| Selasa, 20 Juni 2006 | SEMARANG |
2.544 Siswa SLTA Tak Lulus UN
SEMARANG - Sebanyak 2.544 siswa (11,58%) untuk jenjang SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang tidak lulus ujian nasional (UN). Data Dinas P dan K Jateng menunjukkan, yang mengikuti UN Tahun Pelajaran 2005/ 2006 di Semarang adalah 21.966 orang. Pada tahun pelajaran 2004/ 2005, yang mengikuti UN 21.091 siswa. Dari jumlah itu, yang tidak lulus 2.210 orang (10,4%). Berarti dibandingkan tahun lalu, angka ketidaklulusan kali ini lebih tinggi. Namun, Dinas Pendidikan Kota Semarang hingga saat ini masih terus menerima data kelulusan dari tiap-tiap sekolah. Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Drs Sutarto MM mengemukakan, hingga kini pihaknya belum bisa memberikan data kelulusan karena masih menunggu laporan dari sekolah-sekolah. Menurut keterangannya, siswa yang tidak lulus UN tahun lalu dan kali ini mengikuti ujian kembali akan diperiksa pihak sekolah. Nilai tertinggi dari tiga mata pelajaran UN tahun ini dan tahun lalu yang akan digunakan. Dia mengatakan, seandainya seorang siswa pada UN tahun lalu mendapat nilai Matematika 5 sedangkan tahun ini hanya 3, nilai tertinggilah yang akan digunakan. ''Kami masih menunggu laporan semua sekolah. Jadi, jumlah siswa yang tidak lulus berdasar data dari Dinas P dan K Jateng itu masih bisa berubah,'' ungkapnya. Untuk meminimalkan aksi arak-arakan siswa yang merayakan kelulusannya seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa sekolah melakukan berbagai cara. Di SMAN 4 misalnya, hanya mengundang para orang tua siswa untuk menerima surat kelulusan putra-putri mereka. Sementara itu, para siswa kelas III diliburkan. Hal berbeda dilakukan SMAN 1 dan SMAN 5 yang menggunakan jasa kurir untuk mengantar surat kelulusan kepada orang tua siswa di rumah masing-masing. Meski demikian, kemarin masih ditemukan beberapa arak-arakan para siswa di jalan-jalan protokol, yaitu kawasan Simpanglima, Jalan Soegiyapranata, Pandanaran II, Menteri Supeno, Sampangan, dan beberapa ruas jalan lain. Di beberapa sekolah lain, yang tidak lulus lebih sedikit daripada tahun sebelumnya. Seperti di SMA Teuku Umar, dari jumlah 155 siswa yang mengikuti UN, 18 tidak lulus. Yaitu empat orang dari Jurusan IPA dan sisanya IPS. ''Jadi, kelulusannya 89,5%. Ini lebih baik daripada tahun sebelumnya dengan tingkat kelulusan hanya 64,5%,'' tutur Kepala SMA Teuku Umar Pramuji Nugroho AS SPd. Siswa yang tidak lulus tersebut, lanjutnya, sebagian termasuk yang cukup pandai. Nilai yang mereka peroleh pun hanya terpaut sedikit. ''Sekitar 0,26 di bawah standar kelulusan yang ditentukan,'' kata dia. Pramuji menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak adil. Sebab, keberhasilan seorang siswa tidak bisa dilihat dari kegagalan satu mata pelajaran yang diujikan. ''Bagaimana jika saat ujian berlangsung kondisi siswa sedang tidak bagus. Tentunya, hal ini akan berpengaruh pada hasil UN,'' papar dia. Untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan, pengumuman kelulusan oleh sekolah tidak lagi diberitahukan lewat siswa tetapi langsung diserahkan ke orang tua siswa. ''Kami memanggil para orang tua siswa untuk datang ke sekolah dan menerima surat tersebut secara langsung,'' ucap Kepala SMA Tugu Soeharto, Arief Shelly. Di sekolah itu, dari 65 siswa yang mengikuti UN, yang tidak lulus 30%. Arief berharap, pemerintah lebih memikirkan nasib mereka yang tidak lulus tersebut. (H23,H31-56j) |