logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 15 Juni 2006 OLAHRAGA
Line

Achtung!

Ramai-ramai Jadi Komentator

MUSIM Piala Dunia 2006 membuka peluang para mantan pemain sepak bola untuk menambah penda-patan. Beberapa eks bintang disewa sebagai komentator media cetak dan elektronik. Ada yang bersifat tetap, ada yang insidentil. Rudi Voeller, bekas pelatih tim nasional (timnas) Jerman, dan Christoph Daum (kini coach Fenerbahce) menjadi pengamat tetap di televisi Jerman.

Sementara Ian Rush, mantan striker Liverpool, dipercaya sebagai komentator saluran televisi Euro Sport. Bekas bintang Bayern Munich, Mario Basler, juga punya kegiatan ekstra sebagai penganalisis majalah khusus edisi WM 2006. Komentar-komentar mereka kadang-kadang dijadikan panutan para petaruh yang semakin marak selama Germany 2006.

Voeller, Daum dan Basler tetap berharap negaranya memenangi Piala Dunia untuk kali keempat. Rush, yang semasa jaya pernah meraih Sepatu Emas di level Eropa, menempatkan Inggris sebagai salah satu favorit juara. (A7-22)

Kursus Bahasa demi Kuliah

NAMANYA Awat dari Cicaheum, Bandung. Demi melanjutkan kuliah di Jerman, gadis lulusan SMA ini harus mengambil kursus bahasa Jerman. Meski sudah satu setengah tahun tinggal di Frankfurt, ternyata dia belum mahir menguasai bahasa Deutschland. Padahal, kursus yang diambilnya membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Sembari menyelesaikan kursus, dia bekerja di kafe untuk menambah penghasilan. Awat juga tak malu-malu menjadi tukang bersih-bersih rumah warga Indonesia di sekitar Frankfurt. "Saya punya kakak yang kerja di Konjen RI di Frankfurt, namun saya nggak mau ketika diminta kerja di situ. Nggak enaklah, nanti dikira nepotisme," tegasnya dalam logat Bandung yang kental. (A7-22)

Mahal Jadi Kata Favorit

KELUHAN wartawan peliput asal Indonesia tentang Jerman tampaknya banyak kesamaan. Kata yang sering terdengar adalah "mahal". Ya, mau makan nasi goreng saja harus merogoh kocek 4 euro (sekitar 48.000).

Hot dog yang merupakan makanan favorit di Jerman, juga terasa tak murah. Satu hot dog dihargai 3 euro (sekitar Rp 36.000). Untuk menghemat biaya, para jurnalis dari Indonesia sengaja membawa persediaan dari Tanah Air. Ada yang membawa mi instan, abon, dendeng dan ikan asin. Sementara beras dan telur terpaksa beli di Jerman karena takut kelebihan beban. Satu kg beras Thailand sekitar Rp 10.000, sedangkan 10 butir telur berharga 2 euro (Rp 24.000).

"Supaya kondisi finansial terjaga sebaiknya kita memasak sendiri. Untuk cuci piring digilir bergantian," kata Ferry, salah seorang wartawan dari Jakarta. (A7-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA