logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Juli 2006 NASIONAL
Line

Pertemuan Losari Hasilkan Aksi Pengembangan Bioenergi


SM/Antara SENAM PAGI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono senam pagi bersama sejumlah menteri kabinet di Losari Coffee Plantation Resort and Spa, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Minggu (2/7). (57v)

MAGELANG - Pertemuan Losari menghasilkan rencana aksi nasional pengembangan biofuel atau bioenergi sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM).

Perumusan yang berlangsung Sabtu (1/7) hingga Minggu (2/7) malam di Losari Coffee Plantation Resort and Spa, di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, akhirnya merumuskan lima hal yang akan dilakukan untuk mengimplementasikan pengembangan bioenergi.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, setelah pertemuan Losari ini tim akan bekerja dan akhir bulan Juli diharapkan draf sudah jadi.

Pemimpin Daerah

"Pada awal Agustus saya akan mengundang para gubernur, bupati, dan wali kota untuk membahas bersama-sama implementasi rencana aksi ini. Tujuan saya mengundang mereka agar kita juga mendapat masukan, saran, dan pendapat. Karena nantinya yang mengelola program besar ini lebih banyak dimainkan oleh para pimpinan daerah. Pemerintah pusat tinggal memberikan payung kebijakan," kata presiden dalam

jumpa pers seusai melakukan pertemuan Minggu (2/7) malam.

Dikatakan, setelah itu semua berjalan diharapkan akan dilanjutkan dengan persiapan dan perencanaan dan 2007 nanti sudah bisa diimplementasikan.

Dijelaskan Presiden, lima faktor yang telah dirumuskan dalam pertemuan Losari, pertama ketersediaan lahan untuk membuat perkebunan tebu dan singkong untuk bahan etanol, kebun sawit untuk biodiesel, dan jarak untuk biodiesel.

"Ketersediaan lahan di seluruh Tanah Air, itulah sebabnya kita juga mengundang perwakilan gubernur, bupati di samping BPN, Departeman Kehutanan, dan Departemen Pertanian untuk memastikan bahwa data yang ada tentang lahan kritis, lahan tidur serta lahan tandus itu benar," ujarnya.

Rumusan yang kedua berkaitan dengan pengolahan bahan baku perkebunan dibutuhkan mesin dan pabrik-pabrik. "Saya bersyukur bahwa beberapa pimpinan industri strategis yang ada dari Pindad dan PAL menyatakan mampu," ucapnya.

Diungkapkan, rumusan ketiga masalah penyiapan infrastruktur daerah tertinggal. Keempat, lanjut dia, pasar maksudnya adalah jaminan bahwa produksi itu akan diserap.

Adapun kelima adalah pendanaan, yang menurut dia, tidak mungkin semua ditanggung oleh APBN maka melibatkan swasta baik dalam maupun luar negeri dengan kerangka kerja yang baik.

Pengembangkan bioenergi dapat menggerakkan ekonomi lokal dan UKM agar tumbuh dengan baik, dengan demikian ke depan langkah ini dapat mengurangi urbanisasi dan tak lagi membebani kota.

''Para petani bisa kembali ke tanah semula. Tanah-tanah tandus juga bisa diolah. Masyarakat yang hanya punya satu atau dua hektare, bisa diaktifkan kembali untuk mengembangkan bahan baku bioenergi,'' ujarnya.

Upaya ini, papar Presiden, juga sebagai langkah untuk mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan alam Indonesia.

''Kalau tidak mengelola dengan baik kekayaan dan potensi alam ini kita akan merugi. Apalagi negara lain juga sudah ada yang berhasil menjalankan bioenergi ini,'' tuturnya.

Pengembangan

Karena itulah, tambah Presiden, dalam retret kali ini sangat bermakna untuk dapat merumuskan langkah ke depan dalam pengembangan bioenergi.

''Semalam kami juga rapat merumuskan rencana induk bagaimana kita kembangkan bioenergi ini. Di samping meningkat industri dalam negeri, mengurangi impor BBM, mengembangkan bioenergi ini juga dapat menciptakan lapangan kerja," jelasnya.

Terpisah, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengemukakan, untuk sementara ini harga jual bioenergi masih lebih murah jika dibanding harga solar, harga final produk bioenergi sekitar Rp 4.000 sampai Rp 4.200/liter.

Jadi, menurutnya, kalau proses produksinya bisa semakin ditingkatkan, terutama untuk teknologinya dan dapat diperoleh bibit jarak yang unggul, tentu harganya bisa lebih rendah lagi.

Dipaparkan, secara teknis pemerintah sudah menentukan arah penggunaan bioenergi ini dari segi bahan bakunya. Dia mencontohkan, minyak jarak, CPO dari kelapa sawit, dan zat etanol dari tebu.

''Zat etanol ini merupakan produk sampingannya gula misalnya dari bahan baku tebu, singkong, jagung, dan dari berbagai tanaman yang saat ini sudah ditemukan dan dikembangkan manfaatnya untuk bioenergi. Namun sampai saat ini yang paling ekonomis sebagai bahan baku bioenergi adalah minyak jarak. Karena itu, sementara ini CPO masih diekspor. Minyak jelantah juga masih terbatas beberapa daerah saja yang dapat memproduksi,'' ungkapnya.

Biji Jarak

Sekarang ini permasalahannya, lanjut dia, tinggal bagaimana memproduksi bioenergi ini secara massal, karena kalau bicara minyak jarak itu ada rumus dan hitungan. Misalnya, setiap liternya butuh berapa kilogram bahan baku.

''Kita butuh beberapa ton biji jarak dan untuk menghasilkan itu berapa ribu hektare lahan yang dibutuhkan,'' tambahnya.

Kendati demikian, Fahmi meyakinkan, setelah dijadikan kebijakan nasional dan terencana, dalam tempo tak berapa lama lagi usai pertemuan retret ini akan ditentukan untuk pelaksanaannya.

''Produksi oleh beberapa pihak sudah mulai dilakukan, baik pemerintah maupun swasta. Di NTT, NTB, dan beberapa daerah lainnya sudah memulai penanaman dan produksi,'' katanya.

Khusus untuk Departemen Perindustrian, tandas dia, memperoleh tugas untuk membuat delapan pabrik minyak jarak, baik digunakan untuk mengolah biji jarak maupun CPO.

"Empat pabrik berkapasitas 6.000 ton/tahun dan empat lagi berkapasitas 300 ton/tahun. Ini yang sedang dirancang teknikal spesifikasinya,'' katanya.

Ditambahkan Fahmi, pemerintah juga sedang merancang daerah mana yang tepat untuk penempatan pabrik itu. Karena itu, untuk menempatkan pabrik tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan. Sekarang ini daerah yang sudah masuk pemetaan adalah Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. (sho-64v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA