| Selasa, 20 Juni 2006 | WACANA |
Mengapa Memilih SPMB?
Pengelola SPMB menyusul soal dan mengolah data secara profesional. Selain hasil yang disajikan dalam bentuk ranking sesuai pilihan program studi, SPMB juga bisa menetapkan kualitas peserta melalui indikator keketatan persaingan dan nilai rataan. Kedua skor ini menunjukkan kualitas PTN. Pola SPMB dengan jumlah peserta yang mencapai 320.000 orang menciptakan tingkat kompetisi yang tinggi, sehingga akan dihasilkan input yang berkualitas. Masukan yang demikian ini dibutuhkan untuk menjamin tercapainya mutu lulusan. PENGUMUMAN kelulusan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) kemarin berlangsung. Sejalan dengan itu pola Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang beranggotakan 53 perguruan tinggi negeri (PTN) se-Indonesia akan membuka pendaftarannya mulai hari ini tanggal 20 s/d 30 Juni. Meskipun di antara siswa SMTA telah mencoba masuk melalui jalur non-SPMB di berbagai PTN yang membuka pendaftarannya lebih awal, namun jalur SPMB masih menjadi pilihan. Sementara itu meskipun hampir seluruh PTN juga telah menyelenggarakan seleksi awal melalui non-SPMB, tetapi mereka juga masih mendambakan input calon mahasiswa dari SPMB. Mengapa SPMB masih menjadi tumpuan? Efisien dan Murah Bagi calon mahasiswa SPMB dipandang efisien dan murah dibanding dengan jalur seleksi individual PTN (non-SPMB) karena dua alasan. Pertama, untuk memasuki PTN pilihan melalui SPMB tidak perlu datang in person ke lokasi PTN. Mereka bisa mendaftar melalui PTN yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Misalnya calon mahasiswa dari Papua yang ingin masuk Undip bisa mendaftar melalui Universitas Cendrawasih di Jayapura atau Universitas Papua di Manokwari. Demikian juga siswa dari Jawa yang berminat ke Medan tidak perlu bersusah payah datang ke ibukota Sumatera Utara itu, tetapi bisa mendaftar melalui PTN yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Kita tidak membayangkan kalau SPMB ini dihapus lalu masing-masing PTN menyelenggarakan seleksi secara mandiri, maka bulan Juni-Juli akan menjadi bulan yang sangat sibuk dengan lalu lalang siswa dari satu kota ke kota lain di berbagai penjuru tanah air kita ini. Suasananya akan melebihi masa mudik lebaran. Menurut catatan panitia SPMB, tahun 2002 tercatat 25,7% atau sebanyak 103.000 peserta SPMB merupakan peminat lintas lokasi. Sedangkan pada tahun 2003, peserta lintas lokasi mencapai 23,38% atau 82.451 orang. SPMB dikelompokkan menjadi tiga regional. Regional satu meliputi PTN di Jawa Barat, Banten, Sumatera dan Kalimantan Barat. Regional dua mencakup PTN di Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sedangkan regional tiga terdiri dari PTN di Jawa Timur, Sulawesi, NTB, NTT, Maluku, dan Papua. Alasan kedua, bukan rahasia lagi kalau biaya masuk pada PTN yang tergabung di SPMB lebih murah dibanding yang melalui seleksi individual PTN. Hampir semua PTN yang tergabung dalam SPMB menyelenggarakan seleksi mandiri atau non-SPMB yang lebih awal, meskipun persentase jumlah mahasiswa yang akan diterima sangat bervariasi. UGM dengan Ujian Masuk Univesitas Gadjah Mada (UM-UGM) mengambil porsi 75%, Undip melalui Program Seleksi Siswa Berpotensi (PSSB) mengalokasikan 25%, UNS sekitar 15%, Unnes mencapai 50%, ITB dan UI 25%. Konsep awal seleksi mandiri ini untuk menjaring siswa berprestasi dan pemerataan antardaerah. Tetapi tidak urung sebagian dari pola seleksi mandiri itu ada persyaratan untuk memberikan sumbangan bagi pengembangan PTN yang bersangkutan, meskipun persyaratan prestasi akademik masih tetap melekat. Besarnya sumbangan melalui jalur pengembangan ini bervariasi antara satu PTN dengan PTN lain. ITB misalnya menetapkan sumbangan kemitraan