logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juni 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Orang Lapar dan Menganggur Tak Bisa Menunggu

-- Pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Manado, Minggu lalu, merupakan pujian sekaligus kritikan kepada para ekonom di negeri ini. Pada satu sisi, SBY mengakui keberhasilan mereka yang kini duduk di kabinet dan menjadi gubernur Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi makro. Namun pada sisi lain, Presiden menekankan, semua itu belumlah mencukupi. Necessary but not sufficient. Karena untuk apa stabilitas, kalau tak mampu mendorong perekonomian dan menciptakan banyak lapangan kerja. Padahal, itulah tantangan riil yang kita hadapi saat ini. Sekitar 40 juta orang sekarang menganggur baik penuh maupun tersembunyi. Mereka semua membutuhkan pekerjaan.

-- Atas kondisi seperti itulah, Presiden kemudian menantang para ekonom untuk merumuskan kebijakan yang tidak hanya menjamin stabilitas tetapi juga pertumbuhan dan sekaligus gerak sektor riil baik investasi maupun perdagangan. Orang yang lapar tidak bisa lagi menunggu. Demikian pula orang yang menganggur. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk mencari langkah-langkah terobosan dengan berbagai kebijakan agar dunia usaha dapat segera bergerak dan investasi berkembang sehingga mengatasi problem pengangguran yang semakin serius di negeri ini. Kendati demikian, stabilitas diakui masih menjadi prasyarat mutlak karena tanpa stabilitas kepercayaan dan kepastian tidak akan diperoleh. Dan, tanpa kepastian bisnis pun sulit diperoleh.

-- Dalam konteks ini, ekonom tak bisa hanya mengandalkan pendekatan konservatif dan konvensional melalui kebijakan fiskal dan moneter seperti yang ada selama ini. Kendati itu bisa mewujudkan stabilitas, terbukti hanya mampu mendorong laju pertumbuhan sekitar 5%. Padahal, kita membutuhkan 7-8% agar secara bertahap pengangguran bisa teratasi dan kemiskinan bisa dikurangi. Kita membutuhkan speed yang lebih dan itu hanya bisa didekati dengan pendekatan yang nonkonvensional. Haruslah ada pemikiran yang lebih pragmatis dalam melihat persoalan sehingga kebijakan ekonomi bisa langsung menyentuh kebutuhan dunia usaha. Memperbaiki iklim usaha dan juga daya tarik bagi investor asing.

-- Apa yang dilakukan selama ini sudah relatif baik dalam kerangka pemulihan ekonomi. Namun, kita tak bisa menunggu terlalu lama untuk tidak segera melakukan upaya tambahan dalam rangka menggerakkan perekonomian. Sektor riil haruslah segera bergerak, pertanian perlu segera direvitalisasi serta sektor perindustrian pun perlu dikembangkan menghadapi pasar global. Upaya demikian tidaklah mudah apalagi kita masih selalu menghadapi pengaruh luar berupa external shock yang bisa datang setiap saat. Fluktuasi harga minyak dunia, naik turun kurs dolar, dan masih banyak lagi. Sementara itu, kita belum juga memiliki kekukuhan ekonomi terutama setelah krisis melanda negeri ini pada sejak 1997. Masa pemulihan masih memerlukan waktu relatif lama.

-- Maka tantangan ekonom kedua yang diberikan oleh Presiden adalah bagaimana membangun fundamen ekonomi yang lebih kukuh. Dan, itulah yang perlu diletakkan dalam rangka membangung struktur dan ataupun strategi perekonomian ke depan. Para ekonom senior cenderung untuk tidak merombak secara besar-besaran atau berkeinginan membentuk new paradigm. Mereka lebih condong pada upaya perbaikan dengan modifikasi atau memperbaiki yang sudah ada. Sebab, kita tak boleh bersikap ahistoris. Tidak boleh meninggalkan sejarah yang sesungguhnya merupakan pelajaran dan pengalaman berharga untuk perumusan kebijakan selanjutnya. Perlu juga dipertimbangkan adanya faktor nonekonomi, seperti politik dan sosial.

-- Kembali pada persoalan yang dikemukan di atas, dalam jangka pendek karena tak bisa menunggu waktu terlalu lama, kita mesti dapat merumuskan kebijakan dan strategi ekonomi yang mampu menjawab tantangan pengangguran yang makin memprihatinkan. Dalam beberapa hal perlu kompromi dengan kepentingan stabilitas, seperti menurunkan suku bunga dan menggerakkan kembali fungsi intermediasi perbankan. Di samping itu, ekonomi membutuhkan dukungan sektor lain, seperti politik, sosial, hukum, dan keamanan. Bagaimana mungkin situasi akan kondusif jika terus direcoki politik. Sekarang ini pun politik belum dapat dikatakan stabil, mengingat masih banyak gejolak di kalangan elite politik. Mereka seperti tak sabar menunggu suksesi lima tahunan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA