| Rabu, 21 Juni 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANALumpur Porong Terus Mengancam- Sangat lamban. Begitulah kesan yang amat kuat mengenai pananganan banjir lumpur panas di Desa Siring, Porong, Jatim. Sudah sekian lama, banjir lumpur terus mengalir tanpa terkendali. Bukan hanya sawah para petani miskin yang tergerus, tetapi juga pabrik-pabrik sekitar pengeboran tidak bisa beroperasi. Bukan hanya itu. Jalan tol Surabaya-Gempol terkena imbasnya. Lalu lintas tol akhirnya mengenal macet seperti jalan biasa. Aktivitas ekonomi terhambat karena lalu lintas barang dan jasa tidak selancar biasanya. - Jika pengeboran tidak terletak di sebuah tempat yang berdekatan dengan permukiman padat dan jalur strategis, mungkin dampaknya akan sangat lain. Kasus yang agak mirip pernah terjadi di Desa Sumber, Kradenan, Blora ketika terjadi semburan gas. Kedua kasus secara kebetulan berada di dekat permukiman padat, sehingga dampak yang ditimbulkan juga besar. Di Desa Sumber penduduk sekitar semburan mengungsi, kini hal yang sama juga terjadi di Siring. Akan tetapi dampak ekonomi dari kasus Siring sangatlah besar. - Keterlambatan distribusi barang keluar masuk Surabaya yang terganggu pasti mengakibatkan kenaikan biaya. Apalagi jika sampai ada beberapa perusahaan yang karena bencana itu tidak bisa beroperasi secara optimal, bahkan ditutup sementara. Siapa yang akan menanggung kerugian seperti ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah memerintahkan agar kasus ini diinvestigasi. Meskipun perintah ini sangat terlambat, harusnya pernyataan itu bisa mempercepat proses pengungkapan agar segera jelas siapa yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini. - Begitu banyak pertanyaan yang melingkupi kasus ini. Misalnya, apakah kelambanan itu terjadi karena pemilik PT Lapindo Brantas adalah seorang menteri sekaligus pengusaha yang sangat berpengaruh? Sehingga baik pemerintah maupun aparat merasa khawatir untuk melakukan tindakan cepat. Atau benar-benar terjadi suatu kasus yang yang sama sekali tidak dimengerti oleh ahli-ahli dari Lapindo? Atau benar sebuah bencana di luar perkiraan dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Sementara itu, tetap saja korbannya semakin meluas. - Tentu akan sangat elegan manakala pemilik segera membuka diri untuk kepentingan publik, terutama menyangkut dampak dari kegiatan yang dilakukan perusahaannya. Meski pun investigasi belum dilakukan, tetapi telah tampak nyata bahwa akibat dari pengeboran di lokasi itu keluar lumpur panas yang tidak terkendali. Sambil menunggu proses investigasi, langkah-langkah yang mengundang simpati perlu dilakukan. Apalagi para ahli geologi menduga bahwa telah terjadi kesalahan prosedur dalam teknik pengeboran tersebut. - Tentu saja kasus seperti itu memberikan pelajaran penting terutama menyangkut persiapan mengenai dampak lingkungan yang diakibatkan oleh proses pengeboran minyak dan gas bumi. Berulang-ulang terjadi kasus seperti ini, bukan hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Akan tetapi selalu saja terlambat mengantisipasinya. Untuk kesekian kalinya terbukti bahwa bangsa ini memang lemah dalam kemampuan manajerial. Apalagi jika benar bahwa pengeboran oleh Lapindo Brantas mengabaikan Amdal dan prosedur lainnya. |