sebesar Rp 45 juta, sehingga mahasiswa yang memasuki jalur ini dikenal dengan julukan mahasiswa angkatan 45. UGM melalui jalur Penelusuran Bakat Swadana menetapkan sumbangan antara Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Undip dengan PSSB pengembangan (alokasinya hanya 1,5% atau 80 siswa dari jumlah mahasiswa yang akan diterima) mematok sumbangan antara Rp 25 juta sampai Rp 125 juta. Makin favorit program studi, makin mahal sumbangan yang dipungut. Untuk program pendidikan dokter di PTN di Surabaya kabarnya bisa mencapai Rp 250 juta. Praktis dan Ekonomis Bagi PTN anggota SPMB beberapa keuntungan bisa didapat. Pertama, lebih praktis dan ekonomis. SPMB merupakan penyelenggaraan seleksi masuk yang telah berpengalaman lebih dari 28 tahun. Ia merupakan jelmaan dari SKALU (Sistem Seleksi Lima Universitas), Proyek Perintis 1-4, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) disusul UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan sejak tahun 2002 berubah label menjadi SPMB. Pengelola SPMB menyusun soal dan mengolah data secara profesional. Selain hasil yang disajikan dalam bentuk ranking sesuai pilihan program studi, SPMB juga bisa menetapkan kualitas peserta melalui indikator keketatan persaingan dan nilai rataan. Kedua skor ini menunjukkan kualitas PTN. Pola SPMB dengan jumlah peserta yang mencapai 320.000 orang menciptakan tingkat kompetisi yang tinggi, sehingga akan dihasilkan input yang berkualitas. Masukan yang demikian ini dibutuhkan untuk menjamin tercapainya mutu lulusan. Tidak mengherankan jika PTN peserta SPMB terus bertambah. Tahun 2002 ketika para rektor menorehkan kesepakatan untuk menyelenggarakan seleksi bersama melalui SPMB, jumlah pesertanya baru 46 PTN. Selama kurun waktu empat tahun anggotanya bertambah menjadi 53 PTN. Dua PTN yang baru bergabung tahun 2006 ini adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta dan Malang. Selama kurun waktu tahun 2002 sampai 2005 jumlah program studi yang ditawarkan juga meningkat dari 1.471 program studi menjadi 1.799. Sejalan dengan hal itu, daya tampung juga meningkat dari 82.482 pada tahun 2002 menjadi 90.270 pada tahun 2005. Bagi PTN kecil seperti di Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, NTT dan Papua yang jumlah pendaftarnya terbatas merasa diuntungkan dengan mengikuti seleksi bersama ini. Kalau mereka menyelenggarakan sendiri dengan peserta kurang dari 1.000 orang akan tidak efisien. Di sinilah terjadi subsidi silang antara PTN besar dengan PTN kecil. Keperansertaan PTN dalam SPMB mampu menumbuhkan rasa keindonesiaan. Kemudahan dalam mengikuti seleksi melalui PTN terdekat juga mampu menumbuhkan perekat kebangsaan. Meskipun demikian ada juga PTN yang mulai mengendorkan komitmennya dengan mengurangi secara signifikan alokasi calon mahasiswa SPMB dengan memperbanyak porsi melalui seleksi mandiri. Salah satu motifnya sudah bisa ditebak yakni keuntungan finansial. Dengan jumlah pendaftar yang banyak akan memberi keuntungan PTN yang bersangkutan. Apalagi kalau jumlah yang besar tersebut melalui jalur sumbangan pengembangan. Kebijakan PTN ini menuai protes dari berbagai PTN terutama di luar Jawa karena mereka merasakan bahwa bibit unggul di daerahnya telah diijo dan disedot ke PTN tersebut. Langkah PTN yang mbalelo ini semula dikhawatirkan diikuti oleh PTN besar lain. Namun ternyata hal itu tidak terjadi, bahkan PTN yang mbalelo tersebut mulai menambah porsinya untuk SPMB meskipun jumlahnya belum seperti PTN lain. Mudah-mudahan saja kebersamaan PTN di negeri ini terus berlanjut dan bisa menjadi contoh dalam mendidik anak bangsa. (11) - Sudharto P Hadi, pembantu rektor bidang Akademik Undip dan Sekretaris Pengurus Perhimpunan SPMB Regional II. |