| Senin, 03 Juli 2006 | NASIONAL |
Inggris dan Trauma Penalti Itu...Lagi-lagi kesebelasan Inggris - yang cukup difavoritkan - terhenti lewat drama adu penalti. Sejarah seperti belum berpihak. Wartawan Suara Merdeka Amir Machmud NS menuliskan ketersingkiran The Three Lions dalam sejumlah turnamen, dan trauma-trauma adu penalti. BECKHAM 1998, dan Rooney 2006. Mereka inikah biang keladi kegagalan Inggris di Piala Dunia? Betapa mudah mencari kambing hitam, seandainya itu diperlukan untuk merunut hingga The Three Lions terhenti lewat drama adu penalti di kedua putaran final tersebut. Namun penyebabnya memang menjadi mirip: kartu merah akibat ketidakmampuan menghadapi provokasi. Di France 1998, media-media Inggris bahkan menuding David Beckham sebagai "seorang bocah tolol di antara 10 singa". Ya, karena Inggris tidak berhasil mempertahankan keunggulan yang menyebabkan pertandingan diperpanjang, dan adu penalti dimenangi Argentina. Sepakan kuda Beckham ke kaki Diego Simeone yang memprovokasinya ketika dia terjatuh menyebabkan wasit Kim Nielsen mencabut kartu merah. Dalam sebuah partai ketat, keluarnya seorang pemain jelas mengusik keseimbangan. Ini pulalah yang dirasakan skuad Sven-Goran Eriksson setelah Wayne Rooney diusir oleh wasit Horacio Elizondo dari Argentina. Kasar Striker temperamental itu terlibat dalam perebutan bola yang kasar dengan bek Portugal Carvalho, dan dia terpancing untuk mendorong Cristiano Ronaldo yang datang untuk memprovokasi wasit. Entah bagaimana nantinya hubungan Ronaldo dengan Rooney yang sama-sama satu klub di Manchester United. Apakah karena Ronaldo merasa sudah bakal meninggalkan Old Trafford untuk deal dengan Real Madrid maka dia "tega" memanfaatkan tensi kemelut Rooney (Ya, bukankah Cristiano sangat paham temperamennya?) - tersebut? Terlepas dari kemungkinan penyebab, trauma penalti menjadi makin panjang melilit Inggris sejak Piala Dunia 1990. Silih berganti kesempatan untuk menembus barrier mental datang, namun ada-ada saja yang kemudian menjadi pengganjal. Tetapi siapa pecundang di perempat final Germany 2006 ini? Dari keempat penendang, hanya Owen Hargreaves yang sukses. Frank Lampard, Steven Gerrard, dan Jamie Carragher yang dikenal sebagai spesialis penalti dan memiliki "urat syaraf baja" semuanya gagal. Gawang Portugal dengan Ricardo yang gagah menjaganya seperti menjadi begitu sempit. Sebaliknya sejak awal kita seperti sudah membayangkan betapa kecil kiper Paul Robinson yang mengawal gawang Three Lions. Dari sisi yang biasa disebut orang Jawa sebagai prejengan - postural, Robinson sudah kalah selangkah dari Ricardo yang gagah pideksa. Remuk Redam Dapatlah dibayangkan betapa remuk redam perasaan Lampard, Gerrard, dan Carra. Ketiganya memandang kosong perayaan Portugal yang bagai memenangi partai final. Sebuah selebrasi yang tidak berlebihan, mengingat dengan melangkah ke semifinal mereka sudah melewati target dengan pencapaian menyamai World Cup 1966 - yang ketika itu dihentikan tuan rumah Inggris. Rekor sang arsitek, Luis Felipe Scolari dengan Eriksson juga terjaga sejak Piala Dunia 2002 ketika dia menangani Brasil. Ditambah kemenangan di perempat final Euro 2004 saat mengarsiteki Portugal, lengkaplah keunggulan Big Phil yang gagal diperkecil oleh Eriksson. Trauma kegagalan penendang penalti tidaklah sebesar ratapan psikologis seorang kiper. Robinson tidak akan merasa seberdosa