| Selasa, 20 Juni 2006 | WACANA |
Keluarga Pintar, Sadar Gizi
SETEGAR namanya, Tegar Sapta Wijaya (2) mencoba bertahan hidup, meski kini dia hanya bisa tergolek lemas di tempat tidurnya. Perutnya yang membuncit terlihat lebih dominan dibanding tubuhnya yang cuma 5,6 kg. Matanya yang membelalak hanya bisa menatap kosong. Dari wajahnya yang mungil itu, Tegar pun hanya menyiratkan kepasrahan akan masa depannya kelak. Putra Sumarni dan Agus, warga Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ini hanyalah satu di antara ribuan bahkan mungkin jutaan anak kurang gizi yang tersebar di nusantara tercinta ini. Secercah harapan kini muncul, karena Tegar tengah menjalani program penanganan gizi buruk Dinas Kesehatan Kota Semarang. Sungguh menyedihkan jika di negara ini masih banyak ditemukan balita kurang gizi. Padahal ibarat pepatah, di tanah ini batang ditanam pun bisa tumbuh menjadi pohon. Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam ini seharusnya bisa menyejahterakan rakyatnya. Tapi, tentu saja Tuhan tidak serta merta memberikan segalanya tanpa ada jerih payah manusia. Artinya, manusialah yang harus pandai-pandai menggali, mengolah atau memanfaatkannya. Caranya, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lantas, bagaimana semua itu bisa dilakukan jika generasi penerus bangsa ini kekurangan gizi? Bagaimana dengan sumber daya manusia Indonesia kelak, jika saat ini ditemukan begitu banyak balita bergizi buruk. Sungguh ironis, jika bangsa ini harus mengalami lost generation, akibat banyaknya kasus-kasus yang menyangkut kesehatan balita. Mulai dari kurang gizi, lumpuh layuh atau polio, tuberkulosa, dan penyakit lainnya. "Masalah kurang gizi merupakan cerminan kondisi sosial ekonomi suatu bangsa. Bukan hanya masalah kesehatan, tapi sosial, ekonomi, budaya, perilaku, kebiasaan, dan pola makan," kata Kepala Dinas Kesehatan Jateng dr Budihardja, dalam sebuah acara di Semarang, beberapa waktu lalu. Data Dinas Kesehatan hingga Maret 2006 mencatat, di Jateng terdapat 42.000 bayi yang lahir dengan berat badan rendah (BBLR), 8.671 balita bergizi buruk, 47,8% menderita anemia zat gizi (AGB), dan 928.000 anak kekurangan vitamin (KVA) non klinis. Dari data tersebut juga terungkap, tidak semua balita bergizi buruk berasal dari golongan ekonomi lemah atau miskin. Tidak sedikit dari mereka yang orang tuanya sebenarnya mampu memberikan makanan bergizi pada anaknya. Lalu, siapa yang salah jika ternyata anaknya menderita gizi buruk. Jika kenyataannya sudah seperti ini, rasanya tak ada gunanya bila menyalahkan ekonomi, takdir, atau bahkan nasib. Tak perlu juga terlalu menuntut pemerintah menurunkan bantuan bahan pangan dan sebagainya untuk menyelamatkan para balita. Apa yang bisa dilakukan adalah bercermin dan menanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa diperbuat untuk menyelamatkan anak dan istri, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita. Minimal itulah yang rasanya bisa langsung diperbuat. "Saya bisa menyelamatkan anak saya dengan memberinya makanan bergizi, agar dia tumbuh sehat, kuat dan pandai." Apakah makanan bergizi itu mahal? Jawabannya tidak. Tidak perlu terlalu jauh membayangkan harus menyediakan makanan-makanan enak dan mahal. Tak perlu ayam goreng, daging rendang, dan sebagainya. Anak-anak yang berpola makan salah, seperti kebiasaan mengonsumsi junk food, juga bukan tidak mungkin akan mengalami kurang gizi. Pola Pikir Dalam kondisi ekonomi sulit seperti ini rasanya memang tak perlu meributkan apalagi ngotot untuk menyantap makanan