum SMP, SMA, dan yang sederajat. Meliputi pendidikan agama, pendidikan keindonesiaan (pengetahuan sejarah bangsa-bangsa, budaya, dan seni), pendidikan sains (matematika, IPA, dan penguasaan informasi dan teknologi), pengetahuan keterampilan (membuka usaha, keterampilan berbahasa).

Pengembangan kurikulum di perguruan tinggi (PTS atau PTN) meliputi pengembangan wawasan wirausaha dan pemagangan mahasiswa di perusahaan. Termasuk dalam hal ini peningkatan IQ, EQ, dan SQ bisnis para mahasiswa. Hal ini untuk melengkapi muatan yang sudah diterapkan di PT. Contoh yang bisa ditiru adalah pengembangan mentalitas wirausaha di SBM (School of Business dan Management) ITB yang beberapa waktu lalu terpilih menjadi PT dengan ide bisnis terbaik 2005.

Di sana mahasiswa didorong untuk jadi pengusaha dengan cara bekerjasama dengan Bank Niaga. Mahasiswa yang mampu membuat rencana bisnis yang layak akan diberikan pinjaman oleh Bank Niaga sebagai modal usaha.

Jaminannya adalah aset yang dimiliki mahasiswa seperti mobil, laptop, HP, dan lain-lain.

Dengan perubahan kurikulum di atas diharapkan gagasan pola pendidikan yang menitikberatkan pada semangat kemandirian (KBW) bisa membuahkan hasil yang optimal bagi pembangunan bangsa. Bagi saya menjadi manusia seutuhnya yang menjadi cita-cita manusia Indonesia adalah manusia yang mampu hidup mandiri tanpa tergantung pada orang lain.

Alhasil gagasan KBW yang saya gulirkan ini bisa menjadi jembatan untuk memujudkan manusia Indonesia seutuhnya dalam ranah pembentukan karakter dan jati diri. Prinsip-prinsip implementasi KBW harus mampu membentuk manusia yang punya visi, nilai, dan berkeberanian tinggi.

Lalu bagaimana proses evaluasi Secara rinci evaluasi hasil belajar dalam implementasi KBW dilakukan dengan 7 cara. Pertama, penilaian kelas. Kedua, tes kemampuan dasar. Ketiga, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi. Keempat, penilaian berdasarkan pada kinerja yang sedang berjalan untuk mencapai hasil yang optimal. Kelima, penilaian program. Keenam, penilaian praktik lapangan. Ketujuh, penilaian prestasi bisnis yang dijalankan.

Pada dasarnya KBW mengajak semua peserta didik dibiasakan berprilaku mandiri sesuai dengan bakatnya masing-masing. Orang tua dan para guru atau dosen hanya berfungsi sebagai pengarah dan pengawas. Bukan penentu masa depan peserta didik.

Seiring dengan otonomi daerah diharapkan gagasan ini mendapat tanggapan positif dari pemerintah daerah, terutama dinas pendidikan. Agar sekolah atau PT di daerah mampu melahirkan lulusan-lulusan yang punya visi, nilai, dan keberanian tinggi dalam membuka lapangan usaha.(14)

- Abdul Muid Badrun, Direktur Eksekutif Center for Education and Entrepeneurship Studies (CEES) dan Pembelajar Manajemen dan Bisnis STIE Widya Wiwaha Yogya


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA