| Selasa, 20 Juni 2006 | INTERNASIONAL |
Doa dan Protes Peringati Ultah Ke-61 Suu KyiYANGON - Ikon demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, Senin kemarin genap berusia 61 tahun. Untuk menandai peringatan hari kelahiran tokoh oposisi itu, para bhiksu Bhudda mengadakan doa bersama, sedangkan para aktivis pro-demokrasi di seluruh dunia menggelar protes terhadap junta militer. Pawai diadakan di lebih dari 25 negara di seluruh Asia, Eropa, dan Amerika Utara untuk menuntut pembebasan peraih Nobel Perdamaian itu. Suu Kyi telah melewatkan waktu 10 tahun di tahanan. Namun protes-protes itu tampaknya tidak didengarkan di Yangon, tempat militer meningkatkan keamanan di jalan di luar rumah Suu Kyi. Militer berkuasa di eks Burma sejak 1962. "Ini hanya sementara," kata seorang polisi saat personel keamanan bersenjata menjaga barikade dan melarang kendaraan lewat. Di markas Liga Nasional Demokrasi (LND) pimpinan Suu Kyi, para pemimpin partai memberi persembahan kepada para bhiksu Bhudda dan mengadakan upacara. "Ini ulang tahun ke-61 pemimpin kami. Hari ini sangat penting," kata Nyan Win, juru bicara partai oposisi utama itu. Partai itu menang mayoritas suara dalam pemilu tahun 1990 namun tidak diakui oleh militer. Tahanan rumah bagi Suu Kyi diperpanjang satu tahun pada 27 Mei lalu meski ada tekanan internasional dan seruan langsung dari Sekjen PB Kofi Annan kepada pemimpin junta Than Shwe untuk "melakukan tindakan yang tepat". Gagasan Amerika Amerika Serikat telah menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB agar menekan Yangon. Washington menyatakan aktivitas-aktivitas rezim dan penindasan hak-hak politik kini menimbulkan ancaman bagi stabilitas, perdamaian, dan keamanan wilayah itu. Namun gagasan Amerika itu tampaknya ditolak keras dua negara anggota tetap dewan yang memiliki hak veto - China dan Rusia - serta Jepang, anggota terpilih yang belum memiliki veto. Penahanan terakhir Suu Kyi dimulai 30 Mei 2003 setelah bentrokan antara para pendukungnya dengan pengunjuk rasa pro-junta. Sejak itu, "The Lady" nama sayang yang digunakan para pendukungnya, ditahan rumah dan tidak boleh berhubungan dengan sembarang orang. Saluran telepon ke rumahnya diputus, suratnya disita, dan para pengunjung dibatasi. Sakit perut yang belum lama ini dideritanya menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi kesehatannya dan akses terbatasnya ke perawatan medis rutin. "Aung San Suu Kyi mungkin menghabiskan sisa hidupnya di tahanan jika Dewan Keamanan PBB terus mengelakkan tanggung jawabnya untuk mengatasi situasi di Myanmar," kata Yvette Mahon, direktur Burma Campaign UK, dalam pernyataan. "Dia dipuji oleh para pemimpin dunia, namun sebagian besar dari mereka mengabaikan permintaannya bagi dukungan internasional praktis." "Pada peringatan ulang tahunnya yang ke-60 tahun lalu, kami melihat sejumlah seruan bagi pembebasannya namun hal itu tidak dilanjutkan dengan langkah konkret oleh PBB atau pemerintah untuk menjamin pembebasannya," jelas Mahon. Junta tidak menghiraukan kecaman internasional atas penahanan Suu Kyi. Militer malah menyatakan hal itu merupakan urusan dalam negerinya.(rtr-niek-26) |