| Senin, 19 Juni 2006 | EKONOMI |
Iklan Media Massa Turun 40%JAKARTA-Saat ini terjadi tren pergeseran belanja iklan. Perusahaan atau pengiklan banyak mengalihkan pilihan produk iklannya dari konvensional, seperti di media massa menjadi below the line (menggelar acara dan mengikuti pameran). Langkah ini diambil, karena naiknya biaya produksi yang dipicu kenaikan harga BBM, dan dana perusahaan menjadi terbatas. Pendapat itu dilontarkan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Narga Shakri Habib dalam sebuah acara di Jakarta akhir pekan lalu. Hal senada diungkapkan praktisi iklan Indra Abidin yang mengatakan, kenaikan TDL (tarif dasar listrik) dan harga BBM berimbas pada turunnya iklan di media massa sekitar 40%. Perusahaan lebih memilih layanan public relations (PR), karena dianggap lebih efektif. Menurut dia, dampak kenaikan harga BBM yang disusul kenaikan TDL bagi industri sangat berpengaruh pada pilihan perusahaan terhadap layanan komunikasi. Sebelum kenaikan itu banyak perusahaan berkonsentrasi ke iklan. ''Sekarang banyak yang beralih ke layanan public relations (PR), sebab dinilai lebih efektif. PR mencakup berbagai kegiatan, seperti TV Program, brand activation dan brand entertainment,''jelasnya. Dia mengakui, sekarang secara global telah terjadi pergeseran dari konsep iklan konvensional ke konsep lebih modern. Tujuan utamanya bukan hanya membangun awareness, tetapi melibatkan pemirsanya atau lebih populer disebut experiential communications. Artinya, sambung dia, sekarang ini jadi komunikasi yang membangun pengalaman. Komunikasi seperti inilah yang kini efektif membuka sasaran tembak komunikasi dan akhirnya menggugah untuk mengonsumsi. Untuk mengantisipasi pergeseran ini, perlu dibangun layanan brand activation dan brand entertainment. Ia menambahkan, roda perekonomian hanya dapat bergerak jika konsumen mau mengonsumsi produk dan jasa yang melibatkan perusahaan di Indonesia. (bn-33) |