| Selasa, 20 Juni 2006 | NASIONAL |
Ukraina Membuka Peluang Swiss Singkirkan Togo
FRANKFURT - Tim debutan Eropa, Ukraina membuat kejutan dengan membungkam Arab Saudi empat gol tanpa balas dalam pertandingan kedua Grup H di Stadion AOL-Arena Hamburg, semalam. Andriy Shevchenko dkk yang pada pertandingan melawan Spanyol pekan lalu terlihat tidak berdaya -kalah telak 0-4- bangkit untuk membuang Arab Saudi dari jalur persaingan. Ukraina membuka keunggulan ketika pertandingan baru berjalan empat menit lewat pemain belakang Andriy Rusol, dilengkapi oleh Serhiy Rebrov (36'), Andriy Shevchenko (46'), dan Maksym Kalinichenko (84'). Wartawan Suara Merdeka Edi Indarto melaporkan dari Jerman, peluang Sami al-Jaber dkk sebenarnya belum tertutup rapat karena masih ada satu partai lagi. Namun dengan kekalahan telak dari Ukraina tersebut, sangat mustahil mereka bisa lolos. Apalagi lawan terakhir yang bakal dihadapi adalah salah satu favorit juara, Spanyol. Sedangkan bagi Ukraina, menang 4-0 jelas menjadi modal besar menjelang laga terakhir melawan wakil Afrika, Tunisia. Jika Shevchenko cs mampu menjinakkan Tunisia, maka tiket ke 16 besar sudah pasti ada di tangan. Kiat pelatih Oleg Blokhin yang mengubah format permainan 4-4-2 ke 3-5-2 dengan lebih banyak menurunkan gelandang bertipe menyerang terbukti ampuh. Serangan mereka mengalir rapi. Arab Saudi, yang sebenarnya lebih unggul dalam penguasaan bola (57%), tidak mampu membuka gerendel pertahanan lawan. Upaya Mohammad Noor selalu kandas bahkan sebelum bola mendekati kotak penalti. Ketika arsitek Arab Saudi Marcos Paqueta menarik Noor dan memasukkan Sami al-Jaber pada pertengahan babak kedua, juga tidak terjadi perubahan dalam daya gedor tim negeri petrodolar itu. Mereka tetap saja tak mampu melakukan tekanan membahayakan. Trio pertahanan Ukraina, Vyacheslav Svidersky, Andriy Rusol, dan Andriy Nesmachny, tampil penuh disiplin. Togo Terhenti Di Westfalenstadion Dortmund, tim nasional Swiss membuka peluang lolos ke babak 16 besar setelah menaklukkan Togo 2-0, semalam. Dengan raihan empat poin hasil sekali menang dan sekali imbang, Johann Vogel dkk kini memimpin Grup G. Pada laga penyisihan terakhir nanti, Swiss akan menghadapi runner-up Korea Selatan yang memiliki nilai sama tetapi kalah selisih gol. Sebaliknya bagi Togo, kekalahan itu praktis menyingkirkan mereka dari persaingan. Tim asuhan Otto Pfister itu harus rela tersisih secara menyakitkan pada debut mereka di putaran final. Massamasso Tchangai cs bermain di bawah bayang-bayang penolakan pemberian bonus, desersi pelatih, dan isu miring pemogokan. Swiss tampil menggebrak sejak menit-menit awal. Hasilnya, striker Alexander Frei mencetak gol pertama pada menit 16 berkat assist Tranquillo Barnetta. Barnetta kembali membuktikan kapasitasnya dengan menyumbangkan gol kedua bagi Swiss, dua menit menjelang pertandingan usai. Gol yang memastikan keunggulan skuad Koebi Kuhn itu lahir lewat tendangan kerasnya dari sudut sempit sebelah kiri gawang Kossi Agassa. Togo sebenarnya mampu mengimbangi permainan Vogel cs. Aksi penyerang Emmanuel Adebayor dan pemain pengganti Salifou Mustapha beberapa kali mengancam gawang Pascal Zuberbuehler. Hanya saja, mereka terlihat kurang solid dan bermain tanpa kerja sama tim yang baik. Pada menit ke-35, Togo seharusnya mendapatkan tendangan penalti ketika Adebayor dijatuhkan Patrick Mueller. Tetapi, wasit asal Paraguay Carlos Amarilla tak menganggapnya sebagai pelanggaran. Frei yang terpilih sebagai man of the match menyebut gol kedua yang dicetak Barnetta sangat penting. Selain mengamankan keunggulan mereka atas Togo, hal itu juga membuat selisih gol Swiss lebih baik daripada Korsel. Pasukan Kuhn kini hanya membutuhkan hasil seri melawan Tim Ginseng untuk lolos ke ronde knock-out. "Pelatih meminta kami untuk mencetak gol lagi di babak kedua. Menurutnya, dua gol itu ideal," kata Frei. Kekecewaan ditunjukkan pelatih Togo, Pfister. Dia menyebut Tchangai dkk pantas mendapat hadiah penalti ketika Adebayor dilanggar Mueller. "Swiss tak punya banyak peluang. Mereka hanya lebih baik dalam penyelesaian akhir. Sulit untuk mempercayai fakta tragis bahwa kami tak mendapatkan penalti di saat kami layak memperolehnya," kata Pfister. "Tentu kami tak bahagia dengan hasil ini. Tetapi, anak-anak bisa belajar untuk berjuang lebih baik. Lagipula penampilan mereka bagus untuk ditonton," tambahnya. (H29-40) | ||||