| Senin, 19 Juni 2006 | KEDU & DIY |
Pulihkan Pariwisata Butuh Rp 50 MiliarYOGYAKARTA -Gempa bumi membuat sarana dan prasarana pariwisata di Yogyakarta, hancur total. Guna membangunnya kembali dibutuhkan dana sekitar Rp 50 miliar. ''Dana itu selain untuk memperbaiki sektor-sektor yang selama ini menjadi andalan juga untuk promosi,'' kata Ketua Umum Indonesian Congress and Convention Association Iqbal Alan Abdullah kepada wartawan di Yogyakarta, kemarin. Menurut dia, kondisi kepariwisataan di Yogyakarta memang harus segera dibangkitkan kembali dengan harapan bisa pulih kembali seperti sediakala. Dengan cara, selain mengarahkan wisatawan nusantara untuk berkunjung ke Yogyakarta, juga mempromosikan kepada wisatawan mancanegara. Namun demikian, katanya, sebelumnya pendukung kepariwisataan itu harus siap terlebih dahulu, jangan sampai menghadapi kedatangan wisatawan justru kebingungan karena tidak ada sarana dan prasarana yang memadai. Pada saat sekarang ini, memang belum memungkinan. Sebab masih banyak objek wisata yang masih rusak, hotel-hotel yang belum bisa menampung wisatawan dan pendukung lainnya yang juga belum bisa melayani wisatawan secara optimal. ''Karena itu kita manfaatkan untuk berbenah,'' ujarnya. Apalagi hotel-hotel yang masih bisa digunakan saat ini, lanjut Iqbal, juga banyak digunakan untuk menginap para relawan dari luar negeri atau tamu-tamu yang berkait dengan penanganan bencana. Menurut dia untuk membangun kembali pariwisata di Yogyakarta itu, juga harus menyertakan pembangunan sektor industri kerajinan. Sebab, lanjutnya, kerajinan merupakan salah satu kekuatan penopang kepariwisataan di Yogyakarta. ''Dana untuk membangun kembali sebesar itu sudah diajukan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,'' katanya. Ia mengakui kepariwisataan di Yogyakarta mengalami kemerosotan semenjak kondisi Gunung Merapi yang semakin aktif, disusul dengan bencana gempa yang melanda di kawasan ini. ''Namun sampai saat ini belum ada pembatalan pelaksanaan kongres ataupun konvensi atau pertemuan internasional lainnya yang sedianya akan diselenggarakan di Yogyakarta. Yang ada hanya satu penundaan,'' katanya seraya menambahkan penundaan berarti hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyelenggarakan dan tidak dilakukan pemindahan lokasi. Ketua Umum Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau (Gebu Minang) Mayjen TNI Asril Hamzah Tanjung menyatakan dukungannya untuk pemulihan sektor pariwisata di Yogyakarta secepatnya. Menurut dia, Gebu Minang akan mendorong anggotanya untuk melakukan kunjungan wisata ke Yogyakarta di masa mendatang. ''Kami juga mendorong upaya untuk mengembalikan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan,'' kata Tanjung. (sgt-39) |