| Senin, 19 Juni 2006 | NASIONAL |
Awan Panas Merapi Bertambah Pekat
KLATEN - Gunung Merapi hingga Minggu (18/ 6) masih belum menunjukkan penurunan aktivitas berarti. Meski jarak luncur awan panas paling jauh tercatat 3,5 km, awan panas atau wedhus gembel yang terlihat dari wilayah Klaten warnanya bertambah pekat, merah kecokelatan. Awan panas pekat tersebut muncul antara pukul 10.00-10.20 sebelum akhirnya sebagian punggung Merapi tertutup kabut sampai sore. Akibatnya, arah luncuran ataupun jarak tidak bisa dipantau dengan jelas. Yang terdengar hanya suara gemuruh cukup keras. Diperkirakan, awan panas pekat tersebut tetap mengarah ke Kali Gendol. Awan panas pekat sering terlihat menabrak Bukit Kukusan di sebelah kiri Bukit Kendil. "Warna yang pekat bisa menunjukkan kandungan gas dan material yang lebih padat. Itu bedanya dibanding dengan awan panas yang warnanya putih," ujar Suramto, staf pengamat Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, di lapangan Sidorejo. Dia mengatakan tidak ada lagi lompatan material yang mengarah ke hulu Kali Woro bagian atas. Semua material yang dibawa awan panas kemarin masuk ke hulu Kali Gendol. Meski wilayah Klaten masih relatif aman, semua unsur siaga penuh. Mereka tidak ingin peristiwa Kaliadem terulang di kawasan Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Tiga desa itu memang terletak paling dekat dengan puncak Merapi. Paling rawan adalah Dukuh Sambungrejo, Desa Balerante. Daerah itu cukup terbuka dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak Merapi. Kini beberapa warga Tegalmulyo tengah bergotong-royong memperbaiki jalan menuju sebuah dukuh terpencil di kawasan tersebut. Selain itu, sejak beberapa hari warga memperketat pengamanan di beberapa jalur utama. Semua orang yang masuk ke kawasan wisata Deles ditanyai identitasnya. Wartawan yang hendak naik ke desa yang berada di puncak juga diminta menunjukkan identitasnya. Selain itu, warga yang naik juga diimbau untuk mengarahkan sepeda motor ke jalur turun dengan kunci kontak sudah terpasang. Pengamanan ini dilakukan juga untuk mencegah "wisatawan bencana" yang jumlahnya cukup banyak yang akhir-akhir ini nekat mendekati puncak. Mereka sangat sulit diperingatkan. Jika diingatkan oleh warga atau relawan yang bertugas di pintu masuk Objek Wisata Deles Indah, mereka selalu mencari alasan. Bahkan ada beberapa keluarga yang nekat membawa bayi berusia kurang dari dua tahun. "Saya tadi sampai sempat melakukan sweeping untuk mengajak mereka turun dan melihat Merapi dari jauh," kata Yadi, warga desa itu yang juga menjadi relawan. Dia mengaku tidak habis pikir dengan warga yang ingin naik untuk melihat Merapi. Warga yang sejak lama tinggal di lereng Merapi saja banyak yang tidak berani sembarangan. Berdasarkan data dari BPPTK hingga pukul 06.00 kemarin tercatat 53 kali luncuran lava pijar sejauh satu kilometer mengarah ke Kali Gendol. Lima kali lava pijar lainnya masuk ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur 2,5 km. Semburan awan panas terjadi empat kali sejauh tiga kilometer mengarah ke hulu Kali Gendol. Dari data seismograf, terjadi gempa multifase sembilan kali dan gempa guguran 28 kali. Kubah Lava Baru Sementara itu, ancaman bahaya dari aktivitas Gunung Merapi tahun ini masih akan berlanjut. Setelah terjadi erupsi besar pada 14 Juni lalu, Merapi menunjukkan jati dirinya sebagai gunung api aktif sepanjang tahun dengan kembali membentuk kubah lava baru. Ancaman semburan awan panas besar masih akan terjadi. Demikian dikatakan Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK Yogyakaarta Drs Subandriyo MSi kepada wartawan, kemarin (18/6). ''Berapa volumenya belum bisa diperkirakan karena posisinya masih agak ke dalam, di bawah cekungan,'' ujarnya. Dia memperkirakan panjang kaki (bagian bawahnya) itu sudah mencapai sekitar 100 meter. Dengan terbentuknya kubah lava sejak peristiwa 14 Juni lalu, dalam beberapa hari ke depan akan terjadi pengurangan aliran luncuran lava pijar ataupun awan panas. Namun, lanjutnya, hal itu sekaligus berarti terjadi akumulasi tekanan gas magma yang pada gilirannya ketika kubah lava itu tidak kuat, akan memungkinkan terjadinya luncuran besar lagi. Seperti diberitakan, setelah terbentuk pada 26 April lalu, kubah lava tumbuh dengan cepat. Dalam waktu sekitar sebulan (pada awal Juni lalu) volume materialnya yang berbentuk batok terbalik mencapai 4,3 juta meter kubik. Pada 9 Juni lalu 1,3 juta meter kubik volume kubah lava runtuh karena aktivitasnya yang tinggi. Lima hari kemudian (14/6), sekitar 2 juta meter kubik lainnya runtuh lagi bersama pelataran Gendol yang membentuk cekungan (krowak) menghadap ke alur Kali Gendol di lereng selatan/tenggara. Kubah lava sejak 14 Juni terbentuk dalam cekungan itu. Sebelum membentuk kubah sejak 14 Juni lalu, dia membenarkan sepanjang hari Gunung Merapi aktif mengeluarkan lava pijar ataupun awan panas yang bervariasi. Sampai pukul 12.00 kemarin tercatat 30 kali semburan awan panas dominan mengalir ke arah hulu Kali Gendol dengan jarak luncur 3.000 meter. Empat kali di antaranya terjadi pada pukul 00.00-06.00. Sebanyak 26 kali lainnya terjadi pada pukul 06.01-12.00. Banjir Lahar Dingin Warga di lereng Gunung Merapi sisi selatan tidak hanya terancam oleh bahaya awan panas, tetapi juga terancam banjir lahar dingin dari endapan lava Merapi yang telah longsor di Kali Gendol dan menimbun objek wisata Kaliadem. Sampai sekarang Pemprov DIY belum mempunyai solusi untuk mengantisipasi ancaman banjir lahar dingin. Kepala Sub Bidang Pengairan Kimpraswil DIY Djoko Sasongko menyatakan, setelah peristiwa tertimbunnya kawasan wisata Kaliadem, Rabu (14/6), pihaknya sudah melakukan peninjauan lapangan, tapi belum bisa mendekati sampai ke hulu Kali Gendol karena suhunya masih panas. "Kami baru bisa memantau seluruh dam sabo penahan lahar Merapi yang sudah penuh material. Kami belum bisa menghitung secara keseluruhan berapa jumlah material itu, namun itu bisa menjadi ancaman baru pascaerupsi 2006 ini," katanya, kemarin (18/6). Dikatakan, setiap dam atau sabo di Kali Gendol memang dibuat untuk menahan lahar dingin, namun itu tidak terjadi pada Kali Opak. Kali ini bendungannya hanyalah dam untuk irigasi. "Ini sebenarnya yang sangat berbahaya karena kalau diterjang banjir lahar dingin dam di Kali Opak tidak akan bisa menahan bahkan bisa rusak," ujarnya. Kemungkinan banjir lahar yang melalui Kali Opak ini, lanjut dia, karena hulu kali itu terhubung dengan Kali Gendol, padahal Kali Gendol juga terhubung langsung dengan lereng Merapi. Diungkapkan, dam sabo di Kali Gendol mampu menahan material pasir dan batu tidak kurang dari 1,5 juta meter kubik. Menurut dia, kemungkinan banjir lahar akan mengancam warga yang bermukim di sepanjang Kali Opak, terlebih mereka yang berada di persimpangan pertemuan Kali Gendol dan Opak yang berada di Kecamatan Ngemplak, Sleman. Selain itu, menurut dia, warga Prambanan juga menjadi ancaman berikutnya banjir lahar. "Tebing sungai di daerah yang agak atas tergolong tinggi tapi tebing sungai yang berada di daerah bawah tergolong rendah, sehingga ketika daerah aliran sungai tidak lagi bisa menampung maka bisa meluap ke permukiman penduduk," tandasnya. Data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menyebutkan, longsoran material selama erupsi 2006 tidak kurang dari enam juta meter kubik, paling banyak menimbun lereng dan alur kali di sisi bagian selatan Merapi. Karena itulah Pemkab Sleman memperkirakan akan terjadi banjir lahar dingin. Bupati Sleman Ibnu Subiyanto mengungkapkan, pihaknya telah menyusun strategi mitigasi bahaya banjir lahar dingin, terutama bagi penduduk yang berada di sepanjang Kali Opak. Menurut Ibnu, salah satu rencana yang sedang disusun adalah kemungkinan dilakukan penambangan secara terbatas di hulu Kali Gendol dan Opak. Jika terjadi banjir lahar dingin akan bisa menampung dan tidak meluap ke permukiman. "Yang penting kita terus meminta warga tetap waspada terhadap ancaman terjadinya bahaya sekunder Merapi setelah guguran material beberapa hari lalu," tambahnya. Setelah muntahan lava Rabu (14/6), kawasan Kali Gendol sampai kawasan Kaliadem seakan menjadi jalur tol luncuran awan panas. Akibatnya, warga yang berhadapan langsung dengan daerah tersebut diungsikan. Desa itu antara lain, Kepuharjo, Glagaharjo dan sebagian warga Umbulharjo. Sampai kemarin (14/6) tercatat tidak kurang dari 4.000 pengunsi. Akses jalan menuju objek wisata Kaliadem dan Kaliurang pun ditutup untuk umum. Tidak hanya itu, seluruh kawasan yang berada di bawah kawasan Kaliadem juga ditutup untuk umum. Antara lain, Desa Kepuharjo, Glagaharjo, dan Umbulharjo. Di tiga desa tersebut akses jalan menuju dusun-dusun yang berada di daerah atas, seperti Kinahrejo, Kopeng, dan Jambu ditutup total. Selain itu, di setiap jalan utama menuju daerah atas juga dijaga ketat oleh aparat kepolisian dan warga setempat. Seperti yang tampak pada pos penutupan jalan di Depan Balai Desa Umbulharjo. Adapun jalan-jalan lain yang tergolong kecil sudah dipagari warga dengan menggunakan bambu dan ranting pohon. Tidak ada akses jalan menuju ke daerah atas, bahkan para wartawan pun tidak diperbolehkan lagi naik ke sana. (hsn,F5, P58,sho-41nv) | ||||