| Senin, 03 Juli 2006 | NASIONAL |
Parreira Mengaku Salah
FRANKFURT- Ronaldo, Kaka, Ronaldinho, dan semua pemain Brasil, termasuk sang pelatih Carlos Alberto Parreira, lama saling berdiam diri di ruang ganti. Mereka sangat shock dengan kekalahan mengejutkan 0-1 dari Prancis di perempat final. Parreira mengatakan bahwa pasukannya sangat terkejut karena tersingkir dari Piala Dunia. Dia telah gagal dalam tugasnya. Parreira mengaku bersalah. Kekalahan tersebut merupakan yang pertama bagi Brasil di event empat tahunan itu, sejak mereka dikalahkan 0-3 oleh lawan yang sama di final Piala Dunia 1998 di Paris. Parreira menyalahkan timnya yang lemah dalam disiplin. Dia justru memuji pengalaman serta pertahanan yang solid dari Zinedine Zidane, inspirator Prancis yang malam itu bermain amat cemerlang. "Kami menyesal, kami tidak mengawasi mereka dengan baik," katanya. "Ini kekalahan yang amat sulit kami terima. Kami tidak mengira akan kalah di perempat final. Kami tidak siap menerima. Ini kekecewaan besar,'' katanya. Membantah Parreira membantah timnya bermain negatif dengan lebih banyak bertahan, meninggalkan striker Adriano dan Robinho, serta hanya mengandalkan satu penyerang Ronaldo. Adriano-Robinho masuk lapangan pada babak kedua ketika Prancis sudah unggul satu gol. "Prancis menempatkan sembilan pemain di pertahanan. Mereka juga memiliki Zidane dan Henry. Mereka amat cepat ketika melancarkan serangan. Penjagaan kami tidak begitu bagus." Dia menilai, Zidane tampil luar biasa. "Kami sudah mengenal Zidane bertahun-tahun dan dia salah satu pemain terbaik dunia selama dekade lalu. Dia bermain amat bagus. Kami berusaha menghentikannya, tapi tidak bisa." "Saya tahu jika kami menang, itu adalah kemenangan para pemain. Tapi jika Brasil kalah, maka pelatih yang disalahkan. Ini bukan tugas saya, tugas saya adalah membawa Brasil ke final Piala Dunia. Kami tidak siap menerima kekalahan ini.'' Gelar Kedua Prancis mengincar gelar juara Piala Dunia untuk kali kedua, setelah mereka menaklukkan Brasil 1-0 dalam partai perempat final di Waldstadion, Frankfurt, Minggu (2/6). Satu-satunya gol yang tercipta pada pertandingan itu lahir dari tembakan akurat Thierry Henry pada menit ke-57 menyambut tendangan bebas Zinedine Zidane. Zidane yang tampil sangat impresif untuk membantu timnya menang, terpilih sebagai man of the match. "9 Juli." Demikian jawaban pendek pelatih Prancis Raymond Domenech ketika ditanya targetnya pada Germany 2006, kemarin. Tanggal itu merujuk waktu penyelenggaraan babak final di Olympiastadion, Berlin. Bila Prancis mampu mengalahkan Portugal dalam semifinal di Stadion Allianz Arena, Munich, Kamis (6/7) nanti, Domenech yakin timnya memiliki peluang besar menggapai titel kedua. "Tentu saja kemenangan ini fantastis, tetapi saya melihatnya hanya sebagai satu langkah maju. Kami menginginkan tempat di final dan masih memiliki satu partai untuk dimenangi lagi," katanya dalam konferensi pers seusai pertandingan. Pernyataan serupa juga diungkapkan kapten Les Bleus, Zidane. Menurut gelandang berusia 34 tahun itu, menjadi juara adalah hal yang realistis bagi tim Prancis. "Kami tak ingin berhenti sekarang. Gelar juara terasa sangat indah, kami ingin membawanya pulang," katanya. "Ini bukan keajaiban. Ini kerja keras tim. Anda mungkin terkejut, tetapi kami tidak," tegas Domenech. Prancis memenangi gelar pertamanya pada Piala Dunia 1998 saat mereka juga berperan sebagai tuan rumah. Di final, Tim Ayam Jantan menghempaskan Brasil 3-0, di mana dua gol pertama dicetak Zidane. Beberapa personel tim 1998 selain Zidane masih menjadi pemain kunci, seperti kiper Fabien Barthez, gelandang Patrick Vieira, dan striker Thierry Henry. Dalam pertandingan di Waldstadion yang disaksikan sekitar 45.000 penonton, Brasil mendominasi penguasaan bola tetapi gagal menciptakan peluang emas. Sebaliknya, serangan Prancis yang bermain taktis kerap membahayakan gawang Dida. Di lapangan tengah, trio Zidane, Vieira, dan Frank Ribery terus memegang kendali permainan. Aksi mereka membuat tumpul pergerakan Ronaldinho, Kaka, Ze Roberto, Juninho Pernambucano, dan Gilberto Silva. Tak seperti biasanya, pelatih Brasil Carlos Alberto Parreira memasang skema baru 4-5-1 dengan memainkan Ronaldo sebagai striker tunggal. Hingga babak pertama berakhir, kedua tim gagal menciptakan peluang yang bisa menghasilkan gol. Pasukan Parreira coba meningkatkan tempo permainan memasuki babak kedua. Namun, serangan mereka selalu kandas oleh solidnya lini belakang Les Bleus. Pada menit ke-57, bencana malah menimpa Tim Samba. Bermula dari pelanggaran di sektor kanan pertahanan mereka. Tendangan bebas Zidane ke kotak penalti disambut Henry yang lolos dari kawalan bek Brasil. Dari jarak dekat, Henry melancarkan tendangan setengah voli yang tak mampu ditahan Dida. Skor pun berubah 1-0 untuk Prancis. Enam menit kemudian, Parreira kembali memakai formasi 4-4-2 dengan memasukkan Adriano mengganti Juninho. Namun, upayanya mengagresifkan serangan dengan dua striker tak berhasil. Pada menit ke-79, Parreira memasukkan Robinho. Tetapi, hingga pertandingan berakhir, skor 1-0 tetap tak berubah. (rtr,H29,F3-40) | ||||