| Senin, 19 Juni 2006 | WACANA |
Surat PembacaPerlindungan HAMRasanya belum hilang trauma yang menggurat jelas di benak dan jiwa saudara-saudara kita di DIY, Klaten, dan sekitarnya akibat gempa yang meluluhlantakkan segalanya. Sangat pantas bila kita yang berjiwa luhur merasa tercabik atas tragedi nasional ini. Tapi sungguh di luar jangkauan perikemanusiaan jika masih saja ada pihak yang memanfaatkan kondisi mengenaskan tersebut. Diberitakan, seorang gadis berusia 19 tahun asal Dusun Tegalsari, Kretek, Bantul, DIY diperkosa tiga oknum aparat keamanan yang seharusnya membantu para pengungsi. Juga nenek Tumiyem (57) yang memilih menggantung diri lantaran tak kuat menanggung cobaan akibat gempa. Pengungsi asal Birit, Wedi, Klaten itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di bawah pohon sukun di dekat puing-puing rumahnya. Ah... kemalangan apa lagi yang bakal menimpa mereka di tengah dera penderitaan yang belum pupus menjerat dirinya?. Korban gempa bukan hanya butuh bantuan logistik dan obat-obatan semata, namun juga perlindungan HAM dan perempuan dari segala pelecehan dan penodaan. Jangan sampai kasus perdagangan dan pelecehan perempuan korban tsunami Aceh kembali menimpa perempuan korban gempa. Jangan sampai pula psikologis mereka terganggu atau makin tertekan di tengah porak-poranda hidup dan kehidupan yang entah kapan akan terbenahi. Ini bukan masalah ketersediaan dana, tetapi harkat dan martabat perempuan sebagai pencetak generasi bangsa yang berkualitas. Juga bukan sekadar masalah birokrasi dan hukum positif, namun terkait pula nurani sebagai manusia. Kaum perempuan sering menjadi pihak yang rentan terhadap berbagai ekses negatif. Selagi RUU Antipornografi dan pornoaksi masih digodok, apa salahnya jika mencoba membenahi dan menahan hawa nafsu sendiri. Walaun RUU Penanggulangan Bencana masih sebatas wacana bukankah tak salah bila kita mencoba sebaik mungkin menangani berbagai dampak ikutan dari bencana yang terjadi. Mohon pemerintah, LSM, aparat keamanan, lembaga pemberdayaan dan advokasi perempuan, relawan turut melindungi dan mendampingi perempuan korban gempa. Retno K Rini, SPd Si Jl Cerme 166 Sidanegara, Cilacap *** Belajar Jadi Penulis Saat ini saya belajar menjadi penulis, terutama cerpen dan novel. Menurut saya, menulis bisa menambah penghasilan dan sekaligus menyalurkan hobi. Kemampuan menulis yang rendah, membuat saya berkeinginan untuk bergabung dengan perkumpulan penulis Semarang. Saya mohon bantuan mengenalkan ke perkumpulan penulis dan mengajak saya menjadi anggota. Kendala yang banyak dijumpai oleh calon penulis adalah tidak adanya komputer karena tidak ada penerbit yang mau menerima tulisan tangan. Totok Aminoto Mranak Rt 3/Rw 9 Wonorejo, Pringapus *** Sebuah Pitutur Sebuah pitutur (petuah) tidak mesti dicontohkan oleh orang yang dianggap terhormat. Sering orang sederhana malah mampu memberi petuah orang yang diberi amanah memimpin. Mereka jangankan ngarani, bahkan diberi pun kadang malah menolak. Memang banyak orang pintar tapi sejatinya tidak pintar dan banyak orang bodho tapi sejatinya tidak bodho. Banyak orang pinter rebutan sesuatu yang dianggapnya pantas menjadi haknya. Padahal komunitas Samin malah menolak dana SLT. Salah satu yang tak terekspos adalah cerita teman yang pegawai urusan pemberian bantuan. Suatu saat dia dan timnya di daerah agak terpencil, pernah ditolak dan diusir karena rakyat yang disambangi merasa tidak miskin. Setelah diberi pengertian akhirnya mereka hanya minta dibuatkan jendela kamar dan WC. Bantuan tunai puluhan juta ditolak. Mereka tak punya WC tapi tidak mau disebut orang miskin. Betapa pula pemangku adat Tana Toa di Kecamatan Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan mampu mengadopsi semangat leadership rasulullah Muhammad SAW, padahal mereka bukan pemeluk