| Selasa, 20 Juni 2006 | NASIONAL |
Jateng Kuasai 70% Industri Cetak
SEMARANG - Sampai pertengahan tahun 2006, jumlah industri cetak di Jateng, baik yang terdaftar maupun tidak, diperkirakan lebih dari 400 perusahaan. Dengan jumlah sebanyak itu, Jateng menguasai 70% industri cetak nasional. Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Grafika Indonesia Pudjo Sumedi AS di sela-sela acara Seminar Nasional Grafika dan Klinik di Hotel Horison (19/6). Ketua DPP PPGI Triwiharto menambahkan bahwa omzet industri cetak Jateng mencapai triliunan rupiah. Lebih lanjut Pudjo menuturkan, 77% industri cetak masih berada di Jawa. Meski banyak yang menggunakan peralatan modern, tidak sedikit yang bertahan dengan peralatan sederhana atau bekas. Ke depan, sambung dia, diperlukan peningkatan kualitas karena konsumen semakin kritis. "Jangan sampai ada yang bilang, mesin dan kertasnya sama tetapi hasil cetakan kita kalah dengan luar negeri." Pada acara yang juga diprakarsai PT Masscom Graphy itu, Ketua DPD PPGI Jateng Kukrit SW dalam sambutannya menuturkan, selain mutu cetak, kualitas SDM juga memiliki peranan penting dalam eksistensi sebuah perusahaan grafika, baik besar maupun kecil. Senada dengan Pudjo, Kukrit menegaskan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, penguasaan teknologi mutlak diperlukan. "Penguasaan teknologi yang tepat bisa meminimalisasi kesalahan. Efisiensi perusahaan juga lebih optimal." Kembangkan Sayap Acara tersebut dibuka Staf Ahli Gubernur Jateng Bidang Perumahan dan Pemukiman Subagyo L. Tampil sebagai pembicara CEO Prodist Auke van der Meulen MBA dan pengajar Akademi Teknologi Grafika Indonesia Jakarta Koeswandono P. Masing-masing membawakan makalah yang bertemakan management information systems (MIS) dan trouble shooting web offset. Di hadapan 123 peserta yang terdiri atas manajer dan operator grafika dari Jateng dan provinsi-provinsi lain, Auke sebagai wakil dari Prodist International memperkenalkan software baru (MIS) yang didesain untuk mengoptimalkan hasil produksi cetak. Perusahaan yang mengkhususkan diri pada industri cetak itu mulai mengembangkan piranti lunak sejak 1993. Piranti itu bisa digunakan pada perusahaan besar dan kecil. Di Eropa, menurut dia, 500 perusahaan sudah menggunakan perangkat tersebut. "Prodist merupakan market leader di Eropa. Saat ini kami sedang mengembangkan sayap ke Asia," ujarnya. Selain bisa memperbaiki mutu cetak, lanjutnya, MIS juga bisa menekan ongkos produksi. Pasalnya, sistem itu mengurangi biaya kesalahan dan operasional. "Ini merupakan investasi yang baik. Dengan begitu, pelanggan akan menaruh kepercayaan lebih pada perusahaan Anda," katanya. (H11-60m) | ||||