logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Juli 2006 SEMARANG
Line

Lestarikan Satwa lewat Lomba Burung Berkicau

AYO nomor 26 suaranya lebih keras lagi. Nomor 10 kicaunya lebih bagus. Begitulah antara lain keriuhan yang terdengar pada lomba burung berkicau. Terkadang "kicau" penonton lebih nyaring daripada kicau burung yang dilombakan. Bahkan di antara penonton tersebut ada yang meniup peluit keras-keras untuk memacu burungnya ataupun meyakinkan dewan juri demi memenangkan lomba.

Bagi masyarakat awam tentu akan bingung manakala menyaksikan lomba kicau burung tersebut. Namun bagi kicaumania (sebutan untuk penggemar burung berkicau), hal tersebut wajar.

Bagi juri, teriakan apa pun tak akan memengaruhi objektivitas dalam penilaian. Mereka adalah juri yang sudah berpengalaman bertahun-tahun dalam urusan menilai suara burung berkicau. Yang dinilai adalah irama lagu, volume, jenis suara, dan gaya fisik burung.

Seperti yang terlihat pada Minggu (2/7) di halaman BLKI Jateng, Jalan Brigjen Soediarto Semarang. Sebuah lomba burung berkicau memperebutkan Piala Dandim 0733 BS Semarang, digelar.

Seribu Burung

Kemeriahan begitu terasa karena lomba tersebut diikuti para kicaumania yang datang dari DKI, Jatim, DIY, dan beberapa kota di Jateng. Tidak kurang dari seribu burung berbagai jenis mengikuti kontes yang memperlombakan 23 cabang itu. Lomba tersebut merupakan kerja sama antara Kodim 0733 BS dan Pelestarian Burung Indonesia (PBI) Cabang Semarang.

Dandim Letkol Inf M Nur Rahmad mengatakan, lomba bertujuan untuk meningkatkan perasaan cinta terhadap lingkungan, terutama jenis satwa burung. Selain itu, membudayakan penangkaran jenis-jenis yang semakin langka.

"Selain melestarikan dan memasyarakatkan lomba burung berkicau, kami berupaya menggalang persatuan para kicaumania di Semarang dan Nusantara pada umumnya," tuturnya.

Sementara itu dari PBI Cabang Semarang, Wandi WN menjelaskan, kejuaraan tersebut ditangani secara profesional. Yang terlibat adalah juri yang berpengalaman. Mereka dipilih dari berbagai daerah seperti Jateng, Jatim, DKI, dan Jabar. "Juri-juri itu sudah berpengalaman dan dilatih PBI serta mendapatkan sertifikat," ucapnya.

Bagi peserta, lomba itu betul-betul dimanfaatkan. Bukan sekadar hadiah yang diperebutkan, namun lebih dari itu, yakni menaikkan gengsi dan harga burung. Bagi yang sering juara, otomatis harganya akan melangit.

"Karena sudah telanjur cinta, untuk sementara burung tidak akan saya jual. Terlebih baru saja meraih juara," kata Reza dari Mahesa Jenar Bird Club (BC) yang meraih juara nomor Anis Merah.

Juara umum dalam lomba tersebut adalah Duta Piala Raja BC Yogyakarta. Adapun juara perorangan yaitu Marcellino, juga dari Yogyakarta. (Moch Kundori-62d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA