| Selasa, 20 Juni 2006 | SEMARANG |
Tangis dan Tawa di Hari KelulusanSENIN (19/6) siang, para orang tua murid kelas III sebuah SMK di kawasan Sampangan telah duduk di dalam kelas. Wajah mereka tegang dan tak banyak saling berbincang. Maklum, sebentar lagi hasil ujian nasional (UN) putra-putri mereka akan diumumkan. Lebih tegang, siswa-siswi kelas III. Mereka duduk bergerombol di luar kelas dengan perasaan harap-harap cemas. Memang, sesekali masih terdengar derai tawa di tengah obrolan mereka. Namun, gurat-gurat ketegangan tak bisa rapat-rapat disembunyikan. Tak lama kemudian, sejumlah guru yang duduk di depan kelas mulai memanggil nama-nama mereka. Begitu nama putra atau putri mereka disebut, orang tua maju untuk menerima hasil pengumuman yang ditaruh di dalam amplop. Demi melihat itu, hati siswa-siswi itu pun semakin deg-degan. Mereka merapat ke bibir pintu sembari menunggu kepastian hasil ujian. ''Alhamdulillah ya Allah, aku lulus,'' teriak seorang siswi sesaat setelah mengetahui isi amplop yang dibawa orang tuanya. Tangis haru bercampur bahagia pun pecah. Dia segera mendapat ucapan selamat dari teman-temannya. Ada yang sekadar berjabat tangan. Ada yang memeluk tubuhnya erat-erat. Adegan semacam itu berlangsung berulang-ulang. Mereka bahagia karena jerih payah yang dilakukan membawa hasil sesuai dengan harapan. Namun, suasana bahagia itu tiba-tiba kikis saat ada seorang siswi menangis sesenggukan di salah satu sudut sekolah. Erna, bukan nama sebenarnya, menangis karena tak lulus ujian. Spontan, teman-teman dan gurunya mendekat untuk menenangkan. ''Jangan sedih ya Er, ini semua ketentuan dari Dinas. Tidak lulus bukan akhir segala-galanya kok,'' hibur seorang guru sembari mengelus-ngelus kepala Erna. Erna tidak lulus lantaran nilai Matematika dia hanya 3,67. Nilai tersebut di bawah batas minimal nilai yang disyaratkan, 4,26. Berbeda dari tahun sebelumnya, sistem ujian nasional kali ini tidak memungkinkan siswa yang tidak lulus melakukan perbaikan. Dengan demikian, gadis itu harus mengulang lagi bangku kelas III setahun ke depan. Sementara itu, aksi coret-coret agaknya tetap menjadi tradisi yang dilakoni siswa-siswi pada hari pengumuman kelulusan. Meski beberapa sekolah telah mengantisipasi dengan menyerahkan surat pemberitahuan kelulusan melalui surat kepada orang tua, hal itu tetap terjadi. Seperti terlihat di SMA Tugu Soeharto. Dengan menggunakan spidol mereka membubuhkan tanda tangan di baju teman-temannya. Tak hanya baju yang menjadi sasaran pelampiasan kegembiraan mereka. Berbagai warna-warna cerah dari cat semprot yang digunakan, membuat warna rambut mereka tak lagi hitam. Siapa pun yang melihat aksi tersebut pasti mengira mereka dinyatakan lulus UN yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Padahal, tidak demikian adanya. A ksi corat-coret itu dilakukan sebelum mereka tahu hasil kelulusan. ''Yang penting seneng-seneng dahulu. Lulus urusan nanti,'' ujar Roni, salah seorang siswa yang turut dalam aksi itu. Kendati demikian, mereka tidak menyangkal, rasa waswas terbersit di hati masing-masing. Akan tetapi, hal itu sebisa mungkin mereka ditepisnya mengingat dia merasa mampu mengerjakan soal UN dengan baik. ''Yang penting optimistis saja,'' tandas dia. (Rukardi, Roosalina, Saptono JS-62j) |