logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juni 2006 SALA
Line

Pengungsi Merapi Mulai Depresi

  • Akibat Kejenuhan Tak Ada Kepastian

KLATEN - Warga lereng Merapi yang berada di tenda posko pengungsian Dompol dan Keputran, Kecamatan Kemalang mulai dihinggapi depresi. Apalagi, tiga hari lalu mereka sempat diperbolehkan pulang sebelum akhirnya diungsikan kembali karena aktivitas Merapi yang belum membaik. Data dari Puskesmas Kemalang, sejak tiga hari terakhir 13 warga menderita pusing, delapan mag, dan tujuh orang mengalami gejala ngilu di persendian.

"Hal ini menunjukkan tingkat depresi warga yang tinggi, dan tiga gejala itu bisa terakumulasi menjadi satu, " ujar Kepala Pusat Pelayanan Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) Kecamatan Kemalang, dr Efy Kusumawati M Kes, Senin (19/6). Dia menyatakan dampak hujan abu yang sempat terjadi di tiga desa puncak yakni Tegalmulyo, Balerante, dan Sidorejo tidak begitu terasa oleh warga.

Meski ada beberapa yang mengeluhkan sesak napas, secara umum bukan dampak dari hujan abu. "Gejala yang muncul justru depresi ringan, seperti pusing, mag dan ngilu persendian. Hal ini wajar mengingat kondisi di pengungsian yang tidak seperti di rumah sendiri."

Dia juga mengatakan, pekan lalu ada penelitian untuk tingkat depresi warga oleh relawan dan hasilnya sama dengan yang diperolehnya. Kejenuhan dan ketidakpastian kondisi Gunung Merapi, menurutnya juga menjadi faktor utama penyebab kondisi psikologis warga. Selain tiga jenis penyakit itu, kata dia, warga juga banyak yang mengeluhkan susah tidur.

Jika gejala ini terjadi terus-menerus, maka bisa berakibat fatal karena dapat memperparah penyakit lain seperti tekanan darah tinggi dan tifus. "Meski indikasi stres ini semakin banyak, namun belum sampai tingkat yang fatal," lanjut dia.

Menurutnya, untuk warga yang mengalami gejala tersebut, saat ini posko kesehatan masih bisa menangani dan persediaan obat sangat mencukupi. Kejenuhan itu wajar karena mereka berada di barak pengungsian sejak dua bulan lalu. Apalagi, aktivitas sebagian warga masih terombang-ambing. Saat pagi mereka harus kembali ke rumah mengurus ternak dan sorenya turun ke barak pengungsian. Harta yang masih tertinggal di rumah juga menjadi pemikiran warga di pengungsian. Karena itu selain obat-obatan, adanya beberapa acara hiburan sangat membantu warga melupakan kejenuhan. (hsn,F5-36d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA