logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Juni 2006 KEDU & DIY
Line

Korban Gempa

''Yang Terganggu Jiwanya Tinggal Enam''

YOGYAKARTA - Korban gempa yang terganggu jiwanya dan kini masih dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Sardjito, hingga kemarin masih enam orang.

Koordinator Lapangan Penanggulangan Gempa Bagian Jiwa RSUP dokter Bambang Hartayuda, Selasa (20/6) kepada wartawan mengungkapkan, keenam pasien tersebut sampai sekarang belum boleh pulang ke rumah masing-masing meski pihak keluarga mereka memintanya.

Hal itu dilakukan agar pasien tidak trauma lebih parah lagi. Sebab dikhawatirkan, begitu melihat rumahnya yang hancur bisa memicu kembali munculnya stres yang lebih parah lagi. Karena itu, sebelum mental pasien itu betul-betul pulih, RSUP tak memperbolehkannya pulang.

Apalagi, keenam pasien itu hingga kini masih mengalami trauma. Ada kekhawatiran, jika nanti terjadi gempa susulan, bakal memicu munculnya stres yang lebih parah lagi. Sekarang saja, ujarnya, kalau ada gempa mereka berteriak-teriak dan menangis.

''Ada di antara mereka yang langsung teriak, 'Gempanya datang, gempanya datang'. Ketika perawat atau dokter menenangkan, 'Sudah tidak apa-apa, gempanya sudah pergi', mereka mengatakan, ''Tadi perginya lewat pintu mana? Kok saya tidak tahu','' papar Bambang.

Tiba-tiba Histeris

Menurut keterangannya, terkadang mereka tidak ada apa-apa tiba-tiba mengamuk sambil berteriak-teriak histeris. Kalau sudah demikian, dokter dan perawat lalu memberi pasien tersebut obat penenang.

Setelah sadar dan kondisinya sedikit pulih, kemudian secara kelompok mereka menjalani terapi. Dengan cara, mengumpulkan dan mengajak mereka bicara mengenai rencana selanjutnya.

Sementara itu Direktur Rumah Sakit Grasia, Pakem, Kabupaten Sleman dokter Andung Rahadi MKes mengemukakan, penderita gangguan kejiwaan akibat bencana gempa bumi yang terjadi Sabtu, 27 Mei lalu ada 108 pasien.

Dari jumlah tersebut, yang mengalami rawat inap 72 orang sedangkan yang rawat jalan ada 36 orang. Yang menjadi masalah, ujar Andung, dari jumlah pasien tersebut tidak hanya mengalami ganguan jiwa saja tetapi ada yang jiwanya terganggu tetapi tubuhnya juga luka atau patah tulang akibat tertimpa dinding. ''Sudah jiwanya terganggu, tubuhnya luka, bahkan ada yang tulangnya patah. Pasien ini lama perawatannya,'' katanya.

Dari jumlah itu, empat pasien mengalami patah tulang dan 40 lainnya luka-luka. ''Jadi tidak hanya jiwanya tetapi juga fisiknya kami tangani,'' ucapnya. (sgt-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA