| Senin, 19 Juni 2006 | PANTURA |
Persaingan Ketat Sulitkan PembatikTEGAL - Sejumlah pembatik tulis di Kelurahan Kalinyamat Wetan, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, saat ini mengaku kesulitan penjualan akibat ketatnya persaingan usaha. Mereka harus bersaing dengan pembatik tulis lainnya ataupun pembatik printing. Padahal, saat ini, para pembatik juga terbebani dengan kenaikan harga bahan baku, terutama malam dan pewarna. Salah seorang pembatik tulis dari Kelurahan Kalinyamat Wetan, Kecamatan Tegal Selatan, Muniroh, mengatakan, akibat persaingan ketat, keuntungan pembatik tulis menurun. Saat ini, yang penting bagi mereka adalah bisa menjual barang dagangan daripada mematok harga tinggi. Menurutnya, jumlah pembatik tulis di wilayah itu mencapai ratusan. Agar laku di pasaran, tidak jarang mereka berani membanting harga mencapai Rp 55.000 per lembar. Biasanya, untuk bisa menjual dengan harga tersebut, pembatik rela mengorbankan kualitas, terutama kualitas motif dan kehalusan batikan. Pasalnya, semakin rumit motif dan semakin halus batikan, harga kain batik semakin mahal. Selain itu, persaingan juga muncul dari pembatik printing atau cap. Pasalnya, harga batik printing sangat murah, bahkan hanya separo dari harga batik tulis. Sebagian besar masyarakat akan lebih memilih batik printing daripada batik tulis, sebab harganya lebih murah dan motifnya lebih bervariasi. Hal itu dibenarkan oleh pembatik tulis lainnya, Korilah. Bahan Baku Padahal selama ini, pembatik terbebani kenaikan harga bahan baku, yang terjadi sejak 1,5 bulan terakhir. Selain kain, bahan pembuat batik terdiri dari malam, pewarna, dan minyak tanah untuk bahan bakar. Menurutnya, harga malam naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram, harga pewarna naik dari Rp 1.200 menjadi Rp 2.000 per bungkus. Begitu pula harga minyak tanah, naik dari Rp 2.600 menjadi Rp 2.800 per liter. Bahkan, selain mahal, minyak tanah juga sulit diperoleh. Sementara itu, harga kain masih tetap Rp 20.000 per lembar ukuran 2,6 meter. Muniroh mengatakan, untuk membuat satu lembar kain batik berukuran 2,6 meter, dia membutuhkan satu kilogram malam, lima bungkus pewarna, dan sekitar satu liter minyak tanah. Satu lembar kain batik bisa diselesaikan dalam waktu satu minggu, dengan menggunakan dua tenaga kerja, yaitu pembatik dan pewarna. Biaya tenaga pembatik Rp 15.000 per lembar, sedangkan pewarna Rp 8.000 per lembar. Untuk motif, dia sendiri yang menggambarnya. Akibat kenaikan harga tersebut, keuntungan yang diperolehnya menipis. Padahal selama ini, dia tidak bisa menaikkan harga jual kain batik. Satu lembar kain batik tulis dijual Rp 85.000 hingga Rp 90.000. (H17-52h) |