lezat. Tempe atau tahu goreng, sayur bayam dengan nasi, misalnya, diharapkan sudah bisa memberinya asupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Meski sesekali perlu diselingi pemberian telur, ikan dan susu. Para orang tua pun sudah saatnya lebih memperhatikan dan mengutamakan makanan bagi anak-anaknya. Tak perlu lagi ibu menyimpan telur untuk bapak, tapi berikanlah untuk anak-anak karena mereka lebih membutuhkan. Pola pikir atau tradisi kuno bahwa bapak sebagai kepala rumah tangga, pencari nafkah harus mendapatkan makanan yang lebih "istimewa" dari anak-anak sudah saatnya dihapus. Justru anak-anak merekalah yang perlu diutamakan, apakah asupan gizi, vitamin , dan mineral yang dibutuhkan sudah cukup untuk menunjang pertumbuhannya. Semua itu hendaknya juga dimulai dari kesadaran seorang ibu mengawal sebuah janin di dalam rahimnya. Ibarat tanaman, jika selalu dipupuk dan disirami, maka akan tumbuh dengan subur. Bayi sejak dalam perut pun demikian. Jika ibu dengan sadar menjaga kesehatan dan mencukupi kebutuhannya akan gizi, maka niscaya bayi yang dilahirkannya juga akan sehat. Selain memberikan ASI eksklusif, seorang ibu juga dituntut mampu mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anaknya. Sang bapak pun tak kalah berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi anaknya dengan mencari nafkah dan mau ''mengalah'', misalnya tidak merokok demi mengawal pertumbuhan anak-anaknya. Peran para pengurus rukun tetangga atau warga (RT/RW) juga sangat dibutuhkan kepeduliannya. Pemberian bantuan bahan makanan terutama bagi anak-anak balita dari keluarga miskin bisa disalurkan lewat ibu-ibu PKK. Dananya dari subsidi silang melalui penarikan sumbangan atau sedekah yang digalakkan di tingkat RT/RW. Ibu-ibu PKK dan petugas puskesmas juga bisa berperan aktif melalui posyandu untuk memberikan pengetahuan mengenai makanan sehat dan bergizi kepada ibu-ibu di lingkungannya. Kegiatan ini memang tidak mudah, perlu ketekunan dalam jangka waktu yang cukup lama. Seperti melakukan penyuluhan, percontohan dan pendampingan selama 3-6 bulan. Seperti yang diungkapkan pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Undip dr Fatimah Muis MSc SPGK, peran dan tindakan penyadaran gizi terhadap masyarakat harus tuntas, jangan setengah-setengah. Artinya harus dilaksanakan bersama-sama, antara PKK, puskesmas, posyandu, dan masyarakat itu sendiri. Jika tidak ada dananya, ajukan pada pemerintah melalui instansi terkait. Dia menyayangkan jika selama ini penanganan masalah balita kurang gizi, ibaratnya hanya berpusat di hilir. Sedangkan permasalahan di hulu terabaikan atau bahkan tidak terjangkau. ''Masalah ini sangat kompleks, banyak sekali ''biang keroknya''. Sayangnya, selama ini penanganan baru dilakukan ketika sudah ditemukan anak yang bergizi buruk.'' Padahal, lanjut dia, pengaruh kegagalan program keluarga berencana (KB), terutama di kalangan masyarakat bawah juga sangat besar. ''Masih banyak keluarga tak mampu yang punya anak banyak. Bisa dibayangkan bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan makan anak-anaknya? Karena itu, KB harus bisa digalakkan kembali,'' tegasnya. Jika masyarakat sudah bisa memahami pentingnya keluarga kecil sejahtera, dan sadar betul akan pentingnya gizi bagi masa depan anak-anaknya, niscaya akan tumbuh generasi penerus yang sehat dan berkualitas. Tanpa bermaksud meniru sebuah tayangan iklan produk tertentu, rasanya tak berlebihan jika kita berslogan ''Keluarga Pintar, Sadar Gizi.'' (36) -Renny Martini, wartawan Suara Merdeka di Semarang |