| Rabu, 21 Juni 2006 | PANTURA |
Pengantin Gaya Pemalang Hampir HilangSENI rias pengantin tiap daerah memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, yang lebih populer di masyarakat pantura adalah gaya Yogyakarta dan Solo. Padahal, gaya khas daerah sendiri jika dikemas sedemikian rupa tidak kalah bagusnya. Menurut pengurus harian Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Pemalang, Ny Hj Didik Haryadi, karena di daerah pantura orang lebih mengenal gaya Solo dan Yogya, akhirnya gaya daerah sendiri terlupakan. Dikhawatirkan jika tidak segera dilakukan penggalian kembali akan hilang. ''Saya sangat prihatin dengan hal itu, maka saya punya ide untuk terus melakukan penggalian dan sosialisasi kepada masyarakat,'' katanya, kemarin. Untuk menggali kembali budaya adiluhung itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pihaknya belum lama ini menggelar sarasehan gaya pengantin Pemalang juga dalam upaya penggalian. Menurutnya, karya seni orang Pemalang di bidang tata rias pengantin tidak kalah dengan daerah lain. Bahkan, ada unggulan tersendiri. Namun, sekarang banyak masyarakat tidak tahu atau lupa. Jelas karena kurangnya sosialisasi. ''Maksud kami dengan diadakan sarasehan masyarakat akan menjadi tahu bahwa Pemalang mempunyai budaya sendiri yang adiluhung,'' tambahnya. Sarasehan diikuti ratusan perias pengantin yang tergabung dalam HARPI Melati. Dihadiri Ketua Konsorsium Tata Rias Pengantin Jateng Ny Nani Sariyoto dan sejumlah pejabat terkait. Acara dibuka Kabid Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan Pemalang, Drs Udiyarto. Sarasehan berlangsung meriah, karena ditampilkan model pasangan pengantin gaya Pemalang. Para peserta juga antusias menanyakan beberapa hal mengenai tata rias. Bahkan model pengantin yang digiring ke tempat duduk peserta sarasehan menjadi rebutan mereka untuk melihat dari dekat. Pertimbangan Bisnis Makin menghilangnya rias pengantin gaya Pemalang juga karena para perias tidak pernah menggunakan atau menawarkan kepada pemakai. Yang ditawarkan gaya Yogya atau Solo, karena sudah populer dan juga pertimbangan bisnis. Sehingga, masyarakat akhirnya hanya mengetahui gaya luar daerah. Sedangkan gaya daerah sendiri makin tenggelam. Jateng memiliki aset tata rias pengantin beragam, karena masing-masing daerah memiliki gaya tersendiri. Maka, sudah saatnya gaya Pemalang dibangkitkan kembali. Namun, hal itu tidak gampang karena harus digali kembali dari asal usulnya. Kemudian dalam penerapan di masyarakat hendaknya tidak harus persis betul dengan aslinya. Jika diterapkan sesuai aslinya bisa jadi konsumen akan lari. Oleh karena itu perlu inovasi dan disesuaikan dengan mode kontemporer agar masyarakat modern menyukai.(Saiful Bachr-19) |