| Selasa, 20 Juni 2006 | OLAHRAGA |
Warga Jerman Terpanggil Galang DanaGEMPA di Yogyakarta dan Jateng, serta meningkatnya aktivitas Gunung Merapi membuat Indonesia menangis. Bencana-bencana itu menyisakan kegetiran dan kepahitan. Untuk meringankan beban mereka yang terkena musibah, berbagai bantuan berdatangan dari dalam dan luar negeri. Di Jerman, bencana itu juga mengakibatkan kesedihan. Karena itu, pada Minggu lalu, orang-orang Jerman yang pernah tinggal di Bumi Pertiwi menggelar aksi peduli bagi korban bencana tersebut. Acara itu juga terselenggara berkat dukungan mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Frankfurt. ''Warga Jerman yang pernah belajar di Indonesia berupaya membantu melalui acara penggalangan dana ini,'' kata Sven Kosel, wakil koordinator kegiatan itu. Sven bersama rekan-rekannya membuat tenda sederhana di Roomer, Frankfurt. Di depan tenda itu, mereka meminta bantuan dari orang-orang yang lewat dengan cara menyodorkan kaleng yang telah dilubangi. ''Kegiatan ini hanya berlangsung sehari dan merupakan yang pertama di Frankfurt,'' ujar Frans, ketua koordinator acara penggalangan dana tersebut. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 11.00 hingga sore hari. Mengenai jumlah uang yang terkumpul, mereka belum bisa memastikan. Yang jelas, setelah terkumpul, dana ini segera dikirim ke Yogyakarta. ''Uang itu akan kami kirimkan ke Yayasan Mimpi Lama Sekali (Milas). Yayasan ini yang akan menyalurkan bantuan,'' jelas Sven. Milas bermarkas di Jalan Mantrijeron MJ III/897 Yogyakarta. Yayasan itu dibentuk untuk menampung para anak jalanan. Namun ketika terjadi gempa bumi, yayasan itu berubah fungsi sebagai penyalur dana bantuan yang dikumpulkan di Jerman. ''Berapa pun jumlah uang yang terkumpul, kami berharap bisa meringankan beban mereka yang dirundung bencana,'' tambah Sven yang diamini Frans. Acara penggalangan dana ini juga mendapat dukungan dari Konjen RI di Frankfurt. Bambang Prija Hutama dari bagian penerangan, menyambut baik upaya yang dilakukan Frans dan kawan-kawan. Tsunami Pengalaman pernah belajar ke Indonesia itulah yang membuat mereka selalu mengikuti perkembangan di Tanah Air. Ketika tsunami menghancurkan Aceh, mereka pun menyelenggarakan penggalangan dana dan berhasil mengumpulkan 2.700 euro (sekarang senilai Rp 32,4 juta). Uang itu langsung dikirimkan melalui yayasan mereka. ''Kami tak mau bantuan kami salah alamat. Kami tulus dalam memberikan bantuan, meski jumlahnya memang tak seberapa,'' ungkap Sven, yang fasih berbahasa Indonesia. Ditanya jumlah mahasiswa Jerman yang pernah menuntut ilmu di Indonesia, dia tak bisa memastikan. Jumlahnya puluhan dan biasanya mengambil jurusan bahasa Indonesia. Sven yang beristrikan Wati asal Manado, pernah menimba ilmu di Universitas Sam Ratulangi. Kini, pria yang harus menggunakan tongkat karena kaki kanannya lumpuh itu, menjadi dosen ilmu pengetahuan Asia Tenggara di Universitas Frankfurt. Sven dan Frans memang punya kiat khusus untuk menarik orang-orang agar mau memberikan sumbangan. Begitu tenda berdiri, lagu dan musik Sunda mengalun melalui cd player. Supaya para pejalan kaki di sekeliling Roomer semakin tertarik, panitia menggelar tarian Aceh yang dibawakan empat perempuan. Benar saja, tatkala mereka menari, para pejalan kaki segera berkumpul untuk menikmati tarian itu. Pada saat itu beberapa cewek Jerman menyodorkan kaleng untuk meminta bantuan. Mereka yang terketuk, langsung memasukkan recehannya. Menurut Sven, dia tak mungkin melupakan Indonesia. ''Kami berharap Indonesia semakin maju dan damai,'' tegasnya. (Edi Indarto, dari Frankfurt-22) |