tiga rekannya yang gagal, karena "kodrat" kiper dalam penalti adalah "gagal itu biasa, berhasil menahan jadi pahlawan". Dari drama inilah muncul pahlawan-pahlawan: Jens Lehmann dan Ricardo! Tidak mudah menghapus trauma. Dua eksekutor Inggris, Stuart Pearce dan Gareth Southgate pernah menuturkan, betapa mereka tidak mampu hidup dalam kegembiraan yang utuh setelah ketidaksuksesan di Piala Dunia 1990 dan Euro 1996. Pearce mengaku sering termangu-mangu setiap mendengar sorak-sorai - apa pun keriuhan tersebut - karena segera mengingatkan kegagalan eksekusinya ke gawang Jerman yang dijaga Bodo Illgner di semifinal Italia 1990. Southgate yang menjadi pecundang di semifinal Euro 1996 dari lawan yang sama juga membutuhkan bimbingan lama dari ibundanya karena guncangan kekecewaan yang sulit tersembuhkan. Di France 1998, Paul Ince dan David Beatty yang menjadi pecundang, tetapi publik dan media seperti melupakan karena lebih melihat akar masalah pada diri Beckham yang mendapat kartu merah konyol sehingga menggoyang keseimbangan tim. Apa yang dialami Roberto Baggio lebih tragis lagi. Menjadi pahlawan yang dipuja dalam rangkaian perjalanan Italia hingga mencapai final Piala Dunia 1994, dia tidak dalam performa puncak menghadapi Brasil. Tendangannya melambung ke atas mistar gawang Taffarel. Walaupun bukan hanya dia yang gagal, tetap saja pelatih Arrigo Sacchi setengah mati menyalahkannya, bahkan cukup lama dia "disapih" dari tim nasional. Tetapi dengan gagah berani Baggio melakukan proses kebangkitan. Di France 1998, dia mengambil hadiah penalti ke gawang Paraguay, sukses! Pun, dalam adu penalti melawan Prancis di perempat final, walaupun Italia akhirnya terhenti, Baggio termasuk salah satu eksekutor yang berhasil. Tekanan-tekanan Pada drama di Arena AufSchalke Gelsenkirchen, perjuangan Gerrard dkk hingga memaksakan perpanjangan waktu dan adu penalti patutlah dibanggakan. Pertahanan yang digalang John Terry, Rio Ferdinand, Gary Neville, dan Ashley Cole justru menampilkan performa terbaik selama lima penampilan mereka. Sejumlah peluang juga dicatat, termasuk penalti yang "seharusnya" didapat ketika tendangan Beckham mengenai tangan Nuno Valente di kotak terlarang, juga saat Aaron Lennon dijatuhkan dalam posisi satu lawan satu dengan kiper. Tetapi itulah pertandingan, plus-minus yang pasti terjadi, tiap detik berbicara dan berproses, tekanan dan kesalahan yang niscaya muncul - seperti insiden yang akhirnya memaksa Rooney terusir dan mengurangi bobot permainan Inggris. Dalam setiap drama penalti selalu muncul pahlawan dan pecundang. Di sini tidak berlaku kualitas pemain macam apa yang dapat dijamin melakukan eksekusi dengan sempurna. Para bintang seperti Zico, Michael Platini, Roberto Baggio, Beckham, Andriy Shevchenko, Lampard, dan Gerrard pun bisa mengalami saat-saat ketika "kaki bagai tidak menginjak bumi" dan gawang seperti penuh sesak tidak menyisakan lubang. Mirip tos atau adu nasib, penuh nuansa untung-untungan, tetapi juga dapat dicakup dari sisi kekuatan fisik, kekuatan mental yang akhirnya menuntun sang eksekutor untuk berpikir jernih atau dalam kondisi yang sudah kepayahan. Maka bagi para penggemar Inggris, tak perlu menangis. Para singa sudah berjuang secara perkasa. Drama akan meninggalkan jejak makna, dan kita pun bakal semakin terlibat dengan sejarah: kapan Inggris mampu menembus tirai pekat adu penalti? (*-40) |