logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Juni 2006 PANTURA
Line

Pentas Roro Jonggrang Sedot Ratusan Penonton

MALAM itu, Sabtu (17/6), masyarakat Kota Tegal disuguhi pertunjukan yang lain dari biasanya. Sebuah pementasan ketoprak berjudul Roro Jonggrang ditampilkan oleh kelompok Sekar Tanjung dari Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat di Gedung Kesenian Kota Tegal.

Roro Jonggrang merupakan cerita legenda masyarakat Jawa Tengah. Kisah itu bertutur tentang kesetiaan Roro Jonggrang terhadap suaminya, Prabu Boko. Karena Prabu Boko kalah perang melawan Bandung Bondowoso, akhirnya kekuasaannya diambil alih Bandung, termasuk Roro Jonggrang.

Namun sebagai perempuan, Roro Jonggrang berusaha untuk mempertahankan diri dengan mengajukan syarat. Dia meminta dibuatkan candi dalam waktu semalam. Dengan kesaktian dan bantuan jin yang dimilikinya, Bandung hampir mampu mewujudkan keinginan perempuan idamannya tersebut.

Karena itu, agar niat Bandung tidak tercapai, Roro Jonggrang meminta kepada para perempuan di wilayahnya untuk membunyikan lesung (alat tumbuk padi). Bunyi lesung pada masyarakat Jawa memperlihatkan mulai adanya kehidupan di pagi hari. Saat itu, jin-jin sudah tidak lagi berani muncul, sehingga mereka pun meninggalkan pekerjaan membuat candi yang sudah hampir selesai.

Terisi Penuh

Mengetahui hal itu, kemarahan Bandung pun tak terbendung. Dia akhirnya mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu, untuk melengkapi candi yang belum sempurna tersebut. Akhirnya, hingga saat ini kehadiran candi di kompleks Candi Prambanan tersebut dipercaya berasal dari jelmaan seorang perempuan bernama Roro Jonggrang, yang menolak pinangan Bandung Bondowoso.

Cerita itu berhasil ditampilkan dengan baik oleh Kelompok Teater Sekar Tanjung. Meskipun tidak sempurna, tontonan tersebut mampu menyedot perhatian ratusan pengunjung yang ada di sana. Justru minat masyarakat terhadap pertunjukan itu sangat besar. Bangku dengan kapasitas sekitar 400 orang di Gedung Kesenian Kota Tegal, terisi penuh.

Sebelum pentas, ditampilkan wayang sebagai pengantar oleh Tambari Gustam. Dalam wayang itu, Tambari mencoba bertutur mengenai kisah Roro Jonggrang. Dia memastikan kepada penonton bahwa pertunjukan malam itu akan sangat menarik. Menurutnya, pertunjukan tesebut sebagai upaya mereka untuk melestarikan budaya Jawa.

Selama ini, masyarakat lebih sering disuguhi pertunjukan modern, sehingga banyak yang tidak mengenal ketoprak lagi. Karena itu, dia berusaha untuk menghidupkan seni tradisional tersebut.(Wawan Hudiyanto-52s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA