| Senin, 19 Juni 2006 | SEMARANG |
Diserang Penyakit AnehPetani Kubis Terancam Gagal PanenKOPENG- Petani kubis di Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, terancam gagal panen. Sebab, ditemukan penyakit aneh yang menyerang akar, berbentuk benjolan yang mengakibatkan tanaman mati dalam waktu 20 hari setelah masa tanam. Para petani tidak mengetahui nama penyakit tersebut, sehingga banyak menyebutnya dengan menthol, sesuai dengan bentuk yang benjol. Petani kubis dari Dusun Ndeblongan, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Abdul Rohman (40) mengatakan, penyakit itu seperti menular dari tanaman satu ke tanaman lain. Segala macam pengobatan sudah dilakukan, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. "Kalau hama tinggal semprot dengan pestisida sudah bisa mati. Pada tanaman yang sudah mati, kalau kita cabut ternyata pada pangkal batang sudah tumbuh banyak benjolan dan keras," kata dia, sembari memperlihatkan tanaman kubis yang terkena penyakit aneh tersebut, Minggu (18/6). Tak Bisa Maksimal Jumlah tanaman kubis miliknya yang terkena penyakit tersebut mencapai 1.000. Pada masa tanam sebelumnya yang dipanen Mei lalu, dirinya tidak bisa mendapat keuntungan maksimal. Dikhawatirkan kegagalam panen mengancam petani pada musim kali ini. Hal senada dikatakan petani lain, Joko Slamet (45). Sebanyak 2.000 tanaman kubisnya mati terkena penyakit menthol. "Panen kemarin tidak bisa penuh. Ini sekarang saya tanam lagi, tetapi saya takut kena penyakit ini," ujar dia. Kemungkinan timbulnya penyakit aneh itu, tutur Abdul, berasal dari bibit yang dibeli petani dari Desa Ngablak, Kabupaten Magelang. Di sana juga banyak ditemukan penyakit aneh seperti itu. Berhubung petani di desanya tidak melakukan pembibitan, mereka membeli dalam jumlah besar ke desa sebelah barat tempat wisata Kopeng. "Saya kira penularannya melalui tanah. Sebab kalau ada tanaman satu mati kena menthol, dua hari kemudian tanaman lain juga akan banyak yang mati," ungkap dia. Masalah tersebut sebenarnya pernah dilaporkan kepada Petugas Pemantau Lapangan (PPL), tetapi sampai sekarang tidak ada jawaban. Padahal, masyarakat Dusun Ndeblongan hampir seluruhnya menanam kubis. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan (Dispertan) Kabupaten Semarang Ir Warnadi MM menyebutkan, penyakit aneh pada kubis yang dikeluhkan petani Ndeblongan adalah penyakit akar gada. Munculnya penyakit itu dikarenakan faktor kejenuhan dari tanah yang secara terus-menerus ditanami kubis dan penggunaan pupuk kimia yang menyebabkan unsur hara tanah menjadi mati. Upaya Dispertan, selain penyuluhan juga meminta petani dalam satu musim tidak terus menanam kubis, tetapi diselingi tanaman lain seperti jagung. Selain itu, meminta petani membeli benih tanaman yang berlabel, tidak mengambil benih yang ditangkarkan petani lain. (dky-37s) |