logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Juni 2006 NASIONAL
Line

Kesibukan Baru bagi Anak-anak Pengungsi Merapi

Buat Kerajinan untuk Ubah Masa Depan


SM/ Achmad Hussain MEMBUAT KERAJINAN: Dua anak warga lereng Merapi membuat berbagai kerajinan di Posko Pengungsian Dompol, Kemalang, Minggu (18/6). (57n)

SEJAK status Gunung Merapi dinaikkan menjadi Awas 14 Mei lalu, warga tiga desa di lereng Merapi yakni Balerante, Tegalmulyo, dan Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, turun ke posko pengungsian. Tidak hanya orang dewasa yang repot, anak-anak juga bernasib sama. Dunia bermain mereka di kampung halaman terenggut. Mereka harus hidup di tenda-tenda pengungsian yang gerah dan membosankan. Untuk mengusir kejenuhan, sebagian memilih belajar membuat kerajinan dari kayu dan bambu di posko Dompol, Kemalang.

"Hasilnya lumayan, banyak pejabat dan wartawan yang membeli kerajinan kami," ujar Widyasari (14), warga Sidorejo kemarin siang. Siswi kelas dua SMP I Kemalang tampak sedang menata hasil kerajinan rekan-rekannya sesama anak pengungsi. Bentuknya bermacam-macam mulai dari tempat lampu dari bahan bambu, tempat gelas, nampan, sandal kayu dibatik, dan sebagainya yang tampak mewah. Padahal, stan kerajinan anak-anak pengungsi ini tidak mewah.

Hanya beratap tenda, satu meja panjang, dan beberapa kursi di depan posko Dompol. Di tempat itu setiap hari puluhan anak tekun belajar membuat kerajinan. Yang tidak kebagian tempat duduk, rela klesotan di teras posko.

Widya mengatakan, setiap hari dia dan rekan-rekannya menghabiskan waktu di pondok kerajinan yang diberi nama " Pondok Hikmah Merapi". Nama itu, menurutnya, juga diambil secara spontan. Nama itu, lanjut gadis berambut panjang ini, dimaksudkan agar aktivitas mereka nantinya memberikan hikmah meski selalu dihantui bahaya Merapi.

Anggota pondok merupakan akan-anak pengungsi dari dua desa yakni Sidorejo dan Tegalmulyo. Jumlah anggota pondok kerajinan ini 37 orang. Yang lainnya memilih tidak ikut. Yang tidak ikut biasanya belum sekolah atau mereka yang memilih bermain.

Dia mengatakan, pondok seni dan kerajinan itu awalnya hanya sebuah pelatihan singkat yang dilakukan oleh para relawan dari pemerintah dua bulan lalu. Pesertanya hanya beberapa anak. Namun, setelah mereka dapat membuat kerajinan, rekan sesama anak pengungsi dirangkul. Ternyata, lanjut dia, banyak yang berminat sampai akhirnya dibuatkan stan khusus.

"Sepulang sekolah saya biasanya langsung ke stan, mau pulang ke rumah juga tidak bisa karena semua keluarga di barak, hanya ayah yang pulang lalu kembali lagi," tutur dia.

Muji Rahayu (15) warga Sidorejo yang dipercaya sebagai kepala seksi penjualan mengungkapkan, harga yang dipatok untuk hasil kerajinan anak-anak pengungsi ini relatif murah. Untuk sepasang sandal kayu dibatik seharga Rp 25.000, tempat lampu Rp 30.000, nampan Rp 35.000 sedang lainya di bawah Rp 20.000.

Gadis yang hanya tamat SMP ini mengatakan, setiap barang kerajinan memakan waktu pengerjaan yang singkat. Untuk semua jenis barang hanya butuh waktu 2-3 hari. " Kami berharap, keterampilan ini nantinya menghasilkan barang yang bisa diekspor ke luar negeri sehingga warga di dekat Merapi bisa lebih makmur," ucapnya.

Menurutnya, selama ini anak-anak di lereng Merapi hanya beraktivitas bercocok tanam membantu orang tua di tegalan dan mencari pakan ternak. Selain itu, tidak banyak anak yang lulus SMA sehingga tidak banyak pula yang memiliki keahlian selain bercocok tanam dan mencari pakan ternak. Meski kerajinan hal yang baru, tetapi dia mengaku tidak sulit mempelajarinya. Dia hanya butuh waktu sepekan untuk satu jenis barang.

Tidak hanya itu dia juga memiliki obsesi lain agar keterampilan ini kelak mampu mengembalikan kejayaan kawasan wisata Deles Indah yang meredup karena aktivitas Merapi. "Siapa tahu nanti kerajinan ini menjadi kerajinan rumah tangga yang bisa dijual untuk wisatawan jika kondisi sudah pulih," tandasnya. (hsn-41v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA