logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Juni 2006 KEDU & DIY
Line

Korban Bencana Gempa Bumi

Pangan Kurang Terpenuhi, Persulit yang Selamat

YOGYAKARTA - Pengalaman mencekam menyelamatkan diri dari bangunan yang runtuh, mengurusi korban yang meninggal dunia ataupun selamat dengan luka-luka yang parah, dan berhadapan dengan kerusakan fisik berat pada bangunan dan lingkungan, dapat memicu munculnya gangguan stres akut.

Gempa susulan yang akan tetap terjadi dalam beberapa minggu setelah gempa utama, ditambah dengan isu-isu tentang tsunami dan gempa susulan yang lebih besar, membuat masyarakat korban menjadi resah.

Itulah gambaran yang disampaikan oleh Koordinator Tim Crisis and Recovery Center (CRC) Fakultas Psikologi UGM, Dra Noor Rahmani MSc, ketika menyampaikan presentasi program penanganan/dampak psikologi bencana gempa bumi 27 Mei 2006 di Yogyakarta dan Jawa Tengah di kampus UGM, Jumat (16/6) siang.

Menurut staf pengajar Fakultas Psikologi UGM itu, kurangnya pemenuhan kebutuhan pokok, termasuk pangan, sandang, dan tempat tinggal, membuat situasi kehidupan semakin berat bagi mereka yang selamat.

''Dan bila tidak tertangani dengan baik pada tahap emergency dan pemulihan (rehabilitasi), masalah kesehatan mental tersebut dapat berkembang ke arah gangguan-gangguan psikologis yang lebih serius, misalnya gangguan stres pascatrauma,'' ujarnya.

Dikatakannya, secara umum langkah penanganan masalah kesehatan mental dan psikologi pascabencana dapat dibagi untuk tahap emergency, yang berlangsung sejak terjadinya bencana sampai beberapa minggu sesudahnya.

Pada tahap itu, sebagian besar dari korban secara alamiah akan mampu memulihkan diri mereka sendiri. Sementara itu, dukungan psikologis dari masyarakat luar, termasuk para relawan, akan membantu mempercepat pemulihan alamiah tersebut.

''Namun, sebagian kecil masyarakat akan mengalami persoalan-persoalan psikologis dalam jangka waktu yang lebih panjang,'' tambahnya.

Pada tahap rehabilitasi, ujar Noor Rahmani pula, upaya pemulihan status kesehatan mental dan psikologikal untuk mereka harus dijalankan secara sistematis.

Upaya pemulihan tersebut perlu dilaksanakan oleh lembaga dan tenaga-tenaga, yang memiliki kualitas profesional dalam bidang kesehatan mental dan psikososial.

Tahap selanjutnya adalah tahap pengembangan, bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan mental dan psikososial masyarakat lebih tinggi dari sebelum terjadinya bencana.

''Wujud peningkatan itu adalah kesiapan menghadapi bencana alam yang lain dan peningkatan produktivitas masyarakat, baik aspek ekonomi, politik, sosial, maupun budaya,'' demikian Dra Noor Rahmani MSc mengurai hal tersebut. (P12-39h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA