| Selasa, 20 Juni 2006 | PANTURA |
Pantai Pekalongan Mengkhawatirkan
PEKALONGAN - Kerusakan ekosistem pesisir Kota Pekalongan sudah mengkhawatirkan. Kerusakan itu menyangkut kerusakan fisik lingkungan pesisir, masalah sosial ekonomi, dan kelembagaan. Demikian dikatakan Dekan Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan Ir Hadi Pranggono MPi dalam seminar pada peringatan Hari Lingkungan Hidup di ruang sidang Sekretariat Kota, kemarin. Seminar dengan peserta para pelajar dan pencinta lingkungan itu juga menghadirkan narasumber Ketua LSM Belantara Pekalongan Priyadi Trahutomo ST. Menurut Hadi, pesisir Kota Pekalongan yang memiliki panjang garis pantai enam kilometer itu pada masa lalu masih memiliki hutan mangrove (bakau). Namun ketika masyarakat melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi tambak, terjadilah penggundulan hutan bakau yang luar biasa. Itu mereka lakukan hanya demi memperoleh lahan budi daya pertambakan yang lebih luas. Akibatnya, saat ini pantai menjadi gundul. Pohon bakau hanya tersisa di beberapa tempat seperti Slamaran, Panjangwetan, dan sedikit di Kandangpanjang. Kerusakan pantai juga terjadi akibat abrasi atau pengikisan garis pantai oleh arus air laut. Sebagian besar kerusakan pantai terjadi karena vegetasi pantai tidak berfungsi. Pantai Pekalongan mengalami abrasi karena vegetasi pantai ditebang habis. Selain itu, juga karena adanya bangunan di tepi pantai tanpa kajian terintegrasi, seperti pembangunan fisik yang menjorok ke laut yang menyebabkan pendangkalan muara sungai. Belum lagi aktivitas kapal ikan yang membuang limbah oli atau solar yang menyebabkan pencemaran muara sungai. Air pun menjadi hitam legam, berminyak, dan berbau menyengat karena bercampur dengan limbah batik dan tekstil serta limbah rumah tangga yang berasal dari daerah hulu. ''Hal ini tentu sangat berpengaruh bagi kelangsungan ekosistem biota perairan pantai dan laut,'' katanya. Menurut dia, untuk mencegah abrasi, diperlukan pendekatan biologis dan teknis. Pendekatan biologis dengan menjaga agar vegetasi pantai tak terganggu. Bila perlu dilakukan penghijauan. Adapun pendekatan teknis dilakukan dengan membangun tembok (tanggul) yang menghadang atau menahan abrasi ke arah daratan. Hadi menjelaskan, vegetasi pantai yang terpenting adalah mangrove. Kegiatan pencegahan hutan mangrove antara lain mencegah sedimentasi pada kawasan hutan, mencegah tumpahan minyak dari kapal. Kemudian, mencegah penebangan ilegal pada hutan mangrove, melarang kegiatan di pantai tanpa izin, antara lain pengambilan karang pantai, pasir, dan batuan pada kulit karang, dan biota laut. Pemkot selama ini telah mengendalikan kerusakan pesisir pantai dengan membangun break water, penanaman pohon bakau, dan pohon pantai lain. Kemudian juga membuat pintu pengatur air rob dan membangun instalasi pengolah air limbah (IPAL) untuk mengurangi pencemaran air sungai. Wali Kota HM Basyir dalam sambutannya mengatakan, Pemkot akan menjaga dan memelihara lingkungan dengan menanam bakau, ketapang, dan sukun di seputar pantai. Itu dilakukan untuk mencegah abrasi. (A15-54n) |