| Jumat, 23 Juni 2006 | WACANA |
Surat PembacaBalap LiarJika pernah menyaksikan film The Fast and the Furious yang dibintangi aktor Vin Diesel di layar TV beberapa waktu lalu, tentu pemandangan mobil mewah berwarna ngejreng dari berbagai merk terkenal seperti Dodge, Porsche hingga Jaguar dengan berbagai modifikasi canggih sangat mengagumkan. Seperti sasis yang ''ceper abis'', komputerisasi mesin hingga dipasangnya NOS/nitro oxide untuk menambah power ketika mobil dipacu. Gambarannya begitu detail bahkan ketika persnelling dihentak ke gigi satu, layar TV memperlihatkan proses bahan bakar menuju karburator ditambah semprotan nitro oxide hingga mesin mengeluarkan api ungu jernih di knalpotnya, Film tersebut menggambarkan pertarungan para pembalap jalanan dari berbagai warna kulit dan ras, mulai orang bule, kulit hitam, hispanik hingga tampilnya geng bermotor mandarin bersenjata laras panjang MI6 yang ditakuti. Banyak sisi positif bisa diambil dari film ini, namun biasalah generasi muda kita hanya mengambil sisi ''wah dan menterengnya''. Contoh balap liar di depan SMA I Kendal tiap malam minggu yang jadi lokasi berkumpul dan berlombanya para pembalap dadakan. Mereka biasanya para pelajar dan pemuda naik motor protholan, roda kecil dan tanpa helm/tanpa alat pengaman, melaju kencang di jalan yang notabene merupakan jalur utama. Berkali-kali polisi membubarkan kegiatan itu bahkan pernah Kapolres Kendal turun tangan. Namun bukannya mereka kapok, malah seakan menantang. Penggerebekan terakhir memakan korban siku seorang anggota Polres Kendal ditabrak pembalap liar. Perlu dipikirkan mendirikan sirkuit resmi untuk menampung peminat balap motor. Tentu dengan standar keamanan dari organisasi semacam Ikatan Motor Indonesia/IMI. Setidaknya, manfaat muncul bibit pembalap, keamanan terjamin, polisi tak perlu repot mengejar dan menilang. Aryo Widiyanto AMd Jl Sri Agung 234 Cepiring Kendal *** Mencari Dermawan Saya kelas III IPA SMA swasta di Semarang mendaftar di Undip lewat jalur PSSB (Program Seleksi Siswa Berpotensi) dan diterima. Namun untuk menindaklanjuti, orang tua tidak punya biaya. Mohon ada dermawan berkenan membantu saya membiayai kuliah tersebut. Hingga kini kami masih kontrak rumah di Jl Puspowarno Tengah III/8 Semarang, 085225473011. Nilam Kurios Solagratia *** Titi Mangsa Wayang Hampir semua pagelaran wayang kulit yang disiarkan radio atau TV, sulit diketahui oleh pendengarnya kapan dan di mana acara tersebut berlangsung. Karenanya terbersit usulan saya agar dhalang mau menyebutkan tanggal, hari, bulan dan di mana acaranya. Hal itu dapat dilakukan saat talu/gendhing babak pertama dan gara-gara/perubahan pathet 6 ke pathet 9. Pathet adalah pokok tinggi nada gamelan, yaitu saat talu pukul 21.00 dan gara-gara sekitar 24.00. Contoh cakepan talu : ''Suh repdata pitana, nuju hari sajuga titi mangsa Sabtu pasaran pon, anyarengi surya kaping 13 wulan Jumadi Lawal utawi kaleres dinten Sabtu Pon Juni - 2006, manggen ing Kantor Gubernuan Jawa Tengah, margi Pahlawan 9 Semarang, Cakepan atau kata-kata diulangi pada saat gara-gara. Cakepan ini dimaksudkan agar pendengar tahu kapan acara tersebut berlangsung. Hasil rekaman lama, baru atau bahkan siaran langsung. Usulan ini ditulis oleh the man in the street, orang kebanyakan, bukan praktisi wayang. Adhianto Jl Mahesa Mukti A36, Semarang *** Takut Jadi Orang Indonesia Kalau penyair Taufik Ismail pernah menulis puisi berjudul "Aku Malu Jadi Orang Indonesia'', maka saya ingin mengungkapkan isi hati dengan judul "Saya Takut Jadi Orang Indonasia''. Terus terang, saat ini hidup di negeri yang kata orang makmur dan demokratis, ternyata sangat mengerikan. Padahal setelah Orba runtuh, saya dan juga semua warga berharap bisa menikmati hidup lebih tenang, damai, makmur dan mendapat perlakuan adil dari penguasa berikutnya. Memang, untuk sementara waktu yaitu saat pemerintahan Habibie, Gus Dur dan Megawati, harapan itu mulai jadi kenyataan. Semangat reformasi masih tertanam di hati orang-orang yang cinta