| Selasa, 20 Juni 2006 | SEMARANG |
MKKS Harapkan Ujian UlanganSEMARANG - Kalangan kepala SMA negeri se-Kota Semarang mengharapkan, pemerintah mempertimbangkan penyelenggaraan ujian nasional (UN) ulangan bagi para siswa yang tidak lulus. Selain jumlahnya relatif signifikan, UN ulang perlu mengingat adanya perubahan kurikulum yang berlaku. Siswa kelas III SMA yang kelulusannya diumumkan Senin (19/6), merupakan yang terakhir menggunakan Kurikulum 1994. ''Bila mereka tidak lulus dan harus mengulang setahun maka harus mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Saya kira itu akan menyulitkan,'' ujar Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Drs Sudjono. Dia menyebutkan, siswa kelas XI (kelas II SMA-Red) saat ini telah menggunakan KBK sejak tahun pertama di SMA. Artinya, tahun depan semua siswa kelas III yang mengikuti UN dengan pendekatan KBK. Dikhawatirkan, angka ketidaklulusan 2006/ 2007 akan bisa lebih besar lagi. ''Banyak teman kepala sekolah yang curhat tentang perlunya UN susulan. Rencananya, besok (hari ini-Red) kami akan bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan untuk membahas persoalan itu,'' ujar Kepala SMA 3 itu. Dia menekankan, pendekatan pembelajaran berdasarkan Kurikulum 1994 dan KBK tentu saja sangat berbeda. Tak mudah bagi para siswa gagal UN yang mengulang pelajaran untuk menyesuaikan diri ke pendekatan KBK hanya dalam rentang waktu setahun. Karena itu, saran dia, akan lebih bijaksana jika pemerintah mengupayakan penyelenggaraan UN ulangan. Langkah itu dimaksudkan untuk ''menghabiskan'' siswa Kurikulum 1994. Harapan serupa disampaikan Sekretaris Dewan Pendidikan Jateng Prof Dr H Ahmad Rofiq MA. Dia mengutarakan, besarnya jumlah siswa yang tidak lulus UN merupakan potensi persoalan yang harus diurai sejak awal. Sebab, jika harus mengulang setahun akan menjadi beban psikologis mereka. ''Hingga saat ini, saya belum mendengar rencana Depdiknas untuk menggelar UN ulangan. Padahal, saya kira hal itu mendesak untuk dipikirkan,'' ucap Rofiq yang juga ketua Komite SMA 8. Dia menyebutkan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan ketua dan para pengurus Dewan Pendidikan Jateng untuk membahas kemungkinan pengajuan usulan UN ulangan. ''Soal waktu pelaksanaannya, saya kira bisa dibicarakan lebih jauh.'' Mengecewakan Sementara itu, Sudjono menyodorkan fenomena menarik terkait dengan tingginya angka ketidaklulusan. Dia menyebutkan, sejumlah sekolah uji coba KBK mengalami hasil mengecewakan dalam UN. Padahal, sekolah-sekolah itu terhitung favorit dan lima di antaranya yang telah menerapkan KBK meraih persentase ketidaklulusan yang relatif tinggi, yaitu SMAN 1 (1,81%), SMAN 2 (8,06%), SMAN 3 (2,00%), SMAN 9 (17,76%), dan SMAN 13 (12,72%). ''Besar kemungkinan karena standar UN untuk mata pelajaran KBK lebih tinggi daripada Kurikulum 2004. Sama-sama soal multiple choice, penyelesaiannya menuntut penguasaan ranah kognitif aplikatif,'' ujar Sudjono. Dia menilai, dibandingkan tahun lalu, rata-rata hasil UN sekolah uji coba KBK itu cenderung menurun. Di SMA 3 sebagai contoh, jumlah angka ketidaklulusan tidak sampai 1%. Dari 496 peserta UN, hanya dua siswa (0,4%) yang gagal. Setelah mengikuti UN ulangan, semua siswa SMAN 3 lulus. (H9,H12-62j) |