| Senin, 03 Juli 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAMerindukan Polisi Berwajah Pengayom- Hingga usianya yang ke-60, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) masih sibuk berkutat untuk mendekat ke masyarakat. Bukan apa-apa, melainkan melihat kegiatan pada Hari Bhayangkara 1 Juli lalu, kita menangkap keinginan untuk lebih akrab dan diterima rakyat. "Ritual" ulang tahun banyak yang dirayakan bersama masyarakat. Pernyataan-pernyataan pun bergema untuk menjadi bagian dari rakyat. Pada satu sisi, sikap tersebut menunjukkan komitmen Polri untuk terus memperbaiki citra. Pada sisi lain merupakan semacam pengakuan ada citra yang harus terus-menerus dipupuk dengan performa prima, guna meninggalkan wajah lama. - Diakui atau tidak, persoalan serius yang dihadapi institusi kepolisian adalah masalah citra. Dari yang ideal sebagai pengayom masyarakat, cenderung berbias menjadi semacam positioning rakyat dan polisi bukan berada pada satu kotak langkah yang sama. Berurusan dengan polisi seakan-akan berhadapan dengan ''satu pihak'' dan ''pihak lain''. Padahal idealnya terjadi simbiosis yang menggambarkan substansi kepentingan untuk ''diayomi'', "dilindungi", dan karena itu aparat menjadi bagian utuh dari masyarakatnya. Secara sederhana, kita dapat menangkap kecenderungan tersebut dari rubrik interaktif melalui pesan-pesan pendek di media massa. - Upaya-upaya gigih terus dilakukan para petinggi Polri. Secara makro, Kapolri Jenderal Sutanto melakukan gebrakan-gebrakan yang berorientasi kuat ke arah citra. Dan bagaimanapun, sejumlah langkahnya mulai dapat dirasakan. Walaupun masih bakal diuji oleh waktu, pemrosesan beberapa perwira tinggi Polri yang terlibat dalam sejumlah kasus penyelewengan kekuasaan menunjukkan keseriusan membenahi internal institusi. Semua memang masih bergantung pada konsistensinya. Sebab berdasarkan pengalaman, setiap terjadi pergantian pucuk pimpinan suatu lembaga, mudah bergeser pula sikap atau orientasi kelembagaan yang dipimpinnya. - Kita tentu berharap performa personal Jenderal Sutanto mampu memancar sebagai sikap institusional untuk melahirkan kultur dan kinerja polisi yang dapat diandalkan. Dan, kita percaya semua bergantung pada komitmen lewat kehendak politik yang kuat. Apa yang pernah diragukan orang tentang pemberantasan judi toto gelap (togel) di Jawa Tengah, dijawab dengan sikap istikamah oleh Kapolda (waktu itu) Chaerul Rasjid, dan kini secara konsisten juga dilanjutkan oleh Kapolda Doddy Sumantyawan. Kita percaya, penyakit yang melibatkan aparat kepolisian hanya bisa didiagnosis dan diobati jika ada kemauan sebagai kehendak politik institusi. - Memang, impian tentang performa ideal polisi tidak akan mungkin terwujud tanpa dukungan faktor-faktor di luar kepolisian. Misalnya bagaimana dukungan masyarakat, sistem politik-sosial-ekonomi yang melingkungi, juga keseluruhan kultur pemerintahan kita. Lahirnya Komisi Kepolisian Nasional untuk mengawasi kinerja kepolisian tepat pada Hari Bhayangkara Ke-60, kita harapkan dapat menjadi pilar dan picu lain untuk perbaikan performa Polri. Sebab kesadaran kepolisian memiliki kekuasaan cukup besar yang mencakup semacam "intervensi", bersifat fisik terhadap interaksi antara satu anggota masyarakat dan lainnya. - Dahulu pernah digalakkan upaya-upaya mendekat ke masyarakat lewat slogan-slogan "polisi sahabat pelajar", "polisi sahabat anak", dan semacamnya. Performa pelayanan pun kini sangat dituntut bukan saja untuk menciptakan rasa aman di tengah rakyat, melainkan juga dalam aspek-aspek kebutuhan administratif warga masyarakat. Keluhan tentang pungutan liar, calo, dan ketakutan untuk melaporkan peristiwa kejahatan yang menimpa karena khawatir malah menjadi bulan-bulanan, patut mendapat jawaban dengan komitmen pelayanan prima. Kemauan dan kultur pelayanan yang mentransformasi sebagai sikap institusi, itulah yang dibutuhkan. |