logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juni 2006 BUDAYA
Line

Sihir Keteduhan Ernst Jansz

Tessa kamu peluk aku/ombak di laut diam/Tessa kamu peluk aku/tidak ada angin/burung bilang: saya terbang ke rumah/sebab Tessa peluk kamu/dan semua aman/semua aman/Tessa kamu nangis?/saya lihat air mata/Tessa kamu nangis?/saya rasa sakit...

Tepuk tangan berkumandang sesaat setelah Ernst Jansz & CCC Inc membawakan "Tessa" dengan corak folk kental di Auditorium RRI Semarang, semalam. Meski dengan artikulasi gamang, Ernst, sang vokalis, membawakan nomor itu dengan penuh penghayatan. Maklum, bagi dia, tembang itu menyimpan kenangan.

Lagu itu membabar kisah kasih Ernst dan seorang perempuan Swedia saat mukim di Goa, India, pada 1980. Tessa adalah perawat yang menjaga ketika dia terbaring di rumah sakit. Sedemikian kuat kesan Ernst terhadap Tessa sehingga dia selalu berharap, suatu saat kembali bersua.

Ya, dalam konser yang di-helat Kedutaan Besar Belanda, Erasmus Huis Jakarta, dan Yayasan Widya Mitra itu, Ernst Jansz & CCC Inc tetap tampil dengan gaya sejatinya. Mereka memainkan sekitar 20 tembang bernuansa folk dan blues dengan amat memesona. tembang itu antara lain Alice, Luna Luna Mijn, Run Mountain, Truck Drivin Man, Love Letters, Mississippi Sawyer, Midnight Special, dan Black Girl.

Selain lembut menyayat, sebagian tembang berirama rancak. Sekitar 500 penonton pun bagai tersihir dalam keteduhan sekaligus keriuhan suasana.

Suasana itu tercipta melalui gesekan biola Joost Belinfante, petikan banjo dan gitar akustik Jaap van Beusekom, tiupan harmonika Huib Schreurs, dan tentu saja syair-syair yang dilantunkan Ernst Jansz. "Tessa" hanya satu contoh tipikal.

Ernst membuka pertunjukan dengan "De Overkant". Nomor cantik itu dia bawakan solo dengan gitar akustik. Baru pada tembang kedua, seluruh personel grup musik asal Belanda itu tampil di atas panggung. Maka, mengalunlah "Ballade vom Nina Bo-bo" dengan aransemen memikat.

Jaap van Beusekom memainkan gitar akustik dengan peranti slieg, laiknya irama hawaian. "Suatu sore, Ayah membawakan lagu ini untuk ibu saya. Saya yang kala itu masih kecil selalu mengingatnya," ujar Ernst, sesaat sebelum menyanyikan tembang itu.

Komunikatif

Ernst tampil komunikatif. Dia kerap memberikan pengantar lagu-lagu yang dibawakan CCC Inc. Dia pada awal penampilan bahkan mengisahkan riwayat keluarganya, tak terkecuali tentang sang ayah yang lahir di Semarang.

Sebagai band legendaris yang malang-melintang di jagat musik Belanda kurun 1970-1980-an, Ernst Jansz & CCC Inc punya aksi panggung yang benar-benar memesona.

Para personel memiliki talenta luar biasa. Mereka rata-rata andal memainkan lebih dari satu alat musik secara prima. Tak hanya itu. Ernst, Joost, Jaap, dan Huib punya tarikan vokal merdu. Maka, tak seluruh lagu dinyanyikan Ernst. Mereka secara bergantian menjadi vokalis utama.

Penampilan kelompok musik pengoleksi belasan album itu makin memesona dengan kepiawaian meramu tembang dengan celoteh dan aksi komedial. Berkali-kali Erns dan kawan-kawan memantik simpul ketawa pe-nonton dengan gaya selenge-kan. Joost yang mengenakan peci, misalnya, di tengah permainan bagai terkantuk-kantuk.

Atau Huib yang duduk santai melihat penampilan rekan-rekannya mengiringi bintang tamu Rosalia Ambarwati sembari merokok dan minum bir kaleng.

Konser yang disaksikan Direktur Erasmus Huis Marteen Mulder dan Ketua Ya-yasan Widya Mitra Prof Dr AM Djuliati Suroyo itu boleh dikata amat memuaskan penonton.

Tepuk tangan penonton sembari berdiri cukup lama pada akhir pertunjukan cukup menjadi tengara. (Ru-kardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA