| Senin, 19 Juni 2006 | RAGAM |
Menggapai "Beyond Bali"Dari Solo, Borobudur sampai SlukeSEKITAR tiga atau empat tahun lalu, Gubernur Mardiyanto memperkenalkan jalur wisata Solo- Selo- Borobudur (SSB). Tujuannya untuk menjaring wisatawan asing yang hendak ke Borobudur lewat Solo. Mereka diharapkan tidak langsung ke Yogya, tetapi menempuh jalur wisata baru lewat Selo, daerah Boyolali, baru ke Borobudur. Jalur Solo - Selo secara alami memang cukup menarik. Tidak lebar cuma cukup untuk bus wisata kelas kecil. Kita bisa menyaksikan Puncak Merapi yang selalu diselimuti awan seolah dalam jarak sangat dekat. Bagai bisa digapai dengan tangan. Apakah jalur wisata baru itu berhasil? Masih perlu dievaluasi. Bahkan lebih digalakkan lagi, di kalangan wisatawan khususnya di Bali maupun luar negeri. Di tengah kerja keras menjual jalur "SSB", selain Besakih-Besukuh-Ceto (BBC), belakangan ini muncul gagasan untuk membangun obyek wisata baru, trio Bonang-Binangun-Sluke (BBS). Sebenarnya gagasan itu sudah lama. Paling tidak sejak dua tahun lalu, ketika Bupati Rembang pada waktu itu, Hendarsono, memaparkannya di depan sebuah lokakarya di Cepu. Rembang punya gagasan membangun sebuah pusat wisata laut di pantai Binangun. Di pantai yang indah dengan air laut yang tampak biru jernih itu akan dibangun sebuah rest area mencakup restoran, penginapan dan berbagai fasilitas lainnya. Misalnya dermaga perahu tempat orang bisa menikmati pesiar laut, berenang, menyelam, naik sepeda air atau becak air, banana boat ,dll Gagasan itu belum lama ini dibahas lagi dalam semiloka di pantai tersebut, di sebuah bangunan baru yang disiapkan untuk restoran dan tempat pertemuan. Bangunan cukup besar dengan pemandangan sangat menarik ke Teluk Binangun. Bupati Rembang sekarang, Mohammad Salim, mengemukakan pembangunan pusat wisata bahari itu mempunyai objek pendukung yang juga sangat menarik. Salah satu di antaranya adalah wisata ritual-budaya peninggalan Sunan Bonang yang sudah lama berkembang. Di sana sering dilakukan acara ritual berkaitan dengan peninggalan salah satu dari Walisongo. Juga ada sentra batik tradisional dan China Town di Lasem, pusat-pusat penjualan produksi laut dan produk khas setempat lainnya. Rembang memiliki pantai indah panjang lebih dari 60 kilometer. Para pengendara mobil ke arah Jatim selalu merindukan pantai yang indah segar itu. Setelah nyaris stres akibat kepadatan lalu lintas Semarang-Pati-Rembang, perjalanan sepanjang jalan raya menyusuri pantai Bonang-Sluke sangat melegakan. Alternatif. Rest area Binangun kelak bisa menjadi alternatif bagi lokasi serupa yang ada di perbatasan Jateng-Jatim. Bahkan Binangun jauh lebih prospektif. Di perbatasan Jateng-Jatim orang cuma bisa beristirahat, makan, shalat. Seputarnya cuma kebun kelapa yang pohon-pohonnya tinggi menjulang. Tidak ada pantai dan tidak ada pemandangan laut. Soal pantai dan pemandangan lepas ke tengah laut menjadi keunggulan Binangun. Apalagi di sana juga sudah ada masjid mungil yang dibangun dengan arsitektur artistik, tepat di bibir pantai, di ujung semenanjung Binangun. Kecuali itu di lepas pantai ada sebuah pulau kecil, Pulau Putri, yang dikelilingi bunga-bunga karang yang masih asli. Perairannya tentulah bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para penyelam. Problem pokoknya adalah: modal. Dalam forum semiloka muncul gagasan untuk mengundang pemodal. Cuma bagi pemodal, biasanya ada syarat proyek kompensasi. Rembang memang bukan daerah subur atau kaya mineral. Bagi daerah kering dan "miskin" itu para petingginya dituntut kreativitas mencari kompensasi atau menempuh jalan lain. Prof. Dr Soetomo WE, Ketua Depari Jateng antara lain mengemukakan, kini muncul peluang besar bagi masa depan BBS, yaitu Blok Cepu dan PLTN Ujung Jepara. Harapannya rest area-nya kelak bisa menjadi alternatif tempat rekreasi para petinggi proyek raksasa itu. Rembang bahkan bisa menawarkan pantainya untuk lokasi pelabuhan minyak. Ketimbang jauh-jauh diangkut KA ke Semarang atau Tanjung Perak yang sudah sangat sibuk. Berbeda Solo-Selo-Borobudur (SSB), Besakih-Besukuh-Ceto (BBC) dan Bonang-Binangun-Sluke (BBS), adalah tiga objek wisata yang saling berbeda. Namun bisa saling menunjang dan melengkapi dengan sangat menarik. SSB terutama wisata alam dan budaya dengan tujuan utama Candi Borobudur. Objek itu sudah jauh lebih dahulu kesohor ke seluruh dunia. Besakih-Besukuh-Ceto, objek wisata budaya yang tergolong sangat unik. Terutama dengan Candi Sukuh yang erotis. Yang masih memendam banyak rahasia. Mengapa candi tersebut dibangun se-erotis itu? Apa makna sesungguhnya? Sedangkan Candi Ceto yang mirip candi-candi Bentar di Bali, sangat mendekatkan objek wisata itu dengan khasanah budaya dan ritual Hindu. Bisa pula ditambah dengan objek wisata alam Tawangmangu. Lain lagi dengan Bonang-Binangun-Sluke. Objek utamanya adalah wisata bahari dengan segala aktivitas yang terkait yang sangat beragam. Masih diperkaya dengan objek wisata religius peninggalan Sunan Bonang dan Lasem, kota tua yang kaya tradisi. Mampukah kita semua mengembangkan objek wisata sangat prospektif itu? Jalan sebenarnya sudah terbuka lebar. Rahasia Candi Sukuh, dan Candi Ceto, yang terbukti sangat erat kaitannya dengan Bali, bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan di Pulau Dewata untuk ke sana. Mungkin bisa dikaitkan dengan menawarkan ritual Saraswati yang pada suatu saat berlangsung di Candi Ceto. Tentang BBC, masih butuh waktu, pikiran dan kerja ekstra keras untuk mewujudkannya. Namun sangat prospektif. Pasarnya boleh dikatakan sudah ada. Setidak-tidaknya pejalan di jalan raya Jateng-Jatim yang tiap hari luar biasa sibuknya. Membanding dengan Bali Membanding dengan wisata Bali, sebenarnya yang ada di Pulau Jawa tak beda jauh dengan Pulau Bali. Kita lihat misalnya Sukuh dan Besakih. Orang Bali konon tidak mau menyebut Candi Sukuh di Lereng Barat Gunung Lawu dengan nama Sukuh. Mereka menyebut Besukuh, mirip nama pura terbesar dan terindah di Bali, Besakih. Mengapa? Tidak ada alasan spesifik, namun secara umum ada beberapa kesamaan antara Besakih dan Be-Sukuh. Keduanya sama-sama terletak di lereng gunung. Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu, Besakih di lereng Gunung Agung. Sama-sama pada ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Keduanya sama-sama bangunan Hindu. Pura Besakih oleh masyarakat Bali dianggap sebagai paling suci di sana, sekaligus menjadi induk dari semua pura yang ada di Pulau Dewata. Di dalam pura itu terdapat 30 bangunan suci yang masing-masing mempunyai peran penting dalam ritual Agama Hindu. Antara lain Candi Bentar, Bale Pegat, Bale Kulkul Gedong Agung, Bale Ongkara, Pasamuhan Agung. Secara fisik ada kebalikan antara ke dua bangunan sejarah itu. Besakih sangat megah dan merupakan pura paling suci bagi umat Hindu Bali. Candi Sukuh menurut penelitian merupakan candi paling muda di Tanah Air. Dibangun sekitar tahun 1437, sesuai candrasengkala memet yang ada di sana berupa relief raksasa sedang menelan manusia. Jika diterjemahkan candra sengkala itu berbunyi, Gapuro Bhuto Anguntal Jalmo, berarti angka 9531, atau tahun Saka 1359, atau 1437 tahun Masehi. Candi itu justru jauh lebih sederhana dibanding candi Hindu lainnya di Tanah Air. Lebih sederhana dibanding candi-candi di Dataran Tinggi Dieng yang jauh lebih tua. Apalagi dibanding Candi Prambanan yang dibangun beberapa abad sebelumnya. Sukuh cuma berhias relief-relief sangat sederhana. Kesederhanaan itu, menurut perkiraan, karena dibangun tergesa-gesa menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kecuali itu para pekerja yang terlibat khususnya para penatah relief, bukanlah ahli di bidangnya. Mereka diduga para tukang kayu yang dengan sendirinya tidak mahir membuat relief-relief batu candi. Namun relief-relief itu juga menjadi bukti kedekatan Sukuh dengan Bali. Dua relief di antaranya Kisah Sudamala dan Lahirnya Garuda, relief yang juga sangat banyak ditemui di candi Bentar di Bali. Keduanya merupakan kisah sangat populer dalam mitologi Hindu dan dengan sendirinya kehidupan masyarakat pulau itu Saraswati. Ada satu peristiwa sangat penting yang makin mendekatkan percandian di sana dengan Pulau Dewata. Dua tahun lalu, 2004, Candi Ceto yang terletak sekitar 4 kilometer sebelah utara Sukuh, dilengkapi dengan patung Dewi Saraswati, Dewi Welas Asih. Di sana pada hari-hari tertentu diselenggarakan upacara-upacara ritual Hindu. Semula patung sumbangan salah seorang bupati di Bali itu akan dipasang di sekitar candi Sukuh. Namun kemudian di pindah ke Candi Ceto yang memang berada di tengah-tengah masyarakat Hindu lereng Lawu itu. Sedangkan penduduk sekitar Candi Sukuh, 90 persen beragama Islam. Sumbangan patung dari Bali serta berbagai acara ritual Hindu di sana, makin mendekatkan kedua kawasan itu secara ritual dan budaya Tak salah lagi kalau kemudian muncul sebutan Besakih-Besukuh-Ceto. Hal itu sangat penting maknanya dalam ritual Hindu, sekaligus dalam aspek pariwisata. Lebih-lebih lagi berkaitan dengan program Beyond Bali, yaitu program memeratakan turis ke daerah-daerah wisata lainnya di Tanah Air, setelah Bali dirasa jenuh. Persoalannya, mampukah kita menawarkan Besakih-Besukuh-Ceto itu kepada wisatawan? Khususnya wisatawan Asing yang selama ini memang cuma kenal Bali. Sebuah pulau dari Negara Antah Berantah, bukan Bali bagian dari Republik Indonesia. (Sutrisna-11) |