| Senin, 03 Juli 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANABeban Industri Akan Semakin Berat- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bagi kalangan industri sebesar rata-rata lima persen, mulai Juli akan menjadi beban tambahan. Meski, alasan Pertamina menaikkan harga dapat dimengerti. Menurut Pertamina, kenaikan itu tidak lain dipicu oleh menurunnya kurs rupiah terhadap dolar AS dalam sebulan terakhir. Kendatipun sebenarnya harga minyak di pasar Singapura relatif tetap, penurunan kurs tak bisa dihindari. Kenaikan harga BBM bagi industri tak bisa lepas dari fluktuasi harga internasional, di samping posisi kurs rupiah. Sebelum ini pun, harga itu sudah dinaikkan. Yakni pada Juni, dengan kenaikan bervariasi antara 2,27% hingga 12,89%. - Bagaimanapun ini merupakan kabar kurang baik bagi kalangan industriwan, mengingat selama ini mereka masih banyak memakai konsumsi BBM. Ada jenis-jenis industri sangat banyak menggunakan, tetapi ada juga yang relatif sedikit. Namun secara rata-rata kenaikan harga BBM ini pastilah akan dirasakan dampaknya, terutama pada peningkatan cost of production. Padahal unsur-unsur biaya lain, termasuk harga pasokan bahan baku juga terus mengalami peningkatan. Efisiensi telah banyak dilakukan, tetapi kalau sudah harga BBM naik, pengaruhnya pastilah terasa. Masalahnya hal itu tak bisa lagi diatasi, kecuali ada pemberian subsidi. - Peningkatan biaya produksi akan mendorong kenaikan harga jual dan pada gilirannya memperlemah daya saing di pasar internasional. Padahal, kompetisi semakin ketat dan selama ini ada kecenderungan daya saing kita makin menurun. Dalam konteks ini, apakah tidak mungkin pemerintah membantu industri dengan memberikan subsidi BBM? Tampaknya persoalan keterbatasan anggaran yang akan menjadi kendala besar. Selain tantangan efisiensi di pasar global, di dalam negeri kalangan industri masih menghadapi kendala berupa penurunan daya beli masyarakat. Hampir semua barang mengalami tekanan penjualan akibat sepinya konsumen. - Namun tampaknya tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Artinya, kenaikan harga BBM industri haruslah dilakukan sebagai konsekuensi beberapa hal. Antara lain berkaitan dengan harga minyak internasional serta fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Seperti diketahui, BBM yang dipergunakan di dalam negeri diimpor dari luar negeri dengan menggunakan dolar AS. Maka apa yang terjadi di pasar uang global ataupun pasar minyak dunia akan berpengaruh bagi harga BBM di dalam negeri yang dijual Pertamina. Hukum pasar yang berbicara, manakala subsidi tak lagi bisa diberikan. Pemerintah lebih memilih subsidi listrik dan bahan bakar minyak tanah, karena langsung terkait dengan rakyat kecil. - Lalu bagaimana kalangan industri menyikapi hal ini? Tidak ada jalan perlu segera diantisipasi. Sebagai faktor eksternal yang uncontrollable maka yang terpenting bagaimana memperkecil dampak khususnya bagi peningkatan biaya produksi. Masih mungkinkah dilakukan efisiensi dalam pemakaian BBM, listrik, dan sebagainya? Atau efisiensi dalam bidang lain karena bermuara tetap sama, yakni pada perhitungan biaya produksi? Bagi yang sudah benar-benar efisien tentu akan mengeluh, karena tak mungkin lagi berhemat dan akhirnya kenaikan harga BBM industri tetap akan berdampak pada kenaikan harga jual produk industri manufaktur. - Pemerintah perlu membantu sektor industri yang dari waktu ke waktu semakin bertambah berat bebannya. Kalau menahan kenaikan harga BBM, listrik, dan lain-lain tak bisa dilakukan, mestinya bisa dibantu dengan berupaya mengurangi tekanan biaya tinggi lain berupa keringanan pajak, pengurangan biaya kepabeanan, ongkos birokrasi, dan masih banyak lagi. Selama ini yang terkait dengan hal itu cenderung dibiarkan, sehingga kalangan industri semakin kerepotan. Kalau hal itu tidak diantisipasi bersama dan sektor industri terpukul, akan berpengaruh semakin berat. Sebab, produksi bisa menurun dan bahkan ancaman PHK kian besar. |