| Senin, 19 Juni 2006 | KEDU & DIY |
Dilema Menanam KentangTANAMAN kentang merupakan komoditas primadona bagi petani di Dataran Tinggi Dieng. Tanaman semusim tersebut telah meningkatkan kesejahteraan para petani. Pembudidayaan komoditas kentang telah mengubah wajah Dataran Tinggi Dieng. Bukit-bukit terjal yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan lindung pun dirambah dan ditanami tanaman semusim. Banyak pohon penguat lahan yang ditebang karena dianggap mengganggu tanaman kentang. Selain itu, pola bertanam dengan sistem "guludan" membujur ke bawah dan tidak melingkar bukit, disebut-sebut mempercepat erosi. Eksploitasi lahan yang kurang memperhatikan upaya konservasi itu dikhawatirkan merusak ekologi. Tingkat erosi dan sedimentasi Dataran Tinggi Dieng telah melampaui ambang batas Amdal. Padahal, Dieng juga berfungsi sebagai "menara" air bagi sejumlah kabupaten lain di Jateng. Dieng pun menjadi penyumbang lumpur/sedimentasi yang tertinggi ke Waduk Panglima Besar Soedirman di Banjarnegara. Untuk menjaga dan melestarikan Dieng, telah berulang-ulang dilakukan reboisasi maupun gerakan penghijauan. Meski demikian, hasilnya belum menggembirakan. Saat ini dilontarkan gagasan untuk mengganti tanaman kentang ke komoditas yang nilai ekonominya setara sekaligus mampu menjaga ekosistem. Namun, bisakah gagasan itu diterima petani yang sudah telanjur mencintai kentang? Untuk meyakinkan petani, diperlukan bukti sekaligus sosialisasi yang tepat dan terus-menerus. Aktivitas pertanian kentang di Dataran Tinggi Dieng, diabadikan wartawan Suara Merdeka, Sudarman-39m. |