| Selasa, 20 Juni 2006 | KEDU & DIY |
173 Siswa SMK Tamtama Tak LulusKEBUMEN - Sebanyak 52 persen atau 173 siswa SMK (SMEA) Tamtama Prembun tidak lulus Ujian Nasional (UN). Mereka berasal dari Program Akuntansi, Sekretaris dan Penjualan. Adapun jumlah peserta UN tahun ini 337 siswa. Guru SMK Tamtama, Tumirin yang dihubungi kemarin mengakui, dari pengumuman, jumlah murid yang tidak lulus UN tahun ini cukup besar. Bahkan mungkin terbesar di tingkat SMK swasta se Kebumen. Namun pihaknya beserta Dewan Guru tidak merasa berkecil hati, karena hasil tersebut murni tanpa rekayasa. ''Kami memang jujur dan apa adanya. Namun hasilnya seperti ini. Jujur malah ajur,'' tandas Tumirin. Menurut dia, meski 52 persen siswanya tidak lulus, di antara mereka ternyata tetap bisa terserap masuk kerja. Dari pendataan, ada sekitar 10 siswa dan siswi telah diterima di dunia kerja di Jakarta dan Tangerang. Namun bagi mereka yang tidak lulus tetap diberi keterangan dari sekolah. Sementara itu, di SMK (SMEA) Batik Sakti I Kebumen, dari 378 peserta UN, ada 58 anak tidak lulus atau sekitar 15,33 persen. Berarti tingkat kelulusan di sekolah kejuruan di Jalan Letjen Suprapto tersebut 84,66 persen. Perlu Evaluasi Menurut Kepala SMK Batik Sati 1, Rosidi, terhadap siswa yang belum lulus itu pemerintah perlu memberikan kebijaksanaan. Dia mengusulkan, paling tidak mereka yang tak lulus bisa mengikuti ujian tahap kedua. Pihaknya telah mengusulkan kepada Kepala Dinas P dan K Airmas untuk mengevaluasi UN tersebut. Sebab, dia mendengar selentingan pelaksanaan ujian tidak fair dan ada kesejangan di antara peserta UN di SMK swasta. Sebagai jalan keluar, perlu ada ujian tahap kedua seperti tahun lalu, guna menolong siswa-siswi yang belum lulus. Sedangkan SMK (STM) Ma'arif 4, ada 23 anak dari 343 peserta UN yang tidak lulus. Tingkat kelulusan di sekolah kejuruan di Jalan Arungbinang tersebut 93 persen. Hal itu diungkapkan Kepala TU SMK Ma'arif, Amali. Kepala Dinas P dan K Airmas yang dihubungi tak ada di tempat. Menurut stafnya, Airmas memantau ke sekolah-sekolah. Adapun data peserta UN SMK dan SMU yang tidak lulus masih direkap oleh staf. Secara terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Drs Agus Purwanto memprediksi hasil UN tahun ini tidak lebih bagus dari tahun lalu. Dia juga mengaku prihatin dengan dugaan ketidakjujuran para guru dan kepala sekolah terhadap UN. Menurut Agus, meskipun sistem UN setiap tahun diubah, sepanjang pelaku pendidikan, seperti guru dan kepala sekolah tidak jujur, hasilnya tetap carut marut dan bukan prestasi sesungguhnya. Pihaknya mengharapkan Dinas Pendidikan bertindak tegas terhadap praktik tidak fair dalam UN. Terutama, terhadap mekanisme dan tata cara pengawasan ujian. Meskipun ada tim independen, praktik-praktik tak terpuji dari para guru dalam UN tahun ini ditengarai masih berlangsung. (B3-24) |