| Kamis, 15 Juni 2006 | PANTURA |
Akan Membuat Taman BacaPERISTIWA gempa bumi tektonik yang terjadi di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada awal bulan ini telah lewat. Meski demikian, peristiwa tersebut tidak pernah dilupakan oleh Subroto Trisno Karim, seorang guru SD Negeri 8, Kota Pekalongan yang mengajar bidang studi IPA. Pasalnya, beberapa hari setelah gempa terjadi ditugaskan pihak sekolah untuk menjadi salah satu relawan yang membantu korban gempa. ''Sesampai di lokasi gempa, hati saya menjadi terenyuh. Puing-puing rumah yang hancur akibat gempa masih jelas terlihat di depan mata,'' kenang Broto, begitu dia sering dipanggil, kepada Suara Merdeka, kemarin. Pemilik sanggar badut ''Pak Broto'' itu mengungkapkan, yang membuat dirinya semakin nggregel tatkala melihat korban bergerombol menjadi satu di tenda pengungsian. Mereka berpakaian dan makan dari hasil sumbangan para donatur. Anak-anak yang akan mengikuti ujian akhir pun belajar di tempat itu. ''Saya kasihan dengan mereka. Dalam situasi yang ramai ternyata harus memaksakan belajar untuk menghadapi ujian,'' tandas dia. Melihat kondisi seperti itu, dia merencanakan membuat sebuah taman bacaan bagi anak-anak korban gempa di tempat itu. Kebetulan ketika berada di lokasi gempa, lanjut dia, bertemu dengan Yessy Gusman dan Garin Nugroho, artis dan sutradara terkenal asal ibu kota. Saat bertemu, dia menyampaikan rencana tersebut kepada mereka dan akhir pekan ini akan direalisasikan. Ayah Adi, Diki, dan Rafi itu menjelaskan, dengan adanya taman bacaan tersebut diharapkan bisa menghibur para korban, khususnya anak-anak. Di samping itu juga dapat membuat mereka tidak jenuh menghadapi peristiwa yang baru saja menimpanya. Lebih jauh Subroto menuturkan, pengalaman yang tak akan dilupakannya ketika berada di lokasi bencana yaitu merasakan sendiri adanya goncangan dari dalam bumi. Pada saat membantu para korban bersama sukarelawan lainnya, di tempat itu kembali terjadi gempa. Meskipun tidak terlalu kuat dan lama, hal itu sempat membuat suasananya menjadi geger. Seluruh orang yang ada di dalam tenda berhamburan keluar ke tempat aman untuk menyelamatkan diri. ''Mungkin mereka masih trauma dengan peristiwa sebelumnya,'' papar dia. Ditambahkan dia, selain menjadi sukarelawan, di Kota Pekalongan juga menghimpun dana untuk membantu korban bencana. Dengan mengenakan pakaian badut Broto berkeliling di sudut kota sambil membawa kotak amal. Selain itu, bersama harian Suara Merdeka dan kalangan masyarakat lainnya juga menggelar konser amal peduli Yogyakarta. ''Hanya cara seperti yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara kami yang sedang tertimpa bencana,'' tandas dia. (Moch Achid Nugroho-54) |