| Selasa, 20 Juni 2006 | SEMARANG |
Galang Kebersamaan lewat TulisanAKRAB. Itulah kesan yang terlihat dalam temu muka para penulis surat pembaca di Suara Merdeka, Minggu (18/6) di Aula Gedung Bapelkes. Meski belum pernah bersua, canda tawa mewarnai pertemuan itu. Jangankan berkenalan, nama pun mereka sebatas tahu dari koran. Kendati demikian, pertemuan tersebut ibarat sebuah reuni para sahabat yang lama tak bertemu. Dalam temu muka itu mereka mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini terpendam. Sebagai orang yang sering mengkritisi masalah, banyak usulan yang mereka lontarkan. Di samping itu, mereka juga saling menceritakan pengalaman unik dan lucunya ketika surat yang ditulisnya dimuat. Teror adalah salah satu konsekuensi yang terpaksa mereka terima, ketika tulisan yang dibuat berisikan kritik atas suatu masalah. Tak jarang teror itu bukan hanya menimpa si penulis, melainkan juga anggota keluarganya. Karena itu, mereka bermaksud membuat suatu forum yang beranggotakan para penulis surat pembaca. Forum tersebut nantinya, menurut Sri Murni Rahayu, salah seorang yang sering menulis surat pembaca, harus berbadan hukum. Dengan demikian dapat melindungi para anggotanya yang mendapat ancaman atau masalah. "Sekarang ini segala risiko dihadapi sendiri oleh penulis,'' kata wanita yang juga dosen pengajar FISIP Untag. Acara itu juga menghadirkan pengasuh rubrik "Surat Pembaca" Suara Merdeka, Mas Soesiswo. Apa yang dilontarkan para peserta tak hanya berisi usulan. Pertanyaan seputar pemuatan surat pembaca juga ditanyakan. Mereka beranggapan surat yang berisi tentang kritikan terhadap aparat selalu tidak dimuat. Tidak Lengkap Hal itu dibantah oleh Siswo, panggilan akrab Mas Soesiswo. Menurutnya, pemuatan surat pembaca tidak ada hubungannya dengan siapa yang dikritik. Banyak faktor yang membuat tulisan yang dikirim urung dimuat. "Ketidaklengkapan identitas menjadi salah satu faktor,'' kata dia. Sering kali surat yang dikirim tidak disertai dengan kartu pengenal. Di samping itu, tanda tangan yang dibubuhkan di atas kertas surat berbeda dari yang ada pada tanda pengenal. Jika menemukan hal seperti itu, otomatis surat tersebut langsung didrop. Tak hanya itu, Siswo juga mengatakan, surat pembaca yang diterimanya mencapi 20 buah per hari. Setelah disortir, biasanya tinggal 12 surat. Padahal kolom yang digunakan hanya berukuran 7 x 15 cm. "Otomatis yang lain harus antre,'' ujarnya. Banyaknya surat yang belum dimuat sudah disiasati dengan penambahan ukuran kolom pada waktu tertentu. Setiap dua minggu sekali, papar dia, surat pembaca dimuat satu halaman penuh. "Tetapi kalau banyak iklan, ya dimuat seperti biasa,'' ungkapnya. Dia juga menganggap keberadaan rubrik surat pembaca mampu membawa pencerahan bagi orang lain. "Kritikan yang disampaikan para penulis sangat membantu dalam perbaikan sistem,'' imbuhnya. (Roosalina-62s) |