logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juni 2006 NASIONAL
Line

Kubah Lava Diharapkan Akhiri Aktivitas Merapi

YOGYAKARTA - Kubah lava Merapi yang terbentuk pascaerupsi 14/6 lalu, diharapkan menjadi penutup aktivitas gunung tersebut. Namun, hal itu masih sangat bergantung pada stabilitas posisi/ letaknya dan besar tekanan gas dari kantong magma.

Harapan itu diungkapkan Kepala BPPTK Yogyakarta Dr A Ratdomopurbo kepada wartawan di kantornya, kemarin (19/6). Dari sejumlah pengalaman erupsi, menurut dia, biasanya setelah kubah lava baru terbentuk menggantikan kubah lava sebelumnya, aktivitas vulkanik Gunung Merapi lalu menurun.

Selain sebagai suatu tren, menurut dia, sekarang sudah terdapat indikator yang lain. Yaitu awan panas secara kuantitas dan kualitas semakin menurun, serta peningkatan jumlah gempa fase banyak (MP). Pada 17 dan 18 Juni, terjadi 32 dan 33 awan panas. Sementara itu, berturu-turut 14, 15, dan 16 Juni, terjadi awan panas 61 kali, 42 kali, dan 38 kali. Mengenai gempa MP (14 s/d 18 Juni) masih naik turun, Berturut-turut 89 kali, 168 kali, 176 kali, 40 kali, dan 51 kali.

Sementara dari kecenderungan (tren) disebutkan, erupsi 1911 menyisakan bukit Gegerbaya. Begitu dengan erupsi 1969, erupsi 1992, erupsi 1994, 1997, dan terakhir 2001, menyisakan kubah lava. Cuma masalahnya, pihaknya tidak bisa memastikan sampai berapa lama pertumbuhan kubah lava baru 14/6 yang kini sudah mempunyai volume 300.000 meter kubik tersebut. Kubah lava 2006 yang terbentuk 26 April lalu, sudah mencapai 4,3 juta meter kubik. Pada erupsi 9 juni lalu sekitar 1,3 juta meter kubik runtuh, sisanya habis pada erupsi 14 juni.

Pada sisi lain, pengalaman erupsi 1994 menunjukkan, awan panas besar terjadi justru saat status gunung Waspada, setelah lima bulan terbentuk kubah lava. Pada waktu itu, 1,5 juta meter kubik material mendadak runtuh dan membentuk awan panas besar yang mengalir ke Kali Boyong. Awan itu mengakibatkan 63 warga Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, tewas terpanggang.

Berdasar pengalaman tersebut, kata Ratdomo, pada aktivitas 2006 ini pihaknya masih akan terus meningkatkan pemantauan sebelum merekomendasikan penurunan status dari Awas Merapi. ''Mudah-mudahan, semuanya berjalan cepat,'' ujarnya berharap.

Meski demikian, menurut dia, semua itu tetap bergantung pada stabilitas posisi kubah lava pasca 14 Juni dan besar tekanan gas magma dari bawah.

''Dari posisinya, mudah-mudahan stabil karena berada di dalam cekungan dan suplai magma mulai mengecil,'' ujarnya. Menurut dia, sekarang ini suplai magma 70.000 meter kubik/hari. Sementara pada pada awal erupsi, berkisar antara 150.000 sampai 170.000 meter kubik/hari.

Dipetakan Ulang

Sementara itu, longsoran lava Merapi yang menimbun kawasan Kaliadem pada 14 Juni lalu, membuat kawasan rawan bencana (KRB) sisi selatan akan semakin meluas. BPPTK Yogyakarta akan segera memberikan hasil penilitian erupsi 2006 kepada Pemerintah Kabupaten Sleman. Selanjutnya, laporan dijadikan sebagai acuan pembuatan KRB.

"Erupsi juga membuat jalur Kali Gendol seperti jalur tol baru bagi luncuran awan panas. Karena itu, kami baru menganalisis apakah kawasan Kaliadem yang berhadapan langsung dengan luncuran itu masih layak untuk permukiman atau tidak," tandas Kepala BPPTK.

Menurut dia, yang membuat peta KRB adalah pemerintah setempat. Sementara itu, Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK Subandriyo mengusulkan, kawasan wisata Kaliadem sebaiknya ditutup untuk selamanya. Menurut dia, ancaman Merapi bukan hanya awan panas, melainkan juga lahar dingin.

Menurut dia, ketika memasuki musin hujan mendatang, longsoran lahar dingin berpotensi menjangkau wilayah permukiman penduduk. Sebab, volume material Merapi masih banyak.

"Kami merekomendasikan daerah Kaliadem hingga delapan kilometer dari puncak Merapi, dikosongkan," tandas dia.

Pos Pengamatan

Sementara itu, Bupati Sleman Ibnu Subiyanto, sudah menutup kawasan wisata Kaliadem hingga jangka waktu yang belum ditentukan.

Sementara itu, Kabupaten Klaten sangat memerlukan pos pengamatan Merapi yang permanen, mengingat kabupaten ini kini juga menjadi salah satu wilayah rawan bencana aliran lava dan awan panas. Saat ini, petugas pengamat di Deles belum mempunyai tempat tetap.

''Kami mengusulkan agar di Kemalang dibuatkan sebuah pos pengamatan permanen seperti di Babadan. Kini Klaten menjadi salah satu daerah yang terancam bahaya Merapi. Karena itu, pembuatan pos tersebut sangat mendesak,'' tutur Komandan SAR Klaten Drs Anang Widayaka, kemarin. (P58,sho,F5-41m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA