| Senin, 19 Juni 2006 | NASIONAL |
Autobiografi Ahmad Syafii MaarifDari Fundamentalis ke PluralisJUDULNYA Titik-titik Kisar Perjuanganku. Itulah buku autobiografi mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Syafii Maarif. Dalam buku setebal 407 halaman terbitan Maarif Institute, dia berusaha merefleksi autentik pengalaman sejak kelahirannya pada 31 Mei 1935 di Sumpur Kudus, Sumetera Barat hingga purnatugas memimpin ormas Islam terbesar kedua pada 2005. Dia dikenal sebagai tokoh prularis yang mengedepankan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Ihwal pemahamanan itu tidak serta-merta datang begitu saja. Seperti diakui sendiri dalam Bab IX, paham keagamaan Muhammadiyah yang dipompakan kepada dirinya sejak duduk di madarasah ibtidaiyah sampai melanjutkan di Madarasah Mualimin Yogyakarta, tetap menjadikan dirinya memiliki naluri sebagai seorang fundalmintalis meski pengetahuannya bertambah luas. Bahkan sampai melanjutkan studi ke Universitas Ohio, Amerika Serikat (AS), paham keagamaan Syafii belum banyak berubah. ''Cita-cita politikku tetap saja ingin menaklukkan Indonesia menjadi negara Islam. Padahal, batang usiaku sudah di atas 40 tahun,'' demikian tulis Syafii di halaman 401. Dalam buku yang terdiri atas sembilan bab itu, Syafii mengakui, saat itu otaknya belum mendapat pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. Baru ketika di lingkungan kampus Universitas Chicago, dia mengalami kebangkitan spirital dan intelektual baru, sekaligus titik kisar terakhir, yaitu tentang keislaman dan keindonesiaanku. Dengan menimbang kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan Alquran, telah mengantarkan dia ke titik kisaran perjalanan intelektualnya. ''Biarlah pengamat yang menjawab soal benar atau sudah lurus. Aku sendiri hanya berharap perjalanan hidupku dalam koridor Islam yang autentik, sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamaanku.'' Sejarah Bahkan Syafii menyampaikan kesimpulannya, apa yang dikenal dengan kelompok Sunni, Syiah, Khawarij dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai peradaban muslim adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan, diterima atau ditolak, dengan menempatkan Alquran sebagai hakim tertinggi. Sebagaimana nenek mereka terdahulu, cicit-cicit itu juga tidak jarang juga terlibat saling baku hantam yang tak putus-putusnya karena Alquran tidak dijadikan rujukan pertama dan utama, terlalu lama dicampakkan dalam limbo sejarah. ''Kesimpulan ini dari aku sendiri.'' Ahli sejarah itu pun menyampaikan pandangannya, semua hasil sejarah itu pasti terikat tempat dan waktu. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan, bukan milik kita. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan, sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas, jujur, dan kritis. Untuk Indonesia ke depan, tugas yang menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Pandangan Muhammad Hatta dan HA Salim berangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu. Dalam prespektif ini, Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya jangan hanya dijadikan retorika politik. Semua nilai itu harus diterjemahkan dalam format yang konkret sehingga prinsip keadilan sosial bagi semua rakyat Indonesia benar-benar menjadi kenyataan. Dalam ungkapan lain, terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia sesungguhnya dapat dicari akar umbinya pada kelalaian fatal para elite bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya sangat tinggi. Akan tetapi, alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. Integrasi nasional bagi Syafii bukan sesuatu yang sudah final, ia adalah proses yang terus berlangsung, tidak pernah berhenti. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik, di samping bahasa Indonesia, akan mem-berikan sumbangan yang sangat menentukan dan memantapkan proses integrasi. ''Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan, aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya risiko gagal. Gagal.'' Untuk itu Syafii berpesan, agar membaca peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan cara-cara radikal yang sia-sia. (A Adib-41j) |