logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Juni 2006 OLAHRAGA
Line

Demi Brasil Rela Keluar Rp 10 Juta

ORANG ini layak disebut gila bola. Demi menyaksikan aksi-aksi bintang Brasil di Piala Dunia 2006, Rizal rela mengeluarkan jutaan rupiah. Dia merupakan salah satu suporter asal Indonesia yang berani menantang berbagai kesulitan untuk bisa datang langsung ke stadion. ''Saya memang sudah lama memimpikan bisa nonton Piala Dunia. Itu sejak 1996,'' katanya, kemarin.

Sudah bawa tiket dari Indonesia? ''Wah, belumlah. Pokoknya saya nekat saja cari lewat pasar gelap,'' ungkap karyawan sebuah bank di Jakarta itu.

Dia mengisahkan, tiket-tiket resmi yang dipesan melalui internet sudah terjual habis setahun sebelum Germany 2006 dimulai. Namun dia nekat ke Jerman karena mendapat informasi dari salah seorang temannya yang berprofesi sebagai wartawan. Wartawan itu mengatakan, kalau mau dapat tiket harus berani mencari langsung ke stadion.

Perjuangan pertamanya adalah mengejar duel Brasil versus Kroasia di Berlin pada 13 Juni. Dengan berbekal tulisan, ''I need one ticket'' yang dikalungkan di lehernya, dia bergerilya di depan Stadion Berlin.

Setelah mencari-cari selama dua jam, akhirnya diperoleh sebuah tiket dari orang Meksiko seharga 300 euro (Rp 3,6 juta). Karcis mahal itu hanya berlaku di sektor 3, bukan kelas VIP. Meski demikian, ayah tiga anak itu tetap bangga.

''Pengalaman di Berlin tersebut memberi saya kepercayaan diri untuk lebih berani memburu tiket di mana pun,'' tegas pria berusia 35 tahun ini.

Benar saja, dua hari kemudian, dia mendapatkan karcis partai Swedia lawan Paraguay di Berlin dengan harga 280 euro (Rp 3,36 juta). Tiket itu diperolehnya dari calo asal Brasil. Tempat duduknya lagi-lagi di sektor 3.

Dari Berlin, penggila bola yang tinggal di Cibubur tersebut lantas bergerak menuju Frankfurt untuk menonton partai Portugal-Iran. Lewat seorang makelar berkulit gelap, dia memperoleh tiket seharga 200 euro (Rp 2,4 juta). Posisi duduknya di Waldstadion juga di sektor 3 (tingkat dua dari bawah).

''Hobi saya ini sepenuhnya didukung keluarga, karena itu saya seneng-seneng aja,'' tambahnya.

Dengan demikian dari tiga tiket yang sudah didapat itu, dia mengeluarkan hampir Rp 10 juta.

Absen Nonton Final

Rizal sebenarnya ingin sekali menonton final di Berlin, 9 Juli (10 Juli WIB) mendatang. Akan tetapi, karena berbagai pertimbangan dan pekerjaannya, dia memilih absen. Tiket final, lanjut dia, sangat mahal dan pasti sulit diperoleh.

Kendati tak sampai selesai menonton Piala Dunia 2006, dia tetap puas lantaran berhasil memenuhi dua keinginannya. Pertama, dia bersyukur bisa langsung ke Stadion Berlin yang merupakan impiannya sejak lama. Yang kedua, sebagai penggila bola dia mengaku telah sempurna karena sudah melihat langsung penampilan Brasil di lapangan.

''Prinsip saya, partai final boleh lepas, tapi yang penting sudah menyaksikan permainan Ronaldinho dan kawan-kawan,'' jelas suporter berat Tim Samba itu.

Sebelum ke Jerman, dia menghabiskan waktunya di Amsterdam, Belanda, dan Madrid, Spanyol. Dengan berbekal Eurail Pass, dia bebas berkeliaran di negara-negara Eropa Barat selama dua bulan terhitung mulai Juni 2006.

''Eurail Pass itu bisa dipakai untuk transportasi darat. Karena jatuh temponya masih lama, saya ingin melanjutkan perjalanan ke Brussel, Belgia, sebelum balik Jakarta,'' paparnya.

Penggila bola yang mengidolakan Roberto Carlos itu pun menyempatkan diri mampir di Santiago Bernabeu, markas klub Real Madrid. Dengan membayar 9 euro (Rp 108 ribu), dia bebas melihat langsung stadion berkapasitas 100.000 penonton tersebut.

Dia sangat mengagumi stadion megah itu. Santiago Bernabeu merupakan estadio modern yang mempunyai fasilitas lengkap dan mewah.

''Saya suka Real Madrid karena tim itu punya pemain-pemain bagus dan mempunyai segudang prestasi. Saya juga mampir ke kandang Barcelona, juara Liga Champions 2006,'' imbuhnya. (Edi Indarto, dari Frankfurt).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA