logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juni 2006 OLAHRAGA
Line

Korsel Berpesta

LEIPZIG-Setelah timnya berhasil menahan Prancis 1-1 pada penyisihan Grup G di Zentralstadion, Leipzig, kemarin, pelatih Korea Selatan Dick Advocaat langsung meliburkan para pemainnya.

Dia juga menyuruh Lee Won-jae dkk berpesta untuk merayakannya. Arsitek timnas asal Belanda itu menyebutkan, bermain seri dengan tim yang jauh lebih kuat bukan pekerjaan yang bisa dilakukan setiap hari. "Biarkan anak-anak sedikit berhura-hura. Setelah itu, kami akan mulai memikirkan laga melawan Swiss," tuturnya.

Perayaan itu sendiri telah berlangsung di Seoul, yang ribuan kilometer jauhnya dari Leipzig. Ratusan ribu warganya berpesta semalam suntuk di jalanan. Para pendukung fanatik yang menyebut diri Red Devils telah berkumpul di sudut-sudut ibu kota sekitar delapan jam sebelum peluit pertama dibunyikan wasit.

Kegembiraan mereka langsung meledak ketika Lee Won-jae cs dipastikan menangguk poin. Ledakan petasan, tiupan terompet, dentum genderang, dan percikan kembang api menjadi pelengkap perayaan itu. Suasana ini dilaporkan kantor berita Reuters mirip dengan perayaan empat tahun lalu saat Korsel lolos ke semifinal Piala Dunia 2002.

Sebaliknya, suasana muram tampak di Paris dan berbagai kota di Prancis. Para pendukung Les Bleus bersedih dengan hasil imbang yang diraih Zinedine Zidane dkk. Sudut-sudut kota, jalanan, dan kafe-kafe terlihat sepi.

Media massa Prancis dengan sinis mengkritik penampilan buruk anak-anak asuhan Raymond Domenech. Harian olahraga L 'Equipe mencetak headline dengan huruf besar, "Tanpa harapan".

Tekanan

Menurut analisis koran itu, Zidane cs hanya bagus di babak pertama dan gagal mendominasi babak kedua.

''Peluang Prancis sangat mengkhawatirkan," tulis L 'Equipe. Koran lainnya, Le Figaro membuat judul "Prancis dalam bahaya". Sedangkan Liberation menulis, "Prancis gagal".

Pasukan Domenech sebenarnya membuat sejarah saat Thierry Henry menciptakan gol pada menit kedelapan. Gol itu menjadi gol yang pertama sejak partai final 1998.

Bermula dari tendangan Slyvain Wiltord di kotak penalti, bola yang membentur kaki lawan bergulir menuju Thierry Henry yang langsung menembaknya. Bola yang meluncur deras tak mampu diadang kiper .

Setelah unggul, Prancis tak mengendurkan serangannya. Pertahanan Korsel terus berada dalam tekanan. Zidane dkk membuat beberapa peluang. Bahkan tandukan Patrick Vieira pada menit ke-33 terlihat seperti telah melewati garis gawang. Tetapi wasit tidak mengesahkannya sebagai gol.

Permainan Korsel bangkit memasuki babak kedua. Mereka berupaya menyamakan kedudukan. Akhirnya kesempatan itu datang sembilan menit sebelum laga usai. Sundulan Cho Jae-jin di depan gawang Fabien Barthez berhasil dicungkil Park Ji-sung.

Barthez yang mencoba menepisnya malahan mengubah arah bola hingga bersarang di jala. Berkat gol itu, Park dipilih sebagai pemain terbaik oleh Grup Studi Teknik (TSG) FIFA .

"Saya kecewa. Kami tak mencetak satu, melainkan dua gol. Masalahnya wasit tak mengesahkan tandukan Vieira," kata Domenech. Namun, dia tetap memuji penampilan Korsel dan menyebut semangat bertanding mereka luar biasa.

Advocaat mengaku anak-anak asuhnya cukup beruntung dengan hasil imbang. Prancis disebutnya sebagai tim yang kuat dan salah satu favorit juara. "Melawan Swiss pada laga berikutnya juga bukan hal mudah. Kami tinggal bermain sekali lagi dan tak seorang pun bisa memperkirakan hasilnya," katanya. (rtr,H29-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA