| Selasa, 20 Juni 2006 | KEDU & DIY |
Pemandian Air Panas KrakalDimanfaatkan Penderita Sakit KulitSEPASANG remaja sore itu antre untuk masuk kamar nomor tiga pemandian air panas Krakal, Kecamatan Alian, Kebumen. Di sampingnya, suami istri dan dua cucunya juga bersabar menunggu giliran untuk masuk kamar mandi. Maklumlah, hanya ada enam kamar bisa dipakai untuk mandi air hangat, sehingga pengunjung harus bergantian. Para pengunjung setiap hari mengalir dari daerah Kebumen dan dari luar daerah. Sekali mandi dianjurkan maksimal lima belas menit dengan tarif Rp 3.000. Di dalam kamar ada bak air dan gayung. Mereka yang mandi tak dianjurkan memakai sabun. Percuma, lantaran busa sabun tidak bisa keluar di kulit. Sehabis mandi sekujur tubuh terasa segar dan hangat. Menurut penuturan Cahyono (45), pegawai tidak tetap (PTT) di objek wisata 11 kilometer timur laut Kebumen itu, ada ahli penyembuhan dari Jakarta rutin datang. Sekali ke Krakal, mengambil 10 liter air hangat untuk ia bawa. ''Kabarnya, air panas dari sini sering dibawa ke Malaysia dan Thailand untuk menyembuhkan berbagai penyakit pasiennya,' 'tandas lelaki yang tinggal tak jauh dari objek wisata Krakal tersebut. Yang paling banyak datang ke pemandian ini adalah para penderita penyakit kulit, eksim atapun kudis. Tak heran sejak dulu pengelola objek wisata Dinas Pariwisata Kebumen menyiapkan ruang khusus sebanyak lima kamar untuk ''perawatan'' dan penyembuhan. Biasanya, bagi penderita sakit kulit berat, harus rutin dan minimal tiap hari selama satu minggu, mandi air hangat Krakal. Agar tak mengganggu pengunjung wisata lainnya, penderita penyakit kulit diisolasi di ruang sebelah selatan. Sebenarnya tak hanya penyakit kulit yang dipercaya bisa sembuh dengan air panas Krakal. Kepala Objek Wisata Krakal Iskandar mengisahkan, ada seorang pasien dari Purworejo sakit stroke dan sudah nyaris lumpuh. Anehnya, setelah rutin dan secara telaten datang ke Krakal untuk mandi, lelaki tersebut bisa sembuh. ''Kini malah sering datang dan sudah bisa jalan sendiri berkat mandi di Krakal,'' jelas Iskandar yang dibenarkan Cahyono. Tak Pernah Surut Lingkungan objek wisata pemandian air panas Krakal tersebut sebenarnya bisa lebih dikembangkan. Sayang, selama ini fasilitas yang ada masih minim. Taman di halaman depan juga kurang terawat. Lokasi parkir kendaraan terlalu sempit. Sedangkan arena mainan anak-anak di halaman depan dan samping telah banyak yang rusak, meski beberapa kali pernah direnovasi. Adapun ruang mata air selalu dikunci. Ada dua bangunan, satu di antaranya terdapat sumur tua, dan satunya lagi semacam kolam berukuran 6x4 m. Dari dekat terlihat jelas aliran mata air yang menyembul dari dalam tanah. Mata air itu lalu disalurkan melalui pipa baja ke kamar-kamar yang ada. Anehnya, mata air hangat yang menurut ahli geologi berasal dari formasi batuan Penosogan Karangsambung itu tidak pernah surut. Beberapa orang sering datang pada malam hari, utamanya malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon untuk berdoa. Di dekat mata air ada tempat sesaji untuk membakar kemenyan. Namun banyak warga setempat datang cukup membaca tahlil dan Surat Yasin sembari berdoa di malam hari. Objek wisata itu konon ditemukan pada zaman Mataram. Kabarnya waktu itu ada seorang putra raja, Pangeran Juru, sakit kulit tidak sembuh-sembuh. Akhirnya ditemani abdi dalam dia terus berjalan sampai menemukan mata air panas di Desa Krakal. Menurut literatur, mata air panas pemandian Krakal bukan mata air dari gunung berapi, namun dihasilkan oleh patahan turun yang dalam dengan blok turun di sebelah timur. Mata air itu diduga karena konduksi panas dari sumber magma yang berada lebih 1 kilometer di bawah tanah, kemudian muncul zone patahan tersebut. Itu sebabnya air panas Krakal mengandung sulfur rendah yang menandakan bukan karena pengaruh vulkanisme. Debit airnya rata-rata 10 liter/menit. Suhu rata-rata sekitar 40 derajat Celcius, rasa airnya asin dan pahit karena mengandung gas CO2, H2S dan NH3. (Komper Wardopo-24) |