Islam. Pemangku adat adalah orang pertama yang lapar saat paceklik dan orang terakhir yang kenyang saat panen raya. Coba mana ada, begitu usai dilantik menjadi Amatoa (pemangku adat) rumahnya yang semula berdinding dan berlantai papan kayu langsung direhab. Bukan dengan susunan keramik atau mamer tapi malah dengan anyaman bambu. Secara fisik bahkan lebih sederhana dari rumah warganya sendiri. Melalui prinsip kamase-mase seorang pemangku adat harus mampu mengekang nafsu, jujur, rendah hati, tak merugikan orang lain dan menjaga keseimbangan alam. Dari satu sisi, eksistensi adat budaya tersebut tidak ada yang salah. Sekali tempo bisa dijadikan wilayah kunjungan kerja para pejabat. Bahkan mungkin dijadikan studi banding untuk mencari dan memahami makna/arti kepemimpinan yang muni dan sejati. Tapi kita perlu menjujuri diri sendiri bahwa biasanya orang berprinsip tatkala di luar lingkaran. Bila di dalam lingkaran malah tak berkutik dan diam seribu basa. Yah... mereka juga manusia. Tapi ngono yo ngono ning ojo ngono. Noor Rofiq Jl Wamena V / 228- 229, Ungaran *** Majalah Playboy Oh Playboy ... Kehadiranmu dinanti sekaligus dicaci Lelaki bilang gambarmu seksi FPI bilang bodimu nggegirisi Redaksi bilang hi ... hi... hi.... Oh Playboy .... Dulu orang hanya sekadar bermimpi Kapan ada majalah khusus lelaki Sekarang terbit media yang diingini Tapi beberapa saat tidak muncul lagi Oh Playboy.... Tiba-tiba wajahmu nongol kembali Setelah redaksi pindah tiga kali Mungkin untuk menghindari demonstrasi Sehingga tinggallah kau di Bali Oh Playboy .... Seandainya RUU APP diberlakukan kini Maka tubuhmu tak akan mulus lagi Banyak gelombang protes padamu kini Terutama oleh modelmu yang seksi ... (ditulis dengan play = main-main, oleh boy= lelaki) Agus Eko Santoso Pondok R Patah Blok K 1/21, Demak *** Tidak Kaget Lagi Saat saya omong-omong dengan pengelola sekolah di sebuah kedai nasi, ada info wagu yang dilakukan Pemkab Boyolali. Dia mengeluh saat sekolahnya membangun dan mendapat kucuran dana cukup besar dari pusat yang dilengkapi dengan SK untuk penggunaannya. Tetapi oleh Pemkab lewat Diknas Boyolali, dana tersebut dibatalkan dan tidak dialokasikan ke sekolah yang ditunjuk pusat. Melihat gejala seperti ini saya tidak kaget. Ini otonomi daerah. Sebetulnya hal ini hanya perwujudan kekuasaan atau barangkali juga sebuah sikap dumeh, menang dan nggampangke. Saya hanya mengingatkan, Boyolali termasuk salah satu daerah rawan bencana yang bisa mengancam orang yang lurus hidupnya, apalagi yang suka bermain-main dengan kepercayaan. Bencana yang sering dolan di wilayah ini di antaranya angin ribut, tanah longsor dan kekeringan. Terakhir gempa bumi yang meluluhlantakkan 400 rumah warga Satriyan, Cepokosawit di Kecamatan Sawit yang tidak diberitakan secara dahsyat di media. Mohon agar bantuan pusat ini bisa diserahkan kepada yang berhak sesuai SK. Yang lebih penting, penjelasan Pemkab mengapa menggagalkan bantuan tersebut. Ignatius Sujoko Gladagsari Rt 1/Rw 1 Ampel, Boyolali *** Rawat Kim Sin Mohon bila ada yang mendapat kim sin patung dewa dewi versi kelenteng dari peninggalan orang tua atau mungkin berpindah agama, jangan disia-siakan. Saya bersedia menampung dan merawat baik masih dalam kondisi bagus maupun rusak. Oei ShuAn Wotgandul Timur 23, Semarang *** Mohon Pekerjaan Beberapa waktu lalu ada seorang teman lama dari Purwodadi untuk numpang tidur dan cari kerja. Hingga kini entah sudah berapa puluh surat lamaran dikirim dan keluar masuk kantor untuk mencari kerja, namun belum juga berhasil. Saya mengimbau ada dermawan yang memberi pekerjaan padanya. Dia laki-laki, umur 24 tahun, tinggi badan 170 Cm, berat badan 60, agama Islam, lulusan SMU (2002), dan masih single. Bagi dermawan, bisa menghubungi saya di 081.577.800.91. Totok Edhi Sucipto Jl Puspogiwang Dlm V/6, Semarang |