logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 23 Juni 2006 SALA
Line

Tiga Warga Luka Dicakar Macan

WONOGIRI - Tiga warga di Mirahan, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Kamis (22/6) menderita luka-luka karena dicakar macan tutul. Ketiga korban itu adalah Darno (48), Jaswadi (30), dan Suyati (49).

Karena membuat tiga warga menderita luka-luka dan menjadikan penduduk setempat panik, macan tutul yang masuk ke rumah penduduk itu akhirnya ditembak mati. Penembakan dilakukan Edi, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Tanjungsari, yang juga anggota aktif Perbakin. Tembakan peluru yang dimuntahkan dari senjata berburu laras panjang jenis SKS itu mengenai bagian kepala dekat telinga dan membuat macan itu tewas.

Macan tutul kumbang berjenis kelamin jantan itu kemudian dikirimkan ke Polres Wonogiri, setelah sebelumnya diperiksa Muspika Kecamatan Jatisrono. Kapolres Wonogiri AKBP Drs Sutoyo didampingi Kasat Reskrim AKP Ngadiman SH membenarkan adanya kasus tembak mati pada seekor leopard di Jatisrono. Dari pengukuran terhadap tubuh macan itu, diketahui memiliki panjang satu meter, panjang ekor 0,8 meter, dan berat badan 31 kilogram.

Camat Jatisrono Drs Sungkono mengatakan, leopard itu diketahui masuk kampung Kamis (22/6) pada pukul 05.30. Semula berada di tegalan warga. Namun ketika dilempari batu, akhirnya masuk ke perkampungan penduduk, tepatnya di belakang dealer sepeda motor Sanex milik Iwan di Tanjungsari Jatisrono. Macan itu diduga turun ke kampung pada malam hari, dan menjelang pagi kebingungan untuk kembali ke areal hutan. Akhirnya ketika dikejar-kejar penduduk, berlindung masuk ke rumah Darno.

Mencari Air Minum

Celaka bagi diri Darno, karena berusaha mengusir macan yang masuk ke rumahnya itu, mendadak diamuk dan menderita luka akibat cakaran macan di sembilan tempat. Setelah melukai Darno, macan itu lari ke luar dan mencakar Suyati yang pagi itu sedang menyapu di halamannya. Kemudian, macan kembali masuk bersembunyi ke dalam rumah, setelah sebelumnya melukai Jaswadi.

Masyarakat Jatisrono menduga, binatang buas itu besar kemungkinannya merupakan pelarian satwa liar yang turun dari hutan lereng gunung untuk mencari air minum. Bisa jadi, raja hutan itu datang dari lereng Gunung Lawu bagian selatan. Kemudian masuk ke perkampungan penduduk mencari air, mengingat kondisi hutan habitatnya mengalami kekeringan sehubungan dengan musim kemarau. (P27-36d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA