logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Juni 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Orang-orang Muda, Ketulusan dan Dedikasinya

-- Korban, pengorbanan, dan ketulusan. Tiga kata ini seperti rangkaian yang tak terpisahkan dalam setiap terjadinya bencana alam. Meninggalnya dua relawan, Sudarwanto dan Warjono, dalam bungker Kaliadem di tengah amukan awan panas Merapi pekan lalu, menjadi bagian dari rangkaian kata-kata tersebut. Apa pun penyebabnya, mereka telah memberikan pengorbanan ketika mendedikasikan tugas bagi para korban Merapi. Puncak sebuah dedikasi telah terlewati, walaupun keindahan pengabdian yang ingin dicapai tentulah keselamatan untuk semua, baik bagi para warga maupun relawan.

-- Risiko terburuk seperti ketika kematian menjemput, tentu sudah menjadi pertimbangan para relawan kendati upaya-upaya meminimalisasi risiko telah dibuat dan dilakukan. Kita tidak menemukan ungkapan lain kecuali ketulusan yang melatari dedikasi semacam itu. Sudarwanto dan Warjono termasuk mereka yang mengabdi dengan ketulusan yang tidak dipamerkan ketika kita menyaksikan banyak elemen masyarakat ataupun perseorangan yang hadir ke daerah bencana justru dengan niatan-niatan atau pamrih. Dua relawan Merapi itu adalah bagian di antara mereka yang hadir ke lokasi bencana dengan pamrih untuk berbagi keselamatan.

-- Kita berikan penghargaan kepada orang-orang seperti kedua almarhum itu. Kematian jelas merupakan pengorbanan yang tidak lagi dapat dinilai sedangkan apa yang mereka lakukan selama ini juga termasuk dalam jenis pekerjaan langka. Tanpa didasari ketulusan, apakah mungkin mereka bersedia berada di lokasi bencana dengan risiko-risiko terburuk? Keberadaan yang pasti dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi yang harus disisihkan untuk waktu, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan. Mereka hadir bukan dengan target untuk diliput media, dipublikasikan, atau mendapat semaksimal mungkin keuntungan politik-ekonomi.

-- Dari daerah bencana banyak tersaji kisah keteladanan, juga contoh-contoh yang tidak patut ditiru. Banyak anak muda yang datang tanpa mengedepankan "baju" atau "kelompok" untuk melakukan pendampingan para korban. Mereka dari kalangan mahasiswa atau lainnya. Kalau tidak ada anak-anak muda ini, dapat dibayangkan betapa berat tugas yang harus dipanggul otoritas-otoritas resmi yang menangani. Katakanlah seperti ketika terjadi gempa di Yogyakarta dan Klaten, keterbatasan tenaga medis jelas membutuhkan bantuan tenaga-tenaga segar dalam proses evakuasi dan pendampingan. Apalagi, ketika keadaan masih kacau.

-- Kita menghargai mereka yang datang untuk memberikan apa saja kepada para korban. Dari makanan siap santap, makanan kering, obat-obatan, pakaian, tenda pengungsian, hingga uang tunai. Kita juga menempatkan para relawan yang hanya bermodal tenaga dan pikiran untuk pendampingan dalam posisi yang sangat penting. Apalagi, ketika kehadiran mereka tidak didasari niatan-niatan yang "menumpang" namun benar-benar dengan ketulusan membantu. Bukankah kita tidak menutup mata, tidak sedikit mereka yang "menumpang" bencana alam untuk menunjukkan "baju" kelompok atau kedermawanan pribadi melalui media?

-- Kita tidak menghendaki kematian menjadi ukuran paling sahih bagi sebuah dedikasi. Namun, kematian ketika menunaikan tugas kemanusiaan jelas memperlihatkan pengorbanan yang tak terukur. Pada sisi lain, kita juga menemukan fakta membanggakan, betapa di tengah sengkarut kehidupan seperti sekarang masih banyak orang muda yang berjiwa pengabdi. Sepatutnyalah semua yang bertindak dengan sistematika pikiran atas nama pamrih-pamrih yang lebih besar ketika memberikan bantuan, malu oleh tragedi bungker di Kaliadem itu. Kita berbelasungkawa sekaligus bangga dan merasa mendapat ayat qauniyah yang mencerahkan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA