| Selasa, 20 Juni 2006 | NASIONAL |
bencanaLiku-liku Pembagian Bantuan Gempa (1)Keluarga di Luar Kota Nebeng Masuk Daftar
Selain di Yogyakarta, korban gempa di wilayah Kabupaten Klaten juga akan kebagian dana lauk-pauk Rp 90 ribu/ jiwa dan beras 10 kilogram/ jiwa yang dijanjikan pemerintah. Pembagian dana cuma-cuma itu sudah diujicobakan di Kecamatan Karangdowo. Ternyata, penyalurannya menyisakan banyak persoalan. Berikut ini laporannya. KERUSAKAN yang diakibatkan gempa di Kecamatan Karangdowo memang tidak separah di tiga kecamatan lain, yakni Wedi, Gantiwarno, dan Prambanan. Data dari kecamatan yang letaknya di sisi timur Kabupaten Klaten itu, dianggap paling valid untuk segera mendapatkan bantuan lauk pauk yang akhirnya cair sejak 6 Juni lalu. Dana yang disalurkan mencapai lebih dari Rp 3 miliar. Dari jumlah penduduk 51.774 jiwa, yang mendapatkan uang lauk-pauk hanya 34.628 jiwa dari 19 desa yang terkena gempa. Sisanya dianggap tidak memenuhi kriteria, karena berbagai sebab; seperti berada di luar kota, meninggal, atau yang rumahnya utuh dan tidak mengalami luka. "Tapi ada juga yang anggota keluarganya tidak di sini juga dimasukkan, ya terpaksa dicoret," ujar Sugiman, kadus Tambak, Kecamatan Karangdowo. Dia mengatakan, tidak semua data yang diajukan RT, RW, sampai desa, dikabulkan. Yang akal-akalan terang saja dicoret, dan hanya bisa gerundelan. Pasalnya, jika anggota keluarga yang tidak ada di rumah namun masuk dalam daftar keluarga dimasukkan, jumlahnya akan sangat besar. Bahkan bisa dua kali lipat, karena banyak warga Karangdowo yang merantau ke luar kota. Di desanya, semula sebanyak 1.736 jiwa diajukan, namun hanya disetujui 1.705 jiwa. Itu saja masih harus dengan berbagai pertimbangan, seperti kondisi rumah atau luka. Jika tidak, jangan harap akan mendapatkan. Dia mengatakan, jika warga yang tidak luka dan rumahnya utuh disetujui, maka seluruh rakyat di negeri ini bisa jadi akan meminta bagian. Selain persoalan itu, ternyata persoalan lain juga muncul dalam pembagian tersebut. Lamanya waktu penyelesaian, menyebabkan tidak cepat rampungnya pembagian. Lambatnya pembagian uang lauk pauk itu, juga disebabkan oleh banyak kendala di lapangan. Misalnya, tim pembagian yang berjumlah enam orang, selain membagi uang dan beras juga harus mengecek kondisi rumah korban untuk validasi bantuan selanjutnya sebesar Rp 10 juta-Rp 30 juta. Tim yang dibentuk dadakan itu, tentu saja kinerjanya juga lambat, karena tidak ada pelatihan dan praktik sebelumnya. Jadi wajar, jika perangkat di desa juga kelabakan saat menunggu mereka berjam-jam untuk mengantar ke warga. "Daripada selesai satu bulan, saya arahkan dari desa yang RT-nya paling sedikit," ujar Sukardi, kepala Desa Kupang. Dia mengatakan, kecemburuan juga banyak bermunculan di tengah warga. Alasannya, ada yang jumlah keluarganya sedikit, ada yang banyak, sehingga total uang yang diterima berbeda. Ada juga, menurutnya, warga yang tercecer dari pendataan, karena saat didata tidak ada di rumah. Hal itu, membuat perangkat harus menyusulkan data baru. Tim Selalu Siap Di satu sisi, distribusi bantuan lauk pauk dan beras bergantung kepada tersedianya uang, beras, dan tim. Tim selalu siap, namun pencairan uang dilakukan dalam beberapa termin. Adapun beras, tinggal mengambil di gudang Dolog setempat. Hal itu juga diakui oleh Pemkab selaku Satlak Penanggulangan Bencana. ''Masalah termin pengucuran uang, saya nggak tahu. Kalau ada kiriman uang datang, langsung diamplopi. Memang butuh waktu, karena jumlahnya sangat banyak,'' kata Asisten I Sekda Klaten, Drs Sartiyasto, di Posko Satlak PB Klaten, kemarin. Menurutnya, kesalahan pendataan yang dilakukan pada saat darurat akibat musibah gempa bisa dimaklumi. Dalam keadaan normal saja, kesalahan pendataan sampai 10 persen masih ditoleransi. Padahal dalam keadaan normal, sebelum melakukan pendataan, petugas didiklat lebih dulu.(Achmad Hussain, Merawati Sunantri-41a) | ||||