keadilan. Aparat pemerintah pun dari yang nonformal macam RT/RW hingga yang formal seperti aparat kelurahan, kecamatan hingga yang lebih tinggi lagi, selalu tersenyum, ramah dan tanggap dengan keluhan masyarakat. Mereka sangat baik, tidak mengintimidasi dan adil melayani masyarakat dari semua golongan. Pada saat itu, suasana damai dan tenang betul-betul terasa. Tapi, kini, mengapa semua itu tak lagi ada. Aparat tak lagi ramah, bahkan berkesan judes bila melayani masyarakat yang tidak satu golongan dengannya. Mereka seakan kembali ke wajah aslinya yang selalu pamrih dalam melayani masyarakat. Topeng kepalsuan telah terbuka, mereka hanya baik kepada orang tertentu. Kepada yang bukan kelompoknya melakukan diskriminasi, bahkan intimidasi. Termasuk pendataan penerima SLT pun, lebih memprioritaskan kelompoknya. Buktinya, banyak warga yang benar-benar miskin tidak mendapat SLT, sedangkan yang hidupnya lebih baik malah menerima. Yang salah mendata, petugas BPS atau ketua RW yang pilih kasih. Bila warga protes, tidak dijawab dengan bijaksana, tapi malah ditakut-takuti. Sungguh menakutkan hidup di Indonesia. Purwandi Kebulen Gg II/19A, Pekalongan *** KA Bisnis bak Pasar Beberapa waktu lalu saya ke Jakarta naik KA Bisnis. Dalam benak, pelayanan lebih bagus, aman dan nyaman sebanding dengan harga tiket. Namun setelah di dalam kereta, keadaan ternyata jauh dari harapan. Air toilet tidak mengalir, meja banyak yang copot dan tempat duduk reyot. Yang lebih menjengkelkan, di sepanjang perjalanan banyak pedagang asongan, pengamen, pengemis yang berlalu lalang sehingga situasinya persis seperti di pasar asongan. Bagaimana PT KA ? Irawan Dwi Putranto Jl Iswahyudi 12, Madiun *** Andai Pagar Bisa Ngomong... Dul Sumbang, penyanyi dan pencipta lagu membuat lagu Andai Bulan Bisa Ngomong. Lagunya bagus dan suaranya pun bagus hingga klop, dan sangat populer di kalangan remaja. Saya nunggu ada pencipta lagu Andai Pagar Bisa Ngomong, soalnya setiap ada demo, pagar selalu menjadi sasaran perusakan. Bila pagar bisa ngomong, pasti sambat salahku apa, kok kejem-nya pendemo merusak pagar. Di negeri tercinta ini sekarang tiada hari tanpa demo dengan tema berbeda. Hanya saja, pagar selalu menjadi sasaran emosi dan kemarahan, walau pendemonya dari kalangan intelek dan terpelajar. Saya imbau kepada mahasiswa/pelajar dan kalangan intelektual lain, silakan demo tapi jangan merusak. Jangan mau ditunggangi emosi dan kemarahan sebab akan kentara level/kelas Anda. Langkah demikian tidak mengundang simpati tapi justru menimbulkan antipati. H Erlangga Chandra Ngalian Rt 8/Rw 2 Bendan Banyudono, Boyolali *** Belajar dari Piala Dunia Piaia dunia Germany 2006 telah memasuki babak 16 besar, menampilkan banyak pemain muda yang pintar mengolah si kulit bundar seperti Christiano Ronaldo (Portugal), Phillip Lahm (Jerman), Leonel Messi (Argentina), Robinho (Brazil) dan Francesc Fabregas (Spanyol) serta masih banyak lagi pemain muda yang akan terus mengeluarkan bakat dan talentanya sampai final. Pertandingan babak penyisihan sampai final akan banyak menampilkan tontonan menarik setelah lama kita disuguhi pertandingan kompetisi dalam negeri yang sampai kini masih memprihatinkan karena seringnya terjadi perkelahian antarpemain dan suporter. Saya tidak alergi dengan sepak bola nasional di Piala Dunia, sebaiknya PSSI bisa belajar dari tim-tim kontestan yang bertanding di Jerman. Memasuki babak 16 besar kepemimpinan wasit belum ada yang menggugat. Artinya para pengadil pertandingan telah berusaha menegakkan peraturan permainan yang digariskan FIFA. Bahasa bolanya seluruh wasit selalu rule of the game dalam setiap memimpin pertandingan. Harapan saya dari gelaran Piaia Dunia ini, mari PSSi dan seluruh anggota klub untuk mau duduk satu meja dan menyosiatisasikan ke seluruh Pengda agar dapat menciptakan kompetisi yang baik dan bermuara pada tim nasional. Jadi keponakan saya tidak terus bertanya : "kapan Om Indonesia tampil di Piala Dunia'' ? Tanya Kenapa?". Suwarsono Jl Penjaringan III/93, Semarang |