logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juni 2006 NASIONAL
Line

Banjir Lumpur Panas di Porong (1)

Siapkan Tiga Skenario, Butuh Lahan 200 Hektare

Sejak 29 Mei 2006 hingga kemarin, semburan lumpur panas yang disertai bau gas di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jatim, belum bisa diredam. Ribuan warga dirugikan. Bagaimana mengatasi masalah itu?

RAPAT lengkap membahas lumpur panas berbau gas yang dihadiri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (19/6).

Gubernur Jatim, Imam Utomo; pimpinan BP Migas; Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Syamsul Mapparepa; Dirut PT Lapindo Brantas, Imam Agustino; dan perwakilan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH), ikut pula dalam pertemuan itu.

Ada simpulan penting untuk menanggulangi semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, itu. Yakni, menyiapkan tiga skenario.

Apa saja? Pertama, membuat kolam penampungan. Untuk tahap pertama, dibutuhkan lahan sekitar 79 hektare. Kolam penampungan itu berfungsi menampung lumpur panas berbau gas yang dikeluarkan sumur gas di sekitar lokasi eksplorasi PT Lapindo Brantas.

''Lahan seluas 79 hektare, bisa digunakan hingga 29 Juli 2009. Kalau semburan tak bisa dihentikan, kami butuhkan lagi lahan tambahan seluas 145 hektare. Itu jika mekanisme snubbing unit yang kami lakukan tak membuahkan hasil,'' kata Gempur Adnan, deputi KNLH Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan.

Dibutuhkan sekitar tiga minggu untuk proses pengerjaan secara teknis pemasangan snubbing unit dan pencarian sumber semburan lumpur panas berbau gas tersebut.

''Menanggulangi sumber lumpur panas itu prioritas pertama yang kami kerjakan,'' kata Dirut PT Lapindo Brantas, Imam Agustino.

Jika skenario pertama tidak lancar, dijalankan skenario kedua, dengan menjalankan apa yang disebut slary injection. Skenario itu minimal menimbulkan efek pencemaran lingkungan. Namun secara teknis, penggarapannya tidak mudah.

Bagaimana bila kedua skenario menemui jalan buntu? Tentu disiapkan skenario ketiga, dengan melakukan treatment lumpur yang keluar dari sumur gas itu sebelum dibuang ke Kali Porong. Pilihan membuang lumpur panas ke Kali Porong, dilakukan mengingat secara geografis sungai itu adalah lahan terdekat.

Pencemaran

Efek langkah ketiga tersebut, memang rawan menimbulkan pencemaran lingkungan dan pendangkalan Kali Porong dalam tempo cepat dengan volume besar.

Maklum, besaran lumpur panas yang dikeluarkan dari sumur gas itu mencapai 5.000 meter kubik per hari.

''Itu pilihan terakhir. Akan kami lihat dan buang ke Kali Porong, setelah dilakukan treatment pada lumpur panas tersebut,'' kata Gempur.

Secara riil, kondisi Kali Porong kurang mendukung sebagai lahan buangan lumpur panas tersebut. Faktor yang mesti diperhatikan, selain kondisi fisik Kali Porong dengan sedimentasi yang cukup tinggi, juga lumpur panas tersebut diperkirakan mengandung banyak zat kimia, di antaranya H2S (asam sulfida) dan HC (hidrokarbon).

Dua jenis bahan kimia tersebut, dikhawatirkan menganggu kesehatan pernapasan dan bisa mengakibatkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Pada musim kemarau, debit air Kali Porong sekitar 100 liter per detik, sedangkan pada musim hujan sebanyak 1.500 liter per detik.

''Kalau ada bahan kimia, tentunya kami handle. Kini, kami sedang meneliti khusus bahan kimia yang terdapat di lumpur panas tersebut. Dalam minggu ini, hasil penelitian itu keluar,'' ungkap Gempur.

Dengan volume lumpur panas sebanyak 5.000 meter kubik per hari, maka per detik lumpur itu ekuivalen dengan 60 liter.

Banjir lumpur panas di Porong, merupakan kejadian tak terduga setelah prahara gempa bumi yang melululantakkan Yogyakarta dan Jateng.

Ketika semburan lumpur panas itu kali pertama muncul dan menggenangi tiga desa terdekat, yakni Siring, Renokenongo, dan Jatirejo, Kecamatan Porong, sempat muncul kontroversi apakah semburan lumpur panas itu efek eksplorasi gas PT Lapindo Brantas atau ada kaitannya dengan jaringan geologis gempa bumi Yogyakarta dan Jateng.

Yang pasti, semburan lumpur panas sejak 29 Mei 2006 hingga kemarin itu belum tertangani dengan baik. Bahkan, luberan lumpur panas tersebut merambah ke wilayah Kecamatan Tanggulangin. (Ainur Rohim